cebongan

  • Sejatinya pesan apa yang hendak disampaikan media seperti Kompas, Tempo,dan sejumlah media lainnya, tentang kematian empat orang yang berasal dari NTT, yang merupakan wilayah penduduknya beragama Katolik itu? Mengapa media-media itu harus membela dengan habis-habisan. Apa tujuan sesungguhnya yang dibalik pembelaan mereka yang begitu luar biasa itu?
  • Pertanyaan kunci bagi media-media seperti Kompas, Tempo, dan lainnya : Apakah media-media akan bertindak adil, dan akan melakukan pembelaan dan mengangkat menjadi berita utama dalam halaman media mereka, seandainya yang tewas di Lapas Cebongan itu, adalah aktivis Islam?
  • Apakah media seperti Kompas, Tempo, dan lainnya, akan menggalang opini yang begitu hebat,dan mendorong pemerintah dan Presiden SBY bertindak, seandainya yang tewas ditembak itu, adalah misalnya : Mohammad Kholid, Mohammad Akil, Mohammad Shauqi, Abu Khanza?
  • Adakah media seperti Kompas, Tempo, dan lainnya, menyuara dan membela mati-matian ketika yang tewas ditembak dan dibunuh itu aktivis Islam yang jumlahnya sudah 83 Muslim, sedang yang 13 orang Muslim ditembak mati tanpa bersalah apa-apa? Kenyataannya, media-media anti Islam itu bersikap seakan ketika yang dibunuhi oleh Densus 88 itu adalah Ummat Islam, maka dianggap sebagai sesuatu yang wajib, dan tidak perlu dibela. Bahkan, mereka yang sudah tewas itupun masih dipojokkan.
  • Sadarilah wahai saudara-saudara Muslimin, betapa kejamnya dan dhalimnya media-media anti Islam itu, dan betapa banyak pengaruh buruknya terhadap kehidupan Ummat Islam di negeri yang penduduk Islamnya terbesar di dunia ini.

 Inilah sorotannya.

***

 Bagaimana Kalau Tahanan di Cebongan Itu Aktivis Islam?

 Jakarta- Akan selalu menggelitik perasaan dan hati nurani. Akan selalu melahirkan pertanyaan-pertanyaan bathin. Tentang kematian empat tahanan di Lapas Cebongan. Mengapa keempat tahanan itu harus dibunuh dengan tembakan senjata laras panjang?

Begitu berharganya nyawa empat tahanan itu, sampai-sampai media sekaliber Kompas, Tempo, dan sejumlah media di Jakarta lainnya, terus-menerus menjadikan peristiwa itu, sebagai berita utama.

Menggalang opini tanpa lelah. Media kristen dan sekuler itu, terus mengarahkan pelakunya kepada satu titik tertentu, yang mengarah  kepada pasukan elite Angkatan Darat Kopassus.

Memang,  peristiwa penembakan keempat tahanan itu, bermula dengan kematian Sersan Santoso, anggota pasukan elite Kopassus, Kandangmenjangan, Kartosuro yang tewas dengan sangat menyedihkan dikeroyok oleh sepuluh orang yang berasal  dari NTT, di Cafe Hugo’s, Yogyakarta.

Sersan Santoso diperlakukan dengan sadis dan kejam, dipukuli dengan botol, dan ditusuk dengan pisau, sampai tewas. Sersan Santoso meninggalkan isteri dan keluarganya.

Mengapa media seperti Kompas dan Tempo dan lainnya, begitu obsessif mengangkat peristiwa Cebongan itu, begitu luar biasa, dan bahkan menggiring opini sampai ke tingkat yang maksimum, dan memberikan opini : “Negara Dalam Bahaya” (State Emergency). Karena menurut media-media itu,  kaidah-kaidah hukum yang normal telah dilanggar. Hukum sudah tidak berlaku lagi.

Tetapi, sejatinya pesan apa yang hendak disampaikan media seperti Kompas, Tempo,dan sejumlah media lainnya, tentang kematian empat orang yang berasal dari NTT, yang merupakan wilayah penduduknya beragama Katolik itu? Mengapa media-media itu harus membela dengan habis-habisan. Apa tujuan sesungguhnya yang dibalik pembelaan mereka yang begitu luar biasa itu?

Empat orang itu, Hendrik Angel Sahetapy, Adrianus Candra Galaja, Yohanis Juan Manbait, dan Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu. Konon mereka desertir dari kepolisian, yang terlibat dalam kasus narkoba.

Mereka bukan pahlawan. Mereka bukan pejuang. Mereka bukan orang yang memiliki kepedulian dengan sesama. Justeru mereka diduga membunuh Sersan Santoso, anggota Kopassus dengn sadis.

Apakah memang  mereka harus mendapatkan pembelaan yang sangat luar biasa dari media-media yang ada? Secara all out dan habis-habisan. Mengalahkan peristiwa lainnya yang lebih besar? Ini menjadi titik pertanyaan yang harus perhatian publik secara seksama.

Apakah dengan kematian empat orang NTT itu, harus dilakukan tindakan hukum atau lainnya, terhadap pelakunya, jika memang sekarang  oleh media-media, seperti Kompas, Tempo dan lainnya, yaitu diarahkan kepada pasukan Kopassus.

Kemudian, pertanyaan yang kunci bagi media-media seperti Kompas, Tempo, dan lainnya, apakah media-media akan bertindak adil, dan akan melakukan pembelaan dan mengangkat menjadi berita utama dalam halaman media mereka, seandainya yang tewas di Lapas Cebongan itu, adalah aktivis Islam?

Apakah media seperti Kompas, Tempo, dan lainnya, akan menggalang opini yang begitu hebat,dan mendorong pemerintah dan Presiden SBY bertindak, seandainya yang tewas ditembak itu, adalah misalnya : Mohammad Kholid, Mohammad Akil, Mohammad Shauqi, Abu Khanza?

Apakah media-media seperti Kompas,Tempo dan lainnya akan sangat detil melakukan investagasi di lapangan, guna mendapatkan sumber informasi, tentang kematian keempat orang itu, dan mengetahui siapa pelakunya yang sejati.

Berapa banyak kasus-kasus kekerasan yang sangat eksessif atau berlebihan  yang dilakukan oleh aparat keamanan termasuk Densus 88, tetapi tidak ada perhatian yang begitu luar biasa dan serius. Semua dianggap sebagai peristiwa biasa. Berapa banyak aktivis Islam dan para terduga teroris yang dengan sangat gampang tewas ditembak oleh aparat Densus 88.

Sudah 83 yang para terduga teroris, dan belum lagi mereka yang ditangkap dan ditahan, disiksa, dan penjarakan.  Mereka yang tewas 83  orang itu, mempunyai anak dan isteri, dan keluargga.

Tetapi, adakah media seperti Kompas, Tempo, dan lainnya, kalau aktivis Islam yang tewas ditembak dan dibunuh, sebagai sesuatu yang wajib, dan tidak perlu dibela. Bahkan,mereka yang sudah tewas itupun masih dipojokkan.

Di Jakarta, Solo, Makassar, Lombok, dan Poso, berapa banyak yang sudah tewas aktivis Islam yang ditembak oleh Densus 88. sedangkan Ketua Komnas HAM, Siti Noor Laila, sudah dengan sangat tegas mengatakan, bahwa Densus 88 telah melakukan tindakan penghilangan nyawa, ungkapnya.

Tidak ada satu pun media yang memberikan dukungan terhadap kasus yang dihadapi para aktivis Islam itu. Apalagi, koran seperti Kompas atau Tempo, dan lainnya. Kalau ada berita mungkin hanya kecil dan tidak menjadi berita utama.

Bahkan, peristiwa yang sangat menyesakkan dada umat Islam, seperti penghancuran umat Islam di Ambon, saat menjelang Idul Fitri oleh orang-orangt Kristen, di tahun  l999, tak  mendapatkan perhatian.

Pembantaian ratusan Muslim di Poso, yang berada di Pesantren Walisongo,  khususnya yang dilakukan oleh milisi kristen “kelalawar” yang dipimpin Tibo Cs, yang berasal dari NTT itu, tak pernah mendapatkan perhatian sama sekali oleh media. Justeru peristiwa pembantaian Muslim di Poso itu, kemudian diubah menjadi umat  Islam sebagai teroris, dan dihancurkan oleh aparat keamanan.

Pembantaian Muslim Madura di Sanggoledo, dan Singkawang (Kalimantan Barat), dan Kalimantan Tengah, tak pernah jelas.

Tidak ada media yang memblow up kasus itu, dan Muslim Madura, hanya menjadi korban kekejaman yang dilakukan oleh suku Dayak. Tetapi, lagi-lagi tak ada perhatian dari media.

Tidak ada penggalang opini. Apalagi, sampai mendorong pemerintah, dan kepala negara bertindak. Seakan kalau pembantaian itu menimpa Muslim sebagai sesuatu yang wajar belaka.

Sekarang dengan kematian orang NTT itu, seakan-akan jagat Indonesia sudah akan runtuh. Seakan Indonesia sudah akan tamat. Seakan Indonesia ini sudah akan kiamat. Begitu luar biasanya media-media itu,  khususnya dalam memberikan perhatian dan porsi pemberitaan. Seperti tidak masuk akal.

Pelakunya harus dikutuk, dihukum, dan kenai sanksi yang berat, karena sudah meruntuhkan sendi-sendi negara, dan kewibawaan negara. Begitu luar biasanya martabat dan kehormatan empat orang yang sudah membunuh Sersan Santoso.

Keempat orang NTT itu sudah seperti pahlawan yang harus dibela habis. Giliran peristiwa itu  menimpa aktivis Islam, mereka membiarkannya. Sungguh sangat tidak adil. Wallahu a’lam. (voa-islam.com)  Kamis, 28 Mar 2013

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.439 kali, 1 untuk hari ini)