#TheJourneyToXinjiang #1- 15

 


 

Album #PojokRuangan


Umaier Khaz menambahkan foto baru.

5 Januari pukul 13.49 · 

•TERCEPAT•
@umaierkhaz

Ini namanya Dong Che, kereta cepat nomer dua di China. Kecepatannya 300 km/jam. Yang tercepat namanya Gao Die, kecepatannya 360 km/jam. Tapi saya belum pernah merasakan, ada di kota-kota besar. Yang ini saja suaranya tak terdengar, melesat sangat cepat.

Tapi tidak ada yang lebih cepat di dunia ini selain kematian. Tidak bisa diukur oleh apapun. Jangankan suara, datangnya pun tak tertebak.

Allah, mudahkan langkah kami membela agamaMu. Matikan kami saat kami berada dalam kebaikan-kebaikan.

#TheJourneyToXinjiang #1

 

 

Album #PojokRuangan

Umaier Khaz

 menambahkan 5 foto baru.

6 Januari pukul 07.11 · 

•MUSLIM CINA•
@umaierkhaz


Di belakang saya ini adalah Bangunan pertama Masjid Dongguan. Masjid terbesar di Xining, QingHai, Cina Barat. Bangunan tersebut dibangun sejak Islam masuk ke daratan China sekitar tahun 900 H-an/1400 M-an. Termasuk yang tertua di dataran Cina. Saat ini telah diperluas hingga bisa menampung 20 ribu jamaah lengkap dengan bangunan orange klasik yang berfungsi sebagai madrasah ibtidaiyyah. Di Shalat Dhuhur jamaahnya mencapai seribu orang. Saya tiba ketika Shalat Dhuhur berlangsung. Jamaah membludak hingga pelataran. Suku Hui yang menempati daerah ini telah ber-Islam sejak beratus-ratus tahun yang lalu.

Maha Suci Allah Ta’ala atas nikmat Islam. Shalawat dan Salam terkirim untuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang telah berkorban memperjuangkan agama Allah hingga Islam sampai ke negeri ini di tengah paham Komunis yang berkuasa.

Lalu mengapa mereka bisa shalat dengan tenang sedangkan saudara lain di sisi paling barat Cina; Xinjiang (Bangsa Uyghur) mengalami pelarangan keras dalam beribadah?

Nantikan jawabannya. Doakan saya bisa pulang ke tanah air dengan sehat dan selamat atas izin Allah.

#TheJourneyToXinjiang #2

 

 

Album #PojokRuangan


 

 

Umaier Khaz

 menambahkan 3 foto baru.

7 Januari pukul 08.41 · 

•HALAL•
@umaierkhaz

Salah satu yang mengalihkan perhatian saya dari lezatnya semangkok besar Lanzhou Lamien (makanan mie kuah halal andalan yang tersebar di dataran Cina, baca: Lancok Lamien) adalah tulisan hijau kecil yang terpampang di pojok papan pada setiap restauran Lanzhou Lamien. Tulisan itu bacanya Qing Zhen (bunyinya: Cing Cen). Artinya, halal. Qing itu artinya jelas, cerah. Zhen artinya benar. Jika digabung, benar-benar jelas.

Sejak tahun 2017, Pemerintahan China menghapus label حلال (halal) di setiap restaurant halal, dan diganti dengan tulisan Qing Zhen. Tahun 2019, semua restaurant halal sudah tidak ada lagi tulisan “halal”.

Apakah hanya tulisan arab “halal” saja yang dihapus? Adakah pelarangan belajar Bahasa Arab, bahasa Al-Quran di negeri China Semua terjawab atas izin Allah. Nantikan jawabannya.

Sudah 4 hari di sini, setiap hari pindah kota. Kasghar Xinjiang (daerah paling barat di Dataran China, 4 jam perjalanan dengan pesawat) adalah kota keempat yang saya datangi hari ini. Banyak fakta menarik dan menyayat hati sejak semalam kami datang. Semoga Allah ridha dengan perjalanan ini. Aamiin.

#TheJourneyToXinjiang #3

 

 

Album #PojokRuangan


 

 

Umaier Khaz

 menambahkan 6 foto baru.

9 Januari pukul 16.40 · 

•KOTA BISU•
@umaierkhaz

“Kamu Uyghur?” tanya kami kepada sopir Uyghur di perjalanan menggunakan taksi menuju pusat kota setelah mendarat di Bandara Kasghar, Xinjiang. Tak ada jawaban. Ketika kami ulang bertanya, ia malah mengeraskan suara radio dan pura-pura tidak mendengar. Akhirnya, tidak kami lanjutkan pertanyaan tersebut.

Sampai di hotel, kami harus melewati pemeriksaan tiga polisi dengan metal detectornya. Di lobby hotel saja ada 3 CCTV yang menyala. Saya tidak tahu, apakah semua milik hotel atau yang lain. Ketiganya mengarah ke arah yang sama. Di resepsionis pun kami cukup lama, resepsionis harus menelpun pihak berwajib untuk melaporkan kedatangan kami, nama dan identitas di visa kami.

Esok harinya, kesempatan berharga untuk berkeliling di Kota Kasghar. Kami naik taksi, dan lagi-lagi tidak ada satupun dari sopir yang mau berbicara dengan kami. Semua membisu. Tak ada senyum di sepanjang jalan, yang ada hanya tatapan mata Uyghurs yang menyimpan sesuatu. Saya baru tahu ternyata ada peraturan yang melarang mereka berinteraksi dengan orang asing.

Subuh di Kasghar pukul 09.00. Kami baru bisa makan pukul 16.00 setelah kami sedikit putus asa mencari kepada siapa kami harus bertanya tentang keadaan mereka. Sampailah kami di sebuah rumah makan tradisional milik Uyghur. Salah seorang diantara kami kehabisan baterai hp. Harus mencari colokan untuk men-charge-nya. Ketika bertanya ke kasir adakah colokan, kasir Uyghur mempersilahkan lalu berbisik dengan Bahasa Cina yang terbata-bata “Dari mana kalian?”

“Dari Indonesia. Kami di Indonesia sangat mencintai kalian.”

“Apakah kamu muslim?” bisiknya lagi.

“Ya kami muslim.”

“Apakah kamu bisa shalat di negerimu? Kami di sini tidak bisa.” terangnya pelan, kemudian melanjutkan pekerjaannya seakan tak ada pembicaraan sebelumnya.

Kalimat singkat dari lisan Uyghur yang kami cari seharian akhirnya keluar. Walaupun setelahnya ia tak menyapa lagi.

Mereka seakan begitu ketakutan, CCTV ada di mana-mana. Di dalam taksi saja ada 2 CCTV kadang 3. Di jalan-jalan setiap berapa meter ada CCTV.

Ya Allah, ampuni kami yang tak bisa berbuat apapun untuk saudara kami Uyghur selain memohon kepadaMu.😭

#TheJourneyToXinjiang #4

 

 

 

Album #PojokRuangan


 

 

Umaier Khaz

 menambahkan 7 foto baru.

9 Januari pukul 19.43 · 

•DILARANG•
@umaierkhaz

Malam pertama di Kasghar, yang pertama kali saya cari di gugel map adakah masjid yang tersisa di Kasghar. Di kota dengan penduduk 80 persen muslim, saya hanya menemukan dua masjid. Seperti yang diberitakan BBC, ribuan masjid telah dilenyapkan di Xinjiang, terutama di Kasghar. Berapapun jumlahnya yang ada, saya tetap akan kunjungi. Saya ingin membuktikan apakah benar-benar shalat dilarang di kota ini.

Dua masjid itu, yang pertama tentu Id Kah Mosque, masjid terbesar di China dan Asia Tengah. Masjid ini adalah masjid kebanggaan Masyarakat Uyghur. Yang kedua, Ping’an Mosque (akan saya bahas di tulisan selanjutnya).

Setelah Subuh di hotel, kami berangkat ke Id Kah. Semenjak dari Indonesia, saya ingin sekali memberanikan diri shalat di rumah Allah ini apapun resikonya. Karena saya mendengar bahkan turis pun dilarang shalat di Bumi Kasghar.

Sampailah kami di pintu gerbang depan. Ternyata masuk ke masjid ini harus membayar tiket seharga 45 yuan (90 ribu rupiah) per kepala. Sampailah kami di sebuah komplek megah nan luas dikelilingi pepohonan. Saya berjalan menuju bangunan utama. Bangunan yang dibangun sejak tahun 1442 M itu sudah tidak terurus lagi. Karpetnya berdebu, berlubang, dan lusuh, serta kubah masjid yang hilang.

Saat melepas sepatu dan masuk, petugas meneriaki saya. Saya dilarang menginjakkan kaki saya karpet masjid, hanya boleh di batas karpet merah. Di ruangan utama pun tidak boleh sembarang menginjak kecuali karpet berwarna beda. Kami hanya diperbolehkan masuk ke ruangan utama bersama pemandu yang bukan muslim. Dan lagi-lagi CCTV di mana-mana.

Saya memberanikan diri untuk shalat tahiyyatul masjid. Sontak si pemandu melarang, “Kamu tidak boleh ibadah di sini, hanya ada waktu-waktu tertentu ibadah di sini.”

Ya Allah, ini rumahMu. Bahkan hanya untuk masuk saja kami harus membayar. Bahkan hanya untuk shalat sunnah di dalamnya saja kami dilarang. Jika kami pendatang saja dihalangi, bagaimana dengan saudara kami Uyghurs. 😭

#TheJourneyToXinjiang #5

 

 

Album #PojokRuangan


 

 

Umaier Khaz

 menambahkan 4 foto baru.

10 Januari pukul 04.28 · 

•TIDAK SEDANG BAIK-BAIK SAJA•
@umaierkhaz

Dilarang di Id Kah, kami tidak menyerah mencari masjid lain yang masih berdiri. Kami masuk ke kota tua Kasghar di sekitaran Id Kah. Suhu siang itu mencapai -4°C. Sangat dingin. Lagi-lagi saudara Uyghur hanya melihati kami menyimpan sesuatu yang ingin sekali mereka ungkapkan. Mereka sedang tidak baik-baik saja. Dan saya baru sadar, tak ada satupun muslimah Uyghur di kota ini yang mengenakan jilbab.

Sampailah kami ke sebuah bangunan masjid. Setelah kami mendekat, ternyata masjid tersebut digembok rapat. Kami coba melirik di sela lubang ke dalam bangunan. Sudah tak terurus lagi. Sepi dari keramaian. Sampai akhirnya kami tahu, masjid ini tak diratakan karena terhubung dengan bangunan-bangunan lain di kota tua yang sekarang dijadikan pusat objek wisata oleh pemerintah.

Kami berjalan cukup jauh, sampai akhirnya kami putuskan untuk kembali naik taksi. Seorang uyghur menjadi supir kami. Kami arahkan ia melalui GPS Baidu (aplikasi yang dipakai di negeri ini) menuju ke masjid kedua yang terdetect di gugel map. Jarak tempuhnya cukup jauh kurang lebih 15 km. Masuk ke pedesaan. Ketika tiba, kami bertanya kepada warga setempat adakah masjid di sini. Sebagian mengacuhkan kami, karna tahu kami orang asing. Sebagian lain menggelengkan kepala. Akhirnya setelah berkeliling kami mendapatkan masjid tersebut. Digembok. Tak bisa digunakan.

Kami pun kembali ke taksi yang telah kami minta untuk menunggu sebentar, karna tidak ada lagi taksi di situ. Jauh dari jalan kota. Sopir Uyghur tersebut setelah tahu kami mencari masjid, ia berkata, “Saya mau pulang sekarang, turunlah.” Dia mendadak ketakutan. Kamipun membujuk dia untuk mengantarkan kami ke pusat kota.

Di jalan kami kembali bertanya, adakah masjid di sini? Dia menyibukkan diri melihat spion mobil. Akhirnya kami kembali ke hotel yang telah kami check out-kan (hanya titip koper di resepsionis) karna kami hari itu ingin langsung berpindah ke kota lain di Xinjiang.

Tidak ada tempat sholat. Padahal kurang 1 jam lagi waktu Maghrib tiba. Sedang kami belum Shalat Dhuhur dan Ashar. Tidak ada pilihan lain, kami menyewa kembali kamar hotel dengan harga 120 yuan (untuk 4 jam) agar bisa mengerjakan sholat.

Sekali seumur hidup saya, shalat 4 waktu (Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya) saya kerjakan di waktu yang hampir berbarengan karna kesulitan mencari mushalla. Dalam shalat, rasanya ingin berlama-lama bersujud dan ber-rukuk menghadap Allah. Betapa sulitnya menegakkan shalat di kota mayoritas muslim ini.

Tangisan saya pecah ketika mengimami shalat Maghrib saat melantunkan ayat “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. Ya Allah hanya kepadaMu kami menyembah dan memohon pertolongan. Ampuni kami yang kufur atas kenikmatan shalat berjamaah di masjid. Ampuni kami yang sering lalai menyambut panggilan shalatMu. Ampuni kami yang sering malas bersimpuh bersujud di hadapanMu di shalat fardhu, dhuha, dan tengah malam padahal kami bebas mendirikannya.

Ampuni kami ya Rabb.😭

#TheJourneyToXinjiang #6

 

Album #PojokRuangan


 

 

Umaier Khaz

 menambahkan 5 foto baru.

10 Januari pukul 10.50 · 

•SYIAR ISLAM YANG LENYAP•
@umaierkhaz

Diantara yang mencuri perhatian saya di Kasghar, Xinjiang adalah telah lenyapnya syiar-syiar Islam. Kubah-kubah bangunan khas Uyghur dihilangkan (lihat di gambar), hanya tinggal tersisa bangunan di bawahnya dengan bentuk melingkar di ujung atas.
Tak ada wanita berhijab, laki-laki berjenggot, tak ada lagi yang mengenakan gamis. Tak ada satupun masyarakat Uyghur yang mengucap dan membalas salam. Saya memejamkan mata sejenak di tengah kota ini, membayangkan Turkistan Timur di masa lalu. Saat waktu shalat tiba, pastilah suara adzan bersaut-sautan berkumandang. Tapi sekarang? Lenyap.

Semua sekolah dan madrasah dijaga ketat oleh aparat. Saya menyaksikan langsung para murid berbaris mengantri panjang masuk ke dalam sekolah dengan pemeriksaan ketat melalui metal detector.

Seperti yang dilansir Aljazeera, Pemerintah China telah meloloskan undang-undang baru untuk melakukan “Chinaisasi Islam” dalam waktu lima tahun sejak Januari Tahun 2019.

Tak ayal, jika di sepanjang jalanan di Kasghar pada setiap lampu jalan tergantung tulisan merah bertuliskan “Zhong Guo Wo De Meng” yang artinya China adalah mimpiku (lihat di gambar). Seakan mereka ingin melenyapkan Islam di Bumi Uyghur. Mengamalkan ajaran Islam adalah pelanggaran berat.

Tak ada kesempatan lagi memahami Islam secara kaffah. Masyarakat Uyghur dijauhkan dari ilmu. Musuh sadar, pemahaman Islam yang utuh mengancam kejayaan.

Sudahkah kita bersyukur atas keadaan kita, saat Allah membukakan lebar-lebar kesempatan memahami ilmu dan membersamai ulama?

#TheJourneyToXinjiang #7

 

 

Album #PojokRuangan


 

 

Umaier Khaz

 menambahkan 5 foto baru.

11 Januari pukul 02.47 · 

•MEREKA TIDAK BISU•
@umaierkhaz

Beberapa tulisan saya tentang #TheJourneyToXinjiang dibaca oleh seorang Muhajir Uyghur di Istanbul Turkey. Saya tahu dari seorang mahasiswa Indonesia di Turkey yang mengenal mereka. Dia bertanya siapa saya dan apa yang saya tulis.

“Namanya Umaier, dia masuk ke Xinjiang. Menyaksikan apa yang terjadi di sana, dan memberitakan kepada muslimin Indonesia.” jawab teman saya.

Sebut saja namanya Abdullah. Setelah tahu itu, ia buru-buru meminta teman saya untuk menyampaikan pesan ke saya, “Datanglah ke rumahku, ada ayah, ibu dan kakakku di sana. Temui mereka.” Bahkan Abdullah mengirimkan titik koordinat rumahnya untuk saya.

Teman saya mahasiswa Turkey menerangkan, “Abdullah berpisah dengan keluarganya begitu lama. Terakhir keluarganya ke Istanbul tahun 2016. Setelah pulang ke Xinjiang, mereka tidak bisa dihubungi, rumahnya kosong, mereka dimasukkan ke camp. Sampai saat ini belum bisa ia hubungi. Sampai dia hitung berapa detik menit jam dan tahun dia tidak bisa menghubungi keluarganya.

Abdullah memohon kepada saya untuk bisa datang ke rumahnya melihat kondisi keluarganya. “Bagaimana kalau keluargamu kenapa-kenapa?” tanya teman saya di Turkey.

“Memang mereka sudah kenapa-napa. Mereka sudah dipenjara, mereka sudah disiksa. Pergilah ke sana, kalau perlu aku ganti ongkosnya.” 😭

Saya tak bisa berbuat apa-apa. Sudah cukup lama saya di Xinjiang. Lagi pula, karna pertimbangan keamanan, saya tidak mampu mengabulkan permintaan Abdullah. Saya hanya meminta teman saya untuk menyampaikan salam untuk Abdullah.

“Aleykümselam. Allah razı olsun kardeşimizden”
(Alaikumussalam, semoga Allah meridhaimu) jawabnya.

Untuk menghiburnya saya berkata kepadanya melalui teman saya, “Katakan kepada Abdullah, sepulang dari Xinjiang, saya berjanji kepadamu akan saya sampaikan kepada siapa saja berita-berita yang benar tentang Uyghurs.”

Selang beberapa menit Abdullah menjawab, “Anladim. Allah razı olsun kardeşimizin. Çok sağ olsun.” (Semoga Allah meridhai langkahmu saudaraku. Terima kasih banyak.)

Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’mannashiir. Maafkan kami saudaraku, kami hanya baru mampu berdoa dan bersuara.😭

#TheJourneyToXinjiang #8



 

 

Album #PojokRuangan


 

 

Umaier Khaz

 menambahkan 2 foto baru.

11 Januari pukul 06.13 · 

•URUMQI, KOTA SERIBU MASJID•
@umaierkhaz

Tak bisa berbuat banyak di Kasghar, kami berpindah ke Urumqi; ibu kota Xinjiang. Dua jam perjalanan menggunakan pesawat terbang. Kami berharap di Urumqi bisa mendapat informasi lebih banyak tentang keadaan Uyghurs. Karena kami fikir di ibu kota provinsi tentu keadaannya lebih maju, dan lebih banyak orang yang terbuka berbicara tentang keadaan Muslimin Uyghurs.

Urumqi kota yang sangat besar dan gemerlap. Pusat perekonomian Xinjiang. Keluar dari bandara, ternyata cuaca di kota ini lebih ekstrim. Suhunya mencapai -14° C. Urumqi dinobatkan Guinness Book of Records sebagai kota terjauh dari laut, sekitar 2.648 km dari garis pantai terdekat. Januari seperti ini, cuacanya paling dingin. Salju sangat tebal di jalanan. Belum pernah saya merasakan suhu sedingin ini. Rasanya perih sekali di pipi dan belakang telinga.

Sampai di hotel, penjagaan ketat pihak aparat harus tetap kami lewati. Senyum SOP bak pramugari pesawat harus saya lemparkan untuk aparat agar mereka mengira saya turis biasa yang hanya buang-buang uang datang ke kota ini. Masuk kamar, saya langsung mencoba mencari di gugel map, adakah masjid di Urumqi yang masih berdiri? Menarik, ternyata ada 42 masjid muncul di sekitaran Urumqi. Berbeda dengan Kasghar, hanya ada 2 masjid, dan keduanya tak lagi dibuka. Walaupun BBC melaporkan, sudah ribuan masjid diratakan di Xinjiang, khususnya Kota Urumqi ini.

Sebelum menginjakkan kaki di Bumi China, di mana saja, selama di perjalanan, saya selalu mengulang doa yang diajarkan guru saya saat kita berharap mendapatkan petunjuk terbaik dari Allah pada setiap urusan yang kita hadapi.

رَبَّنَاۤ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةࣰ وَهَیِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدࣰا

“Ya Rabbanaa, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam semua urusan kami.”

Oh Allah, dengan rahmat dan keridhaan-Mu, berikan untuk kami petunjuk-Mu, pertemukan kami dengan orang yang baik, waktu yang baik, hindarkan kami dari segala keburukan dan marabahaya. Aamiin.

Jam sudah menunjukkan pukul 00.30. Baiklah, saya rebahkan badan ini sejenak, besok harus bisa bangun sebelum fajar agar bisa Shalat Subuh berjamaah bersama Muslimin Uyghur untuk pertama kalinya. Kabulkan pinta kami yaa Rabbi.

#TheJourneyToXinjiang #9



 

Album #PojokRuangan


 

 

Umaier Khaz

 menambahkan sebuah foto dan sebuah video.

11 Januari pukul 12.15 · 

•KAMI DIUSIR•
@umaierkhaz

Subuh di Urumqi pukul 08.00. Saya dan patners bergegas bangun. Berdoa dan berharap Allah memudahkan kami. Lantas kami mempersiapkan diri mengenakan jaket tebal dan sarung tangan dobel karna suhu saat itu mencapai -°12 C.

Saya coba memastikan lagi dari keempat puluh dua masjid yang terbaca gugel map di kota ini, mana yang paling jelas dan lengkap (picture masjid, review, rating terbanyak). Hanya ada dua masjid. Selainnya? Hanya ada nama masjid, no picture, apalagi review dan rating.

Berangkatlah kami ke masjid pertama menggunakan taksi. Karena kalau berjalan kaki jelas tidak mungkin. Selain sangat dingin, jaraknya cukup jauh 2,4 km. Bismillah, kami berangkat.

Sampailah kami di depan masjid sesuai titik koordinat. Nampak masjid ini berdiri megah. Tapi tertutup rapat dengan pagar yang tinggi. Kami mencari jalan masuk, sampai seorang Uyghur di dalam pagar mengisyaratkan dengan tangannya ke sebuah pintu gerbang yang bersambung dengan sebuah bangunan mirip pos satpam. Semua orang yang masuk harus melalui bangunan itu dahulu lengkap dengan pemeriksaan aparat lengkap dengan metal detector dan CCTV di mana-mana.

Kami pun mencoba membuka pintu. Sebelum kami buka, seorang aparat berbadan besar bangun dari tidurnya dan berdiri menghalau kami. “Pergi dari sini! Kalian tidak boleh masuk! Orang asing dilarang masuk!”

Kami belum menyerah, kami sapa lagi Uyghur yang ada di dalam gerbang, “Bagaimana cara kami masuk?” Tapi pria paruh baya ini seakan tidak mendengar kami, menjauh dari kami sambil menatap dengan wajah bersalah. Saya rasa ia khawatir terkena masalah jika menggubris kami.

Beberapa meter dari masjid, ada petugas kebersihan yang juga Uyghur yang sedang membersihkan jalan dari tebalnya salju. Kami pun bertanya kepadanya, “Apakah masjid ini tidak untuk shalat? Kami ingin shalat Shubuh.”

“Ada shalat di dalam, masuklah. Tunjukkan saja paspor.”

Kami pun kembali mendekati aparat galak ini, menunjukkan paspor tapi sedikit khawatir jika paspor kami disita. Baru mendekat, belum sempat menunjukkan paspor, lagi-lagi ia mengeraskan suara, “Pergi kalian, jangan mendekat ke sini lagi!”

Sayang momen ini tidak terekam, karna badan saya dan patner saya hampir saja didesak mundur olehnya dan kejadian tersebut cukup menegangkan.

Fix, masjid pertama kami diusir. Jam menunjukkan pukul 07.45. Lima belas menit lagi adzan. Dengan perasaan tidak terima, saya putuskan bersama patners saya untuk menuju masjid kedua. Keinginan saya terlanjur kuat untuk bisa shalat berjamaah bersama Muslimin Uyghurs.

Ya Allah, Engkau Yang Maha Kuasa. Izinkan kami masuk ke rumah-Mu di Bumi Urumqi ini. Mudahkan langkah kami bertemu dengan saudara-saudara kami Uyghurs.😭

#TheJourneyToXinjiang #10

 

 

 

Album #PojokRuangan


 

 

Umaier Khaz menambahkan 2 foto baru.

11 Januari pukul 19.38 · 

•LOLOS KE DALAM MASJID UYGHURS•
@umaierkhaz

Menuju masjid kedua, kami melewati sebuah bangunan yang kami yakin adalah masjid. Kami minta sopir taksi berhenti. Kami turun. Benar, ternyata bangunan masjid (lihat gambar slide 1). Sudah pukul 08.00, seharusnya sudah masuk waktu Subuh. Tapi masjid tersebut digembok. Sepi tak ada orang.

Seorang kakek Uyghur kisaran 60 tahun berjalan melewati kami. Nampaknya, ia keluar rumah untuk shalat. Kami pun bertanya kepadanya, kenapa masjid ini tutup. Ia menjawab, “Ini milik Suku Hui, sudah lama tidak digunakan. Di sana masjid Uyghur. Ayo ikut aku jika kalian ingin shalat.”


Tidak jauh dari situ, ternyata ada bangunan masjid lain. Tak lain adalah bangunan masjid milik Suku Uyghur (lihat gambar slide 2). Yang bisa masuk ke dalamnya tidak sembarang orang. Ada monitor dengan seperangkat kamera scanner, yang men-scan wajah yang telah terdaftar. Jika wajah kita terdaftar maka pintu terbuka. Jika tidak, maka pintu tetap tertutup. Tapi nampaknya orang tua Uyghur ini kasihan kepada kami, karena kami terlihat kedinginan di luar. Dia rela menscan wajahnya 4 kali (untuk kami bertiga dan untuknya sendiri) dan menahan pintu agar kami bisa masuk satu persatu.

Sampai di dalam komplek, aparat yang berjaga terbangun. Tampak ingin menghalangi kami masuk dan memarahi orang tua yang membantu kami. Orang tua ini membalas lebih tegas, “Biarkan mereka! Mereka hanya ingin shalat.” Tampak si aparat kalah dominan. Lalu membiarkan kami masuk begitu saja. Bismillah. Apapun resikonya, ada Allah bersama kami.

Terima kasih Ya Allah, kami bisa shalat bersama Saudara Uyghurs untuk pertama kali.😭

#TheJourneyToXinjiang #11


 

 

Top of Form

 

Bottom of Form

Album #PojokRuangan

 

Umaier Khaz

 menambahkan sebuah foto dan 2 video.

11 Januari pukul 19.42 · 

•SUBUH BERSAMA UYGHURS•
@umaierkhaz

Kami masuk ke dalam masjid. Suasana di masjid mendadak mencengang ketika jamaah masjid yang semuanya Uyghurs memandangi kami. Lalu mereka kembali berdzikir dan melakukan shalat. Kesemuanya orang tua di atas 60 tahun. Kecuali imam masjid, imam masjid usianya mungkin kisaran 45 tahun. Anak muda memang tidak boleh shalat di masjid. Ketahuan shalat saja di rumah, langsung ditangkap dan dimasukkan camp penyiksaan.

Tidak banyak jumlah jamaah masjid ini, hanya 1 shaf lebih sedikit. Saya shalat qabliyah di shaf kedua. Lalu seorang kakek Uyghur mempersilahkan saya maju duduk di shaf pertama seusai shalat sunnah. Ia berbisik, “Dari mana kamu?”

“Indonesia” jawab saya.

Lalu ia menggenggam erat tangan saya, tanpa berkata-kata lagi. Saya paham betul, masuk ke masjid Uyghur dan berbincang dengan mereka, membahayakan mereka. Saya lihat ada lebih dari 5 CCTV di dalam masjid itu. Saya tidak yakin itu CCTV masjid. Saya tidak berani mengeluarkan kamera. Bisa shalat bersama mereka adalah rizki bagi kami.

Imam mengumandangkan iqamah. Surat Al-Fatihah dibaca begitu indahnya. Tepat sesuai makharijul huruf dan tajwid. Syahdu sekali subuh itu. Saya membayangkan, betapa makmurnya masjid-masjid di kota ini dahulu saat Turkistan Timur berjaya.

Tak tertahan lagi air mata saya menetes, ketika imam melantunkan Surat Al-Lail sampai pada ayat ini:

فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ ۝ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ۝ فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡیُسۡرَىٰ

“Dan bagi siapa yang memberikan yang ia miliki demi bertakwa (kepada Allah), dan menyakini balasan terbaik (dari Allah), akan Kami mudahkan jalannya menuju kebahagiaan.”

(simak dan pejamkan mata di slide 2 dan 3, yang berisi rekaman suara bacaan imam, Subuh itu)

Ya Allah, balut luka saudara kami ini dengan rahmat-Mu. Kuatkan mereka dalam ketakwaan. Mudahkan untuk mereka jalan menuju kebahagiaan. 😭

Seusai shalat dan berdzikir, sebagian mereka tersenyum dan menjabat tangan kami, sebagian yang lain berlalu. Tak ada yang berani berbicara dengan kami. Saya melihat imam memberi isyarat kepada jamaah agar segera pulang. Satu per satu jamaah keluar dari masjid. Yang saya tahu, imam masjid-lah yang paling beresiko jika ada jamaah yang berinteraksi dengan orang asing.

Ya Rabb, mereka ada di samping kami, shalat bersama kami, tapi tak satupun kalimat berani mereka ucapkan untuk kami. Rabbi, ampuni kami yang kufur atas nikmat silaturrahim, nikmat ukhuwah, nikmat persaudaraan yang Kau berikan kepada kami di Indonesia. 😭

#TheJourneyToXinjiang #12


 

 

 

Umaier Khaz menambahkan 4 foto dan 4 video.

Kemarin pukul 04.31 · 

•TERTOLAK BERULANG KALI•
@umaierkhaz

Seusai Shalat Subuh, kami mencoba menghabiskan waktu mendatangi masjid-masjid yang muncul di gugel map. Yang pertama kami datangi adalah masjid kedua yang hendak kami datangi sebelum kami terhenti di Masjid Uyghur tadi. Masjid digembok. Warga sekitar bilang masjid sedang diperbaiki tidak bisa digunakan. Kami beranjak ke masjid lain. (lihat slide 1 dan 2)

Kali ini unik nama masjidnya, Friendly Mosque. Tak ada gambar, tak ada review apalagi rating di peta. Kami nekat datangi. Sudah tidak ada masjid, yang ada proyek bangunan gedung. Kemungkinannya hanya dua. Memang tidak ada masjid, hanya titik yang diaplud ke gugel sebagai pencitraan bahwa Xinjiang baik-baik saja atau dahulunya ada masjid, tapi telah diratakan. (lihat slide 3 dan 4)

Kami menuju masjid berikutnya. Kali ini menegangkan, 3 aparat besar-besar menghadang kami. Meminta kami segera keluar dari masjid. Padahal kami bilang baik-baik, kami musafir hanya ingin shalat dhuhur. Karna khawatir kenapa-napa kamipun keluar. (lihat slide 5 dan 6)

Masjid berikutnya harus masuk ke dalam komplek. Tidak ada aparat. Ternyata masjid Uyghur. Mereka bertanya kami dari mana. “Kami saudaramu dari Indonesia” jawab saya. Mereka tersenyum menyambut kami dengan ramah. Tapi mereka memohon maaf kepada kami, karna tidak bisa mempersilahkan kami masuk. Ada aturan yang melarang mereka menerima turis. Lagi pula saya menghitung ada 4 CCTV semua mengarah ke gerbang utama. Mereka minta maaf. Cukup kecewa, kami pun mengucap salam kepada mereka. (lihat slide 7 dan 8)

Ya Allah, di kota seribu masjid ini kami tertolak berulang kali. Kufurnya kami jika kami masih malas-malasan menyambut panggilanMu, menegakkan shalat di negeri kami. 😭

#TheJourneyToXinjiang #13


 




 



 

Bottom of Form

 

 

 

Umaier Khaz

 menambahkan 2 foto baru.

2 jam · 

•PERTEMUAN TAK TERLUPAKAN•
@umaierkhaz


Cukup lama kami berkeliling di Urumqi, Xinjiang. Tanpa hasil. Tak ada satupun Uyghur yang berhasil kami temui untuk menceritakan keadaannya. Setiap kali ingin membuka topik, siapapun di kota ini dari Suku Han yang tak beragama, Suku Hui yang muslim, ataupun Uyghur sendiri, tak ada yang mau membahas tentang penderitaan Muslim Uyghurs.

Sampai kami memutuskan untuk terbang ke Xi’an hari itu juga. Ibu kota pertama dinasti tertua di China. Konon, di sana ada perkampungan Muslim Hui yang cukup terkenal. Siapa tahu kami mendapat info tentang Uyghur. Toh, di Urumqi kami sudah menyaksikan betapa sulitnya menjalankan ibadah di kota ini.

Sebelum meninggalkan Urumqi, salah satu dari kami ingin mampir ke destinasi wisata andalan Urumqi; Grand Bazzar International of Urumqi, sekedar membeli oleh-oleh untuk keluarga. Akhirnya kami ke sana. Komplek Grand Bazzar ini juga menyesakkan dada. Dahulu tempat ini adalah pusat peradaban Islam. Terbukti, ada masjid megah di dalamnya, dengan menara menjulang tinggi tanda Peradaban Islam berjaya di sini. Tidak diratakan oleh Pemerintah China, tapi dijadikan pasar, lengkap dengan hiburan musik ala China. Masjidnya? Tutup, tidak difungsikan lagi. Menyedihkan.

Rupanya kami lupa mengisi saldo Alipay dan Wechat (dua aplikasi e-money yang digunakan di China). Uang tunai pun tidak lebih dari 30 yuan. Oleh-oleh pun gagal dibeli. Akhirnya kami hanya foto berlatar masjid megah tersebut dan menaranya. Lalu kami putuskan ambil koper di hotel, lalu menuju bandara.


Kami kesulitan mencari taksi di tempat ramai ini. Semuanya penuh. Sampai berhentilah taksi illegal (mobil pribadi yang dikomerisialkan oleh pemiliknya) menurunkan penumpang. Lalu, sopirnya menawari kami untuk naik. Tak berpikir panjang, kami langsung naik.

Sopirnya seorang Uyghur. Kami pun memulai perbincangan dengan basa-basi agar ia mau membuka diri, “Suku apa saja yang ada di kota ini Tuan?”

“Ada Han, Hui, Uyghur, dan yang lain.” jawabnya. “Kamu Uyghur?” tanya kami.

“Ya saya Uyghur.” jawabnya. Ia tampak menjawab dengan tenang karna mungkin tidak ada CCTV di dalam mobil pribadinya.

(BERSAMBUNG)

#TheJourneyToXinjiang #14


 


Umaier Khaz menambahkan foto baru ke album: #PojokRuangan.

1 jam · 

•CAMP ITU ADA•
@umaierkhaz

 


“Dari mana kalian?” tanya sopir Uyghur ini ramah.

“Kami dari Indonesia, kami muslim. Kami di Indonesia sangat mencintai kalian Bangsa Uyghur.” terang kami kepadanya.

“Indonesia, kami Bangsa Uyghur sangat mengenal negerimu. Kami di sini cinta Muslimin Indonesia. Kami mendengar kabar kalian. Uyghur dan Indonesia sangat dekat, tak ada bedanya.”

Ketika patner kami yang lancar berbahasa China menjelaskan artinya kepada saya, langsung luluh hati saya. Seakan segala lelah berhari-hari terbayarkan. Ya Allah, di menit-menit terakhir kami di Xinjiang inikah caraMu mempertemukan kami dengan saudara kami Uyghur. 😭

Kami pun berkenalan. Sebut saja namanya Muhammad (nama samaran). Masih muda usianya 38 tahun. Perbincangan pun berlanjut. Semakin menarik kami berbincang. Seakan ingin sekali rasanya mobil berjalan lebih pelan, agar kami bisa bercerita banyak tentang Uyghurs.

Ia justru membuka pembicaraan, “Kalian sudah sholat? Kami di sini tidak bisa solat. Kami punya kemauan kuat untuk shalat di masjid, tapi kami tidak bisa. Kalau ketahuan shalat saja kami ditangkap.”

“Kamu pernah datang ke sini sebelumnya? Dahulu kami masih boleh shalat. Tapi sekarang tidak bisa.”

“Kalau ketahuan shalat, mereka langsung menangkap kami dan memasukkan kami ke camp.” lanjutnya.

“Jadi benar camp itu ada?” pinta saya kepada patner yang lancar berbahasa Cina untuk bertanya kepadanya.

“Benar. Camp itu ada.” jawabnya.

“Kami dengar di dalam camp, Uyghur dipaksa makan babi dan minum khamr?” tanya patner kamk spontan.

“Iya, benar sekali. Keluarga kami dipaksa makan babi dan minum khamr.”

“Ya Rabb…” teriak saya dalam hati. 😭

“Total masjid di Xinjiang dahulu ada 200 ribu masjid. Tapi sekarang habis. Coba kamu lihat sekarang. Masih ada bangunannya, tapi sepi. Kalian dsri Grand Bazzar kan tadi?Ada masjid besar kan? Itu kosong, tidak lagi digunakan.” lanjutnya.

“Kami di sini mengucap dan menjawab salam dilarang. Kalau kalian salam kepada Uyghur lalu tidak dijawab, jangan kecewa. Kami hanya takut bermasalah. Jika mereka dapati di HP kami ada sesuatu tentang Islam kami langsung ditangkap dan dimasukkan ke camp.”

Saya melihat GPS. Jarak kami dengan hotel sudah sangat dekat. Ketika kami meminta ia untuk mengantar ke bandara ia menolak. Berharap bisa berbincang lebih panjang. “Taksi illegal dilarang masuk bandara karna dendanya sangat besar.” terangnya.

Saya pun kembali bertanya kepadanya, “Camp-camp itu di mana?”

“Di tempat yg jauh dari kota.” jawabnya.

Mobil kami berhenti di depan hotel. Itu artinya kami harus berpisah dengan Muhammad. Tapi kami belum puas bertanya. Setidaknya ada satu pertanyaan lagi yang harus kami tanyakan, “Lalu dengan apa kami dapat menolong kalian?”

Negara kalian tidak bisa menolong kami.” jawabnya singkat.😥

Saya tidak paham apa maksud jawabannya. Kami mencoba berprasangka baik atas jawabannya. Yang ia katakan “negara kalian” bukan “kalian”.

Kami harus turun. Saya peluk erat Muhammad. “Semoga Allah menjagamu saudaraku.” bisikku.

Saya ajak Muhammad berfoto di dalam mobil. Seusai foto, Muhammad berkata kepada saya, ” Tolong jangan kau sebarkan fotoku.” Bodohnya saya, yang saya lakukan barusan bisa mencelakainya. Foto itu langsung saya hapus di hadapannya. Dia membalas dengan senyuman dan kalimat salam, “Assalamu alaikum.”

“Waalykumussalam warahmatullah..”😐

Lega sekali rasanya, Allah pertemukan kami dengan Muhammad sebelum kami meninggalkan Xinjiang. Semua ketidak jelasan itu terjawab. Semua yang saya ceritakan dalam tulisan #TheJourneyToXinjiang adalah fakta. Bukan sepertinya dan katanya. Kami mengalami, menyaksikan, dan mendengarkan langsung dari lisan Uyghur.

Saya dan patners tidak pernah dibiayai oleh lembaga A dan B untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Kami berangkat karna kecintaan kami yang membuncah kepada saudara kami Uyghur.

Kami hanya berharap perjalanan ini kelak menjadi hujjah di hadapan Allah ketika Allah bertanya sebesar apa kepedulian kita kepada saudara kita Uyghurs.

Semoga Allah membalas kebaikan ikhwah semua yang telah mendukung kami secara moril dan materiil, serta menyertai kami dalam doa-doa kebaikan. Aaamiin.

(Tulisan #TheJourneyToXinjiang ini belum berakhir. Masih ada syubhat yang perlu dijawab. Apakah Muslim Uyghur saja yang dibatasi haknya, ataukah Muslim China selain Uyghur juga diperlakukan sama? Dengan izin Allah, kami mendapatkan jawabannya.)

#TheJourneyToXinjiang #15


https://www.facebook.com/umaier.khaz.3?__/ dikutip tanpa menyertakan foto secara komplit

 

(nahimunkar.org)Top of Form


 

(Dibaca 817 kali, 5 untuk hari ini)