TGB salah. Ternyata Lafal kafir ada di Pagam Madinah/ foto piid. “TGB doktor dari Al Azhar, rasanya mustahil beliau gak tau ada kata KAFIR dalam piagam Madinah. Ibu kita Al Azhar akan menangis melihat anaknya menjual ilmu yang didapat dengan murah macam ini, Tuan,” ujar Hasmi Bakhtiar, alumni Al-Azhar yang kini S2 di Prancis.

Soal “membuang” lafal kafir dengan diganti muwathinun (warga negara).

Setelah NU (liberal?) terbongkar kelicikannya dalam menyelewengkan kebenaran Islam (dan mungkin bertujuan untuk dihalalkan jadi pemimpin? karena kalau masih disebut kafir maka diharamkan jadi pemimpin menurut Islam, maka diupayakanlah lafal kafir itu dibuang dalam penyebutan, dan diganti dengan muwathinun yang maknanya warga negara), kini muncul TGB (Tuan Guru Bajang, mantan Gubernur NTB, pendukung Jomowi) yang tampak membela NU (liberal itu) namun langsung disanggah orang hingga terkuak pula tidak jujurnya. Allahu Akbar!

Tentu saja agama Allah ini bila dikutak-katik maka tetap Allah akan menampakkan kebenaran sejatinya. Karena Allah telah berjanji untuk menyempurnakan cahayaNya (agamaNya).

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [التوبة : 32]

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS At-Taubah/ 9: 32).

***

TGB Salah, Istilah Kafir Ada di Piagam Madinah

[PORTAL-ISLAM.ID]  TGB: Istilah Kafir Tidak Ada di Piagam Madinah

Justru TGB yang keliru. Istilah dan kata ‘KAFIR’ jelas tercantum dalam PIAGAM MADINAH.

Ini isi pasal 14 Piagam Madinah :

١٤. ولا يقتل مؤمن مؤمنا فى كافر ولا ينصر كافرا على مؤمن.

Pasal 14:
1. Seorang mukmin tidak boleh membunuh orang beriman lainnya lantaran orang kafir.
2. Tidak boleh pula orang beriman membantu orang kafir melawan orang beriman yang lain.

Lihat: Ibnu Hisyam, al-Sirah an-Nabawiyyah, juz II, hlm. 111

Juga bisa dilihat di wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Piagam_Madinah

“TGB doktor dari Al Azhar, rasanya mustahil beliau gak tau ada kata KAFIR dalam piagam Madinah. Ibu kita Al Azhar akan menangis melihat anaknya menjual ilmu yang didapat dengan murah macam ini, Tuan,” ujar Hasmi Bakhtiar, alumni Al-Azhar yang kini S2 di Prancis.

https://www.portal-islam.id

TGB doktor dari Al Azhar, rasanya mustahil beliau gak tau ada kata KAFIR dalam piagam Madinah. Ibu kita Al Azhar akan menangis melihat anaknya menjual ilmu yang didapat dengan murah macam ini, Tuan. https://t.co/JcHNfkXTFV

— Hasmi Bakhtiar (@hasmi_bakhtiar) 7 Maret 2019

https://www.portal-islam.id

***

Via FB Wandi Andriyana

Di Tahun Politik ini,Jangan Mau dibohongi Anak LIBERAL … ⚠⚠

***

Kata TGB: Istilah Kafir Tidak Ada di Piagam Madinah; Ini Tanggapan Warganet

GELORA.CO – Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainul Majdi atau biasa disapa Tuan Guru Bajang (TGB), turut berpendapat tentang polemik seruan Nahdlatul Ulama agar masyarakat Muslim di Indonesia tak menggunakan istilah kafir kepada kalangan nonmuslim.

Menurut TGB, kesepakatan ulama tentang istilah kafir dari sisi akidah berlaku kepada siapa pun yang tidak percaya atau ingkar pada Allah dan rasulnya, serta pokok-pokok syariat Islam.

Namun, katanya, dalam muamalah atau urusan kemasyarakatan sehari-hari, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk membangun hubungan saling menghormati dengan semua orang.

“Rasul shallallahu alaihi wasallam menyepakati piagam bernegara bersama seluruh komponen di Madinah,” tulis TGB melalui halaman Facebook-nya seperti dikutip VIVA.

Dia mengingatkan, dalam Piagam Madinah alias Konstitusi Madinah atau naskah perjanjian Nabi Muhammad dengan masyarakat multiagama di Madinah, semua warga memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Tetapi kata kafir tidak digunakan dalam dokumen itu untuk menyebut kelompok-kelompok Yahudi yang ikut dalam kesepakatan. Sebab piagam Madinah bukan tentang prinsip akidah tapi tentang membangun masyarakat utuh dan bersama.

“Sekarang kita hidup di negara-bangsa, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan salah satu bentuk persaudaraan yang wajib dijaga dengan sesungguh hati dan sekuat-kuatnya adalah persaudaraan sebangsa, ukhuwah wathaniyah,” ujarnya.

Penyebutan kepada saudara sebangsa, ujarnya, harus berpijak pada semangat persatuan dan persaudaraan. “Maka menyebut orang yang beragama lain dengan sebutan nonmuslim tidak keliru, dan bahkan lebih sesuai dengan semangat kita berbangsa.”

TGB juga menjelaskan, dalam beragam acara publik, saat seorang muslim memimpin doa, dia mengawali dengan ucapan, ‘izinkan saya membaca doa secara Islam dan bagi saudara yang nonmuslim agar menyesuaikan’.

“Kalau kata nonmuslim diganti kafir, tentu sangat tidak nyaman untuk saudara-saudara yang beragama selain Islam,” kata Koordinator Bidang Keumatan Partai Golkar itu.

Dia juga membagikan sebuah foto di halaman Facebook-nya, yang memperlihatkan penanda saat akan memasuki Kota Mekah. Petunjuk jalan itu jelas tertulis nonmuslim dengan bahasa Arab, bukan tertulis kafir.

Menanggapi hal itu, warganet ramai berkomentar.

[prc]

https://berita-sosmed-indonesia-populer.mercusuarumat.com

***

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.877 kali, 1 untuk hari ini)