Untuk itu Anda perlu hati-hati.

  1. Hati-hati Terhadap Penggunaan Gadget, Elektronik dan Radiasi Sinyal
    Waspadai penggunaan peralatan tehnologi dan Gadget dalam keseharian Anda. Kebiasaan membawa Ponsel smartphone android dan iphone di saku celana, meletakkan laptop dipangkuan Anda saat bekerja dapat menyebabkan menurunnya kualitas sperma Anda. Panas dari laptop (jika Anda meletakkannya di pangkuan Anda) bisa menyebabkan kerusakan tidak hanya untuk sperma Anda, tetapi menurunkan kemampuan ereksi Anda juga. Jadi jauhkan peralatan tehnologi dan gadget dari daerah genital Anda agar ereksi Anda tidak terganggu.
  2. Biasakan Anda Sikat Gigi ya
    Sikat gigi Anda! Ya benar, Para ilmuwan telah menemukan korelasi langsung antara penyakit gusi dan disfungsi ereksi. Karena penyakit gusi dikaitkan dengan masalah jantung dan dapat mengacaukan aliran darah. Kebersihan gigi dapat meningkatkan ereksi agar lebih kuat tahan lama./ (ini hasil copas belaka).

***

Tetap Menikmati Jima’  di Usia 60 Tahun, Ini Caranya

Banyak orang percaya bahwa ketika pria sudah mulai terganggu masalah ereksi atau sebaliknya wanita terkendala menopause, kehidupan jima’  akan mulai menurun. dr. Nugroho Setiawan, MS, SpAnd, membantah anggapan ini.

Androlog dari Rumah Sakit Fatmawati ini justru menyatakan bahwa pasangan tetap dapat menikmati jima’  yang menyenangkan, tanpa dihantui oleh pertambahan usia. “Banyak pasien saya, tetap mampu memenuhi kuota jima’  mereka tiga kali seminggu, meski usia sudah melewati 60 tahun. Kenapa tidak?”

Faktor penghambat kenikmatan bercinta justru datang dari masalah kesehatan. “Pokok persoalannya adalah kesehatan. Sekalipun usia sudah menua bisa saja merasakan sex yang menyenangkan, asal derajat kesehatan baik fisik maupun psikis senantiasa prima,” ujarnya.

Selain itu, gangguan psikis juga dapat mengurangi gairah melakukan jima’ . “Misalnya trauma akibat kekerasan jima’ ual di masa lalu, bahkan hubungan dengan pasangan yang tidak enak dan nyaman seringkali membuat hubungan intim berikutnya menjadi tidak nikmat lagi. Gairah pun meredup,” ujar Nugroho.

Harus Bugar

Dalam kehidupan manusia, memang terdapat usia yang disebut sebagai masa kehidupan puncak atau usia optimal. Kondisi seperti ini biasanya dijumpai pada usia antara 25 – 30 tahun. Setelahnya, bisa dipastikan kondisi kesehatannya secara berangsur-angsur akan menurun, atau lebih buruk dibanding saat 30 tahun. Penurunannya bisa cepat atau lambat, tergantung pada bagaimana individu tersebut mengelola kesehatannya.

“Banyak orang yang penurunan derajat kesehatannya demikian lambat sehingga tidak merasakan ada gangguan pada saat jima’ dengan pasangan. Meski usia sudah melewati 50 tahun tidak dirasakan sebagai hambatan, hubungan seks tetap exciting karena tertutupi oleh pengalaman-pengalaman yang menyenangkan,” ulas Nugroho.

Sebaliknya, bagi orang yang sering begadang, merokok, kurang olahraga, kondisi kesehatan fisik ikut lebih cepat menurun. “Sudah bisa ditebak, sebelum usia 50 tahun pun, kalau kondisi tersebut terus dibiarkan dan tanpa pemberian hormone replacement , pasti kondisinya merosot jauh di bawah usia optimal.”

Padahal kondisi fisik yang sehat dan bugar, terutama untuk fungsi melakukan jima’ , akan membuat seseorang bisa mencapai jima’  yang menyenangkan. Dalam hal ini, kondisi hormon maupun aliran darah juga harus lancar. “Yang tidak kalah penting adalah persoalan kebugaran tubuh. Seseorang yang sehat, namun sering begadang, kelelahan, pada akhirnya turut andil mengganggu aktifitas jima’  yang menyenangkan,” tambahnya.

Kualitas Ereksi

Kemajuan teknologi kedokteran yang disebut anti-aging (anti penuaan) menjadi kabar baik bagi mereka yang berusia di atas 60 tahun. Saat ini, bukan hal yang mustahil bagi mereka yang berusia di atas 60 tahun untuk tetap mampu menikmati kehidupan jima’  yang nyaman seperti layaknya usia 30 tahun.

“Kalau senantiasa mendapatkan pengobatan yang diperlukan, tidak memiliki pengalaman jima’  yang buruk, maka biasanya kehidupan jima’  juga tetap tokcer,” imbuhnya.Oleh sebab itu, Nugroho menyayangkan anggapan sebagian orang bahwa pertambahan usia berbanding lurus dengan kekerasan ereksi.

Kekerasan ereksi yang dimaksud didasarkan Nugroho pada EHS (Erection Hardness Score ). Untuk mencapai hubungan suami-istri yang menyenangkan kedua belah pihak, EHS harus mencapai nilai 4 atau diibaratkan sekeras mentimun. Nilai ini banyak dilaporkan oleh pasangan usia 20 – 30 tahun. Selanjutnya, pada usia di atas 40, didapat nilai 3. Di mana ereksi mengeras tapi masih bisa meliuk-liuk.

Pada usia 50 – 60 tahun, ereksi biasanya mengeras tetapi sulit penetrasi sehingga aktifitas jima’  tidak lagi memuaskan pasangan. Sedangkan pada usia 60 tahun ke atas penis membesar, namun tetap lembek. “Alhasil pengalaman jima’  menyenangkan sudah menjadi kenangan yang lama saja,” ujar Nugroho.

Sembuhkan Dulu

Lantas apa yang harus dilakukan jika kualitas ereksi sudah menurun? Nugroho menganjurkan, lebih baik aktifitas jima’  tidak dilanjutkan. “Kalau dilanjutkan sudah pasti tidak menyenangkan bagi pasangan. Saya anjurkan, lebih baik menunda dulu aktifitas jima’  dan mencari perawatan dokter, sampai akhirnya ereksinya tokcer kembali,” katanya.

Saran Nugroho ini didasari fakta bahwa kekerasan ereksi yang mulai menurun adalah tanda peringatan adanya masalah kesehatan. Ketika ereksinya tidak keras berarti pembuluh darah di penis tidak sepenuhnya diisi oleh darah. Bisa jadi masalah ini adalah dampak penyakit pencetus yang mungkin sudah mengancam. Sebut saja kegemukan, kardiovaskuler, diabetes, dan sebagainya. Alangkah baiknya, lanjut Nugroho, jika penyakit yang sudah ada disembuhkan terlebih dulu.

Di sisi lain, penyakit pencetus tadi bisa dihindari datangnya bila sejak dini. Caranya, antara lain dengan pemeriksaan kesehatan secara rutin, terutama kalau usia sudah memasuki usia 40 tahun. Tidak kalah penting adalah menghindari gaya hidup yang buruk, seperti begadang, merokok, dan sebagainya.

“Senantiasa bijak mengelola waktu antara pekerjaan dan kegiatan lainnya, akan membuat alam pikiran lebih rileks yang secara langsung membawa manfaat kepada kualitas jima’  lebih menyenangkan,” jelas Nugroho. Melakukan olahraga secara teratur dan terukur juga tak kalah penting karena akan membuat kekerasan ereksi yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang jarang olahraga.

Penurunan Kadar Estrogen

Setali tiga uang dengan wanita. Pada usia berapa pun, menjaga agar kehidupan jima’  tetap bergairah dan meletup-letup adalah hal yang penting untuk setiap wanita. “Lakukan jima’  secara teratur tapi jangan menjadi rutin. Hindari hal-hal yang sama, buatlah eksperimen agar jima’ tidak membosankan,” sarannya.

Namun, saat Anda berdua memasuki usia 40 – 50 tahun, keluhannya akan lebih “komplet” lagi akibat penurunan kadar hormon estrogen. Padalah di usia produktif, hormon estrogen akan melindungi wanita dari berbagai penyakit, seperti jantung dan pembuluh darah, osteoporosis, gangguan imunitas tubuh, dan sebagainya

Nah, begitu memasuki masa menopause maka berbagai gangguan seperti dinding vagina kering, gangguan emosional, dan sebagainya, akan hadir secara serentak membuat aktifitas jima’ menjadi tidak nyaman.

Gangguan seperti ini, biasanya dapat diatasi melalui terapi suplementasi estrogen yang dinamakan HRT (Hormone Replacement Therapy ). Tentu saja diawali pemeriksaan oleh dokter. “Kalau gangguan sudah teratasi, tidak ada hambatan untuk menikmati kebutuhan jima’  secara rutin, layaknya usia muda di mana gairah sedang panas-panasnya,” ujar Nugroho.

Editor: Arief

Sumber: Nova

tribunpontianak.co.id –  Rabu, 10 Desember 2014 00:18, dengan sedikit modifikasi bahasa.

***

Mengenai adab jima’ (hubungan suami istri) secara lengkap, silakan baca di sini:

https://www.nahimunkar.org/adab-jima-hubungan-suami-istri-lengkap/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.100 kali, 1 untuk hari ini)