Foto ytb

Ustaz Haikal Hassan menyebut jumlah pelaku pembakaran bendera adalah sebanyak 12 orang anggota Banser NU Garut.

Hal tersebut diungkapkan Ustaz Haikal Hassan dalam tausiah yang diunggah Channel TQ Salam pada Jumat (26/10/2018).

Dalam rekaman video tersebut, Ustaz Haikal mengaku bertemu langsung dengan para pelaku pembakaran.

Ustaz Haikal Hassan pun bertanya langsung kepada para pelaku pembakaran.

Ketiganya bernama Faisal, Muhidin dan Aziz.

Inilah beritanya.

***

Ustaz Haikal Hassan Interogasi Pelaku Pembakaran Bendera Tauhid di Garut

USTAZ Haikal Hassan mengunggah sejumlah fakta terkait kasus bendera‘>pembakaran benderatauhid yang dilakukan oleh Anggota Barisan Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) dalam perayaan Hari Santri Nasional di Lapangan Alun-Alun Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada Senin (22/10/2018) lalu.

Fakta tersebut meliputi jumlah pelaku pembakaran serta kronologis kejadian sebelum bendera Ar Royah itu dibakar.

Fakta pertama adalah jumlah pelaku pembakaran bendera yang disebut pihak Kepolisian sebanyak tiga orang.

Ustaz Haikal Hassan menyebut jumlah pelaku  pembakaran bendera adalah sebanyak 12 orang anggota Banser NU Garut.

Hal tersebut diungkapkan Ustaz Haikal Hassan dalam tausiah yang diunggah Channel TQ Salam pada Jumat (26/10/2018).

Dalam rekaman video tersebut, Ustaz Haikal mengaku bertemu langsung dengan para pelaku pembakaran.

Ceramah Ustaz Haikal

Mereka katanya sangat takut, berbeda ketika saat membakar bendera Ar Royah dan memngenakan seragam loreng Banser NU.

Ketika bertemu dengannya, para pelaku katanya membungkuk sembari melipat tangan.

“Jangan lupa, saya bocorin satu lagi satu (fakta). Bukan tiga yang bakar, dua belas orang, saudara. Galak pada waktu bakar, pada waktu ketemu saya gini,” ungkapnya menirukan gestur para pelaku pembakaran yang menunduk ketakutan.

Ustaz Haikal Hassan pun bertanya langsung kepada para pelaku pembakaran.

Ketiganya bernama Faisal, Muhidin dan Aziz.

Serupa dengan gaya jenakanya ketika memberi tausiah, Ustaz Haikal Hassan mengulas kembali perjumpaannya dengan ketiga pelaku pembakaran Ar Royah.

“Iye ustaz’, ‘Kamu siapa namanya?’, ‘Faisal’. Kamu?.. Mukidi, eh Mukidi, Muhidin-Muhidin,” celoteh Ustaz Haikal Hassan memancing tawa jemaahnya.

“Kamu Siapa?’, ‘Aziz’. ‘Kenapa kamu bakar?’, ‘karena pimpinan kami menyuruh tidak boleh bendera lain selain bendera merah putih, jadi itu kami bakar inisiatif kami sendiri’. ‘Kamu menyesal?’, ‘menyesal Ustaz’,” cerita Ustaz Haikal Hassan.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Haikal Hassan mengungkap fakta jika tidak ada bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) seperti yang disebutkan oleh pipimpinan Banser NU ataupun pihak Kepolisian.

Bendera yang dibakar diketahui adalah bender Ar Royah, bendera Nabi Muhammad SAW.

“Kamu tahu apa yang kamu lakukan ini bersalah?, ‘iya ustaz’. Dan Saya pancing, ‘Mustinya kamu gi=unting dulu bendera HTI-nya, baru kamu bakar yang itu, yang lain kamu lipat’. ‘Nggak ustaz, nggak ada benderaHTI’. Haaaa,” ujarnya.

MUI kecewa

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain kecewa dengan aparat Kepolisian.

Pasalnya, walau sejumlah pelaku  pembakaran bendera telah diketahui identitasnya, anggota Banser NU tersebut tidak satu pun ditanggap dan menjalani proses hukum.

Pihak Kepolisian justru tengah memburu dan hendak menangkap pelaku yang membawa bendera Ar Royah dalam perayaan Hari Santri Nasional di Lapangan Alun-Alun Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada Senin (22/10/2018) lalu.

“Anggota Banser Bakar Bendera Tauhid. Saya Mau Tanya Banser Itu TNI Kah…? atau Polri Kah…? Kok Kayaknya Kuasa Sekali…? Polisi Tdk Tangkap Pembakar Bendera krn Tdk Ketemu Niat Jahat, terus Pembawa Bendera Ditangkap? Apa Niatnya Jahat Kah? Besok Saya Mau Bawa Bendera Itu!” ungkap Ustaz Zulkarnain lewat akun @ustadtengkuzul pada Jumat (26/10/2018).

Seperti diketahui sebelumnya, dikutuip dari Tribun Jabar, Polda Jawa Barat belum menetapkan dua pembakar bendera di upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Kecamatan Limbangan, Kab‎upaten Garut sebagai tersangka kasus penistaan agama karena membakar bendera berlafaz tauhid.

Direktur Ditreskrimu Polda Jabar, Kombes Umar Surya Fana menjelaskan, alasan belum ada penetapan tersangka terhadap pembakar benera karena pada penyelidikan tahap awal terhadap dua orang itu, polisi belum menemukan niat berbuat pidana.

“Niat dua anggota Banser ini membekar bendera karena mereka tahunya bahwa bendera itu adalah bendera HTI. Dalam rapat persiapan upacara peringatan HSN, sudah disepakati bahwa bendera yang boleh dibawa hanya bendera merah putih. Namun faktanya, ada soerang pria yang membawa benderatersebut,” ujar Umar di Mapolda Jabar, Rabu (24/10/2018).

“Si pembakar bendera masih saksi, karena pemeriksaan pada mereka, belum ditemukan mens rea atau niat jahat membakar bendera itu dilandasi kebencian pada yang tertulis di bendera. (untuk penistaan agama). Niat mereka membakar bendera itu karena mereka tahu bendera itu bendera HTI, ormas yang dilarang dan sudah dibubarkan pemerintah, tidak ada niat lain,” ‎ujar Umar.

Lantas, siapa yang bisa dijerat pidana dalam kasus itu? Umar menjelaskan, ada kemungkinan polisi menerapkan Pasal 174 KUH Pidana tentang menganggu rapat umum yang tidak terlarang.

Untuk menerapkan pasal itu, polisi harus terlebih dulu mengamankan dan memeriksa si pembawa bendera. (dwi)/ http://wartakota.tribunnews.com/

***

Pakar Hukum: Pelaku Pembakar Bendera Lapadz Tauhid di Garut Seharusnya Jadi Tersangka

Jakarta – Pakar hukum pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Fadjar mengatakan seharusnya tiga anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) yang membakar bendera di Garut, Jawa Barat, juga ditetapkan sebagai tersangka. Menurut Fickar, jika pembawa bendera saja ditetapkan menjadi tersangka, maka pembakar bendera juga semestinya dijadikan tersangka.

“Justru pelaku pembakaran itu yang sebenarnya menimbulkan kegaduhan yang meluas alias mengganggu ketertiban umum masyarakat dalam arti luas,” ujar Fickar saat dihubungi Tempo pada Sabtu, 27 Oktober 2018

Fickar mengatakan penegak hukum harus bertindak adil, tidak diskriminatif, dan selain menggunakan logika hukum juga harus menggunakan logika akal sehat. Jika hanya pembawa bendera yang dijerat hukum justru menjadi tidak adil. “Jangan salahkan masyarakat jika beranggapan tindakan itu sebagai tindakan politis,” ujar dia./ bakinupdate.com,- 27 Oktober

***

Pakar Pidana: Kalimat Tauhid Dilindungi Norma Hukum, Tindakan Membakarnya Terkena Delik Penghinaan Agama

Harus berhati-hati bila di bendera itu ada tulisan kalimat ‘tauhidnya’, tandas Pakar Hukum Pidana Prof DR Mudzakkir.

Dikatakannya, kalimat tauhid itu adalah kalimat yang ‘netral dan suci’. Kalimat ini berlaku umum karena diyakni semua umat Islam sebagai bagian asasi ajaran agamanya. Maka apa pun adanya, keberadaan kalimat tauhid itu harus dihormati karena dilindungi aturan norma hukum. Konsekuensinya bila ada pihak yang membakar, merobek, hingga merusaknya, maka dapat punya arti sebagai tindakan penghinaan terhadap sebuah ajaran agama.

”Nah, kalau toh itu dianggap bendera HTI, maka seharusnya bila ada tulisan organisasi yang dinyatakan terlarang ini tulisannya dipotong saja. Sedangkan, kain yang ada tulisan kalimat tauhidnya tidak ikut dibakar melainkan dilipat dengan baik. Setelah itu kemudian diserahkan kepada pihak yang berwajib, yakni penegak hukum. Ingat kalau kalimat tauhid itu ikut dibakar, maka bisa berakibat hukum yang lain, yakni terkait soal aturan hukum atau delik penghinaan agama,” tegas Mudzakkir.

”Lagi pula dari dahulu seusai pengadilan HTI sudah ada  penegasan dari pihak Kementerian Dalam Negri (Kemendagri) bila bendera tauhid itu tak dilarang. Yang dilarang dikibarkan adalah benderanya HTI,” jelasnya.

”Justru, dengan digelarnya pengadilan atas kasus pembakaran bendera itu, maka semua pihak terpuaskan dan merasa mendapatkan keadilan. Sebab, bila tak sampai di depan pengadilan itu malah hanya memunculkan kegeraman atau rasa ketidakadilan. Biarlah sidang pengadilan yang menentukan putusannya. Ini juga untuk menjunjung tinggi asas Indonesia sebagai negara hukum,” kata Mudzakkir kepada Republika.co.id (25/10).

Mudzakkir mengatakan, terasa aneh bila polisi malah melepaskan pelaku pembakaran bendera karena dengan alasan melakukan tindakan yang tidak sengaja. Uniknya kemudian, malah pihak lain yakni pelaku pembuat video dan pengunggah ke dunia maya atas perbuatan pembakaran bendera itu yang kini lagi dicari oleh penegak hukum./ rpblikaonline

***

Komisi Hukum MUI Pertanyakan “Tidak Ada Niat Jahat” pada Pembakaran Bendera Tauhid

“Mereka itu melakukan pembakaran dengan sengaja dan mempertontonkan dengan sorak-sorai bergembira dengan gagahnya. Ini dengan sengaja. Tidak mungkin dengan tidak sengaja. Dengan maksud yang jelas. Jadi kalau dibilang mens rea-nya tidak ada, saya juga bingung,” ujar Abdul Chair Ramadhan

Jakarta, — Gelar perkara polisi yang menyimpulkan tiga anggota Banser NU Garut, Jawa Barat yang membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid tidak melakukan pidana karena tidak ada niat jahat alias mens rea dipertanyakan.

Dilansir dari rmol.co, Anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Abdul Chair Ramadhan menjelaskan, niat seseorang hanya bisa diketahui oleh pelaku dan Tuhan.

Makanya, sangat tidak mungkin pihak kepolisian mampu membuktikan bahwa seseorang tidak memiliki niat jahat atau tidak.

“Bagaimana membuktikan niat. Niat itu urusan Allah. Tidak ada yang tahu. Apakah polisi sudah jadi malaikat?” kata dia dalam diskusi bertajuk “Membakar Bendera Tauhid, Penghinaan Terhadap Islam?” di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (25/10).

Meski diakuinya sangat sulit membuktikan niat seseorang dalam melakukan perbuatan jahat, mens rea masih bisa dinilai secara objektif.

Misalkan dengan melihat unsur kesengajaan pelaku dalam merekam dan mempertontonkan aksi mereka di depan publik.

“Mereka itu yang melakukan pembakaran dengan sengaja dan mempertontonkan dengan sorak-sorai bergembira dengan gagahnya. Ini dengan sengaja. Tidak mungkin dengan tidak sengaja. Dengan maksud yang jelas. Jadi kalau dibilang mens rea-nya tidak ada, saya juga bingung,” ujarnya./ detikriau.org  25 Oktober 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 559 kali, 1 untuk hari ini)