Tiap Jumat dinasehati, bertqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan jangan sekali-kali mati kecuali dalam keadaan Muslim (yaitu mukmin yang imannya benar).

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]

«Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam» [Al-i’Imran: 102]

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ(dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam) Yakni janganlah kalian dalam suatu keadaan kecuali dalam keadaan Islam sehingga apabila datang kematian yang datang secara tiba-tiba maka kalian dalam keadaan Islam./ (Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah. Referensi: https://tafsirweb.com)

Nasehat وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ(dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam) أَيْ: مُؤْمِنُونَ، artinya (dalam keadaan) mukmin (beriman dengan keimanan yang benar) menurut Tafsir Al-Baghawi. Nasehat itu senantiasa diulang setiap Jum’at oleh para khatib.

Menjaga iman Islam agar tetap utuh keislaman keimanan bagi setiap Muslim itu wajib, tidak boleh terlepas semenitpun. Makanya sebelum tidur pun ada doa pasrah kepada Allah Ta’ala pertanda menjaga Iman-Islam.

عَنْ حُذَيفَةَ ، وَأَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالاَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا أوَى إِلَى فِرَاشِهِ ، قَالَ : (( بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَأموتُ )) وَإذَا اسْتَيقَظَ قَالَ :(( الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَحْيَانَا بعْدَ مَا أماتَنَا وإِلَيْهِ النُّشُورُ )) . رَوَاهُ البُخَارِي

Dari Hudzaifah dan Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhuma, mereka berdua berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak tidur, beliau mengucapkan, ‘BISMIKA ALLOOHUMMA AHYAA WA AMUUT’ (dengan menyebut nama-Mu Ya Allah, aku hidup dan aku mati) dan apabila beliau bangun, beliau mengucapkan, ‘ALHAMDU LILLAHILLADZI AHYAANAA BA’DA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR’ (segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan hanya kepada-Nya kami kembali).” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6314 dan Muslim, no. 2711]. Sumber https://rumaysho.com

Sebegitu pentingnya menjaga iman Islam ini, hingga senantiasa disampaikan nasehat beruang-ulang. Namun sebagian orang justru kurang mengindahkan pentingnya menjaga iman Islam itu. Bahkan dengan gegabah /sembrononya dirusak sendiri keimanan keislaman yang harus dijaga setiap saat itu.

Misal, sudah disiari berkali-kali bahwa salam oplosan lintas agama itu merusak iman, bisa mengakibatkan murtad dan musyrik, namun masih saja dimasyarakatkan salam oplosan lintas agama yang tidak ada contohnya dalam Islam itu. Padahal salam Islam (assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barkatuh) itu dalah doa, sedangkan doa adalah ibadah. Maka ibadah tidak perlu dibikin-bikin, apalagi dioplos dengan salam-salam agama2 lain. Itu sama sekali tidak akan mendapat ridho dari Allah Ta’ala. Karena yang diridhoi hanyalah Islam.

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ [ آل عمران:19-19]

19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…. [Al ‘Imran:19]

Ketika Allah Ta’ala menentukan bahwa “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam….” [Al ‘Imran:19], ya Umat Islam tinggal mengimani, memegang teguh dan mengamalkannya. Tidak usah mencari-cari lainnya. Karena Allah Ta’ala telah wanti-wanti dengan firmanNya:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا[ الأحزاب: 36]

36. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [Al Ahzab:36]

Ketentuannya sudh jelas tegas. Ketika dilanggar dalam satu urusan saja, misalnya di sini adalah salam Islam (sudah jelas tuntunannya dalam Islam, yaitu ucapan: Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh) kemudian ada orang yang membuat baru menjadi salam Islam itu disertai salam-salam agama2 lain, (menjadi salam oplosan lintas agama), maka jelas melanggar ayat2 yang tegas seperti tersebut.

Mari kita cermati, seberapa bahayanya salam oplosan lintas agama itu.

***

Gawatnya Salam Oplosan Lintas Agama bagi Umat Islam

Posted on 6 Oktober 2021

by Nahimunkar.org

Salam oplosan lintas agama (salam Islam -Assalmu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh-, lalu disertai salam-salam agama2 lain) itu sangat gawat bagi umat Islam.

Gawat apanya?

Gawat dalam hal bisa menghancurkan aqidah (keimanan) Islam. Padahal kalau aqidahnya hancur, maka semua amal tidak diterima oleh Allah Ta’ala, akibatnya ketika mati masuk kubur dalam keadaan tidak membawa iman lagi. Termasuk orang-orang yang sangat rugi, bila iman Islamnya sudah hancur alias hilang.

Kenapa?

Karena salam Islam itu mengandung makna Tauhid, Allah Ta’ala, Tuhan yang Esa, itu inti dari keimanan dalam Islam, yaitu Laa ilaaha illallaah
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
artinya: Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah. Sedangkan salam agama2 lain itu mengandung makna ketuhanan yang berseberangan dengan Tauhid itu. Maka bila seorang Muslim mengucapkan salam agama2 lain berakibat rusaknya iman Islam secara prinsipil (karena menyangkut inti keimanan). Maka wajib dihindari. Dan itu sudah diingatkan oleh MUI Jawa Timur. (lihat MUI Jawa Timur Imbau Pejabat Muslim Tidak Ucapkan Salam Lintas Agama )

***

Demikianlah. Muslim mengucapkan salam agama2 lain berakibat rusaknya iman Islam secara prinsipil (karena menyangkut inti keimanan). Maka wajib dihindari.

Dan itu termasuk sudah diingatkan setiap Jum’at oleh para khatib:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ(dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam) Yakni janganlah kalian dalam suatu keadaan kecuali dalam keadaan Islam sehingga apabila datang kematian yang datang secara tiba-tiba maka kalian dalam keadaan Islam.

Bila tetap memakai salam oplosan lintas agama, dikhawatirkan perbuatannya itu mengakibatkan copotnya iman Islam. Sehingga walau sudah dinasihati setiap Jum’at tetap saja nekat, maka resikonya ya harus ditanggung sendiri.

Bila di akherat kelak kemudian digabungkan dengan orang2 agama lain selain Islam, maka betapa ruginya. Dan itu jelas telah ditetapkan sebagai orang yang rugi menurut QS Ali Imran 85, bila tergolong orang yang mencari selain Islam sebagai agamanya. Lha kalau berkilah bahwa dirinya beragama Islam, bukan mencari selain Islam sebagai agamanya, kenapa memakai salam2 agama2 selain Islam?

Di dunia saja bisa gelagapan menjawab soal itu. Apalagi di akherat kelak.

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 123 kali, 1 untuk hari ini)