(Jika Anda Muslim, Silakan Sebarkan)

oleh Sudirman El Batamy pada 11 November 2011 pukul 5:22 ·

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اشهد ان لااله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله

Saya Sudirman alias Sudirman El Batamy, dalam keadaan sadar dan tanpa pengaruh atau paksaan dari seorang manusia, sebagai seorang muslim menjelaskan apa-apa yang saya ketahui dari apa-apa yang telah saya alami.

Adapun hal-hal yang saya tuangkan dalam tulisan ini hanya berkisar apa-apa yang pernah saya lihat, saya dengar dan saya alami, karena itu saya tidak akan menceritakan apa yang saya lupa. Hal ini bagi melanjutkan himbauan terbuka saya sebelumnya kepada kaum muslimin, dengan tidak bermaksud untuk mencari ketenaran belaka.

Singkatnya, pada malam Sabtu dan Minggu, tanggal 23 dan 24 Juli 2011, saya telah mengikuti pengajian dan ritual yang diselenggarakan oleh sebuah perkumpulan yang dinamai ‘Misykatul Anwar’ yang diasuh oleh seorang mursyid bernama Rachmat Hidayat alias Syeh Syarif Hidayat Muhammad Tasdiq, bertempat di kediaman seorang yang disebut H. Darmanto yang berlokasi di Baloi Centre Batam.

Kegiatan tersebut sebenarnya dimulai pada malam Jum’at, namun karena berhalangan, saya baru bisa hadir pada malam Sabtu. Pada malam Sabtu diadakan pengajian lanjutan dari malam Jum’at. Pengajian tersebut seperti biasa saja, dilengkapi multimedia dengan penggunaan laptop dan infokus. Pengajian tersebut menjelaskan tentang ayat-ayat Al-Qur’an dan dikolaborasikan dengan hadits-hadits serta ayat-ayat dari kitab agama lain.

Adapun beberapa hal yang saya ingat dari pengajian tersebut diantaranya adalah penegasan kepada jama’ah yang hadir untuk menjauhi ‘zina’. Kemudian, yang saya anggap menjadi doktrin inti pada kegiatan selama tiga hari tersebut adalah tentang hakikat ‘mengingat Allah’, yang diawali dengan sebuah pertanyaan, ‘Apakah yang anda ingat ketika sholat?’, lalu setiap muslim pasti akan menjawab ‘Allah’. Lantas ditanya lagi, ‘Bagaimana anda bisa mengingat Allah sementara anda tidak pernah bertemu dan melihat-Nya?’, maka siapapun secara spontan akan terdiam sejenak. Akan tetapi pertanyaan tersebut telah diberi solusi dengan sebuah pernyataan bahwa untuk bertemu atau melihat Allah, anda harus mengikuti sebuah ritual yang disebut ‘TAWAJJUH’ pada esok malamnya yaitu malam Minggu.

Keesokan harinya, saya datang lagi dengan membawa sedikit yang dipersyaratkan, yaitu membawa beras seberat 3 (tiga) kilogram dan pakaian putih-putih. Namun pada akhirnya beras itu saya beli di sekitar lokasi dan pakaian serba putih pun dipinjamkan kepada saya, sebuah baju dan celana putih.

Pada malam Minggu itu pengajian kembali dilanjutkan mengenai ayat-ayat Al-Qur’an yang pada umumnya ayat-ayat ‘mutasyabihat’, sampai sekitar jam 11, selanjutnya peserta yang berjumlah sekitar 30-an orang beristirahat dan tidur. Pada sekitar jam 01.00 dini hari, para peserta dibangunkan untuk memulai ritual ‘TAWAJJUH’ tersebut, yang diawali dengan melakukan mandi taubat, seterusnya melaksanakan solat sunat dua rakaat dan kemudian duduk berzikir menunggu panggilan untuk ‘TAWAJJUH’ di ruangan khusus.

Pelaksanaan ‘TAWAJJUH’ tersebut dilakukan secara berkelompok, seingat saya, ketika saya dipanggil, saya masuk ke ruangan bersama 6 orang lainnya. Lalu kami duduk diatas kursi yang berbaris dua, saya duduk di barisan kedua. Pada saat itu saya lihat dengan jelas kursi di depan saya dilapisi kain putih, sementara dibawah kursi tersebut tepatnya diatas lantai, ada sekantong beras, begitu juga dengan kursi lainnya. Saya tidak tahu menahu tentang hal kain putih dan beras tersebut sampai saat ini.

Ritual ‘TAWAJJUH’ dimulai dengan ‘bai’at’. Maka apa yang telah saya tulis sebelum paragraph ini dan seterusnya sesungguhnya telah termasuk kategori apa yang telah saya ‘bai’at-kan’ dan menjadi rahasia saya. Maka saya pada saat ini juga telah melakukan pelanggaran sumpah yang pada saat bersumpah atau ber-bai’at tersebut ada kata, ‘DEMI ALLAH’.

Suasana ruangan yang pada awalnya terlihat tegang kemudian menjadi santai. Di hadapan kami telah duduk seorang mursyid yaitu Bapak Rachmat Hidayat dan asistennya, ada juga beberapa asisten yang berdiri. Perawakan Pak Rachmat Hidayat adalah orang yang manis rupawan, beliau juga supel dan ramah. Ruangan tersebut terang benderang seperti biasa, lampu tidak dimatikan.

Beberapa poin yang saya ingat sebelum praktek ‘TAWAJJUH’ adalah sebagai berikut:

  • Mursyid bertanya, ‘Qolbu itu ada dimana?’, lantas secara spontan ada yang menjawab, ‘di hati’, saya juga menjawab demikian seraya menyentuh dada saya dengan telapak tangan saya.
  • Mursyid berkata, ‘Itu salah, qolbu itu ada di kepala, Allah itu ada di ‘Baitullah’ yaitu qolbu dan qolbu itu ada di kepala’. Begitulah lebih kurang ringkasnya.
  • Mursyid bertanya, ‘Dimana kepala?’, maka kami pun menyentuh kepala kami dengan tangan. Kemudian sang mursyid bangun dari tempat duduknya, lalu menyentuh kepala (atau mungkin saya boleh katakan ‘dengan pukulan yang paling ringan’) peserta satu per satu, sebagai isyarat penegasan tentang dimana kepala itu, saya tidak tahu maksudnya apa.
  • Mursyid bertanya, ‘Apakah kalian benar2 mau bertemu Allah?’, semua peserta menjawab, ‘mau’.
  • Mursyid menjelaskan bahwa untuk bertemu Allah kita harus menutup 7 lubang atau pintu yang ada di kepala, yaitu 2 telinga, 2 mata, 2 lubang hidung dan 1 mulut, dengan 10 jari tangan kanan dan kiri, sembari menjumlahkan 10 + 7 = 17, sebagai simbolisasi 17 rakaat sholat sehari semalam.
  • Kemudian mursyid menyuruh kami mengangkat kedua tangan kami sedada dan mengulurkan lurus ke depan, kemudian sang mursyid kembali bangun sambil menyentuh tangan-tangan kami satu persatu dengan mengatakan ‘ini tangan’, seperti mengajarkan seorang balita. Lagi-lagi saya tidak tahu apa maksudnya.
  • Proses ritual ‘TAWAJJUH’ pun dimulai dengan menutup 7 lubang di kepala tadi. Sang mursyid dan salah seorang asisten mursyid mencontohkan. Saya lihat dengan jelas, salah seorang peserta wanita dewasa yang saat itu sedang memakai mukenah, disuruh membuka mukenahnya oleh sang mursyid dan kelihatanlah rambutnya, di hadapan sang mursyid yang hanya berjarak lebih kurang 2 meter. Sebelum menutup 2 lubang hidung, para peserta menarik nafas dan kemudian menahannya selama proses ‘TAWAJJUH’ tersebut sebisanya. Dalam keadaan menutup 7 lubang dan menahan nafas itulah inti proses ‘TAWAJJUH’. Pada keadaan itulah akan tampak cahaya yang bersinar-sinar.
  • Lalu peserta ditanya, ‘Sudah lihat?’, ‘Sudah lihat cahaya itu?’. Para peserta pun termasuk saya lantas mengiyakan. Maka sang mursyid pun mengatakan, ‘Itulah Allah, itulah Tuhan kamu’, dikatakan pula, ‘itulah jatidirimu’. Lalu didoktrinkanlah supaya mengingat cahaya itu ketika sholat, serta melakukan ritual ‘TAWAJJUH’ tersebut setelah sholat. Belakangan ritual tersebut juga diistilahkan sebagai ‘MI’RAJ’.
  • Sampai disini selesailah ritual tersebut. Peserta lalu keluar ruangan menuju ruang tempat pengajian, lalu disana kembali berlatih melakukan ritual tersebut dibimbing oleh para asisten mursyid.
  • Acara tersebut berakhir pula menjelang sholat Subuh. Sholat Subuh dilakukan secara berjamaa’ah. Setelah itu dilanjutkan dengan beramah tamah sampai pada akhirnya saya pulang sekitar jam 7 atau 8 pagi.

Demikian testimoni saya buat apa adanya. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Dan jika Allah telah menyesatkan seseorang yang memilih kesesatan, maka tiadalah orang yang dapat memberinya petunjuk.

Batam, 10 November 2011

Sudirman alias Sudirman El Batamy

CATATAN:

  1. Testimoni ini saya buat sebagai kelanjutan himbauan saya sebelumnya yang belum menjelaskan tentang proses ritual ‘TAWAJJUH’.
  2. Dalam hal ini saya belum sampai pada kesimpulan untuk menyatakan bahwa perkumpulan Misykatul Anwar tersebut adalah perkumpulan SESAT secara mutlak.
  3. Sepanjang pengetahuan saya pribadi yang masih banyak kekurangan dalam segala hal khususnya ilmu agama, dan sepanjang yang telah saya alami sendiri dari kegiatan sebagaimana saya tuangkan diatas, maka saya sendiri atas nama diri sendiri telah berkesimpulan untuk diri saya sendiri bahwa khusus ritual yang dinamakan ‘TAWAJJUH’ tersebut adalah ritual yang ‘MENYESATKAN’.
  4. Kepada kaum muslimin khususnya Bapak Rachmat Hidayat dan seluruh jama’ah Misykatul Anwar, saya persilakan anda untuk mendoakan supaya saya dikutuk oleh ALLAH SWT, apabila segala hal yang saya tuliskan ini adalah DUSTA BELAKA.
  5. Dan oleh karena itu saya bertobat kepada Allah SWT atas apa yang saya tulis ini, baik bilamana BENAR adanya, lebih-lebih jika memang hanya DUSTA BELAKA.
  6. Dan oleh karena keyakinan saya sendiri sebagai muslim akan KEBATILAN ritual TAWAJJUH tersebut, maka saya menghimbau kepada Bapak Rachmat Hidayat beserta seluruh pengikutnya untuk segera BERTAUBAT.

Sudirman El Batamy pada 11 November 2011 pukul 5:22 ·

***

Sudirman El Batamy_FB_83242376243

Sudirman El Batamy dari catatan saya sebelumnya ..

KH. RAHMAT HIDAYAT

Beliau adalah guru besar Misykatul Anwar. Pihak MUI Kota Batam telah mengundang beliau untuk ber-tabayyun, agar beliau memberikan penjelasan tentang ritual tawajjuh tersebut. Memanfaatkan kehadiran beliau pada tanggal 2-3 Agustus 2012 lalu dalam rangka memperingati Nuzulul Qur’an. Pada tanggal 2 Agustus, karena pesawat yang beliau tumpangi mengalami delay, ahirnya pertemuan disepakati pada jam 8 pagi Jum’at. Melalui telpon pihak Misykatul Anwar Batam meminta agar pertemuan tersebut terbatas saja (tanpa kehadiran saya), mereka juga meminta jaminan keamanan. Pertemuan tersebut sedianya akan dilaksanakan di Masjid Agung Batam. Beberapa saat setelah lewat jam 9 pagi, pihak MA melalui telpon lalu menunda pertemuan, sehingga disepakati pertemuan diadakan setelah solat Jum’at, dengan alasan supaya waktu memadai. Namun setelah solat Jum’at, Pak Rahmat dikabarkan telah berangkat ke Singapura. (sumber: MUI Batam)

18 Februari pukul 5:31

http://www.facebook.com/notes/sudirman-el-batamy/testimoni-tentang-kesesatan-ajaran-ritual-tawajjuh-misykatul-anwar-jika-anda-mus/10150348811676020

(nahimunkar.com)

(Dibaca 11.228 kali, 4 untuk hari ini)