NUSANEWS – Presiden Joko Widodo (Jokowi) didesak memberikan klarifikasi soal polemik peraturan daerah syariah dan Injil.

Juru Kampanye Prabowo Subianto-Sandiaga (Prabowo-Sandi) Uno Ustad Ansufri Idrus Sambo mengatakan, jika sama sekali tidak ada pernyataan menanggapi itu, besar kemungkinan Jokowi setuju dengan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie. Apalagi, Grace menyampaikannya dalam sebuah acara yang juga dihadiri Jokowi.

“Jadi saya kira tidak pas lah. Apalagi disampaikan di depan presiden,” katanya saat ditemui di Kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (19/11).

Penolakan atas perda yang dibuat berdasarkan keagamaan diutarakan Grace dalam sambutannya di hadapan Jokowi dan kader serta simpatisan PSI dalam Peringatan HUT ke-4 PSI, Minggu lalu (11/11).

“Seharusnya presiden bantah, kalau presiden diam saja berarti dia setuju dong, begitu. Kalau presiden diam, welcome berarti kan setuju. Kalau setuju apa yang dipersepsikan masyarakat benar kan,” kata Ustad Ansufri.

SUMBER © NUSANEWS.ID

***

Akhirnya Resmi, ‘Perda Syariat Islam’ Di Cabut Oleh Presiden Jokowi… Oh Saeni, Itukah Agenda Dibalik Insidenmu???

Posted on 18 Juni 2016 – by Nahimunkar.com

ilustrasi

Hari ini (13/6) Presiden Joko Widodo resmi menghapus ribuan peraturan daerah (perda) dengan alibi menghambat pertumbuhan ekonomi dan bertentangan dengan peraturan yang dibuat pemerintah pusat.

“Saya sampaikan bahwa Mendagri sesuai dengan kewenangannya telah membatalkan 3.143 Perda yang bermasalah tersebut,” kata Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (13/6/2016).

Meskipun beralasan bahwa ribuan perda tersebut terdiri dari 4 kategori yang meliputi perda yang menghambat pertumbuhan ekonomi daerah, perda yang memperpanjang jalur birokrasi, perda yang hambat perizinan investasi dan menghambat kemudahan usaha, dan perda yang bertentangan dengan Undang-Undang, namun begitu kentara ada tendensi keras dengan alasan bertentangan dengan pemerintah pusat, perda syariah yang dianggap intoleran pun disikat.

Alibi razia warung makan yang dikemas dengan make up intoleran, jahat, tidak berkeprimanusiaan, akhirnya nyata terbongkar. Upaya media yang memerankan kejahatan ini sukses membuat dukungan publik untuk penghapusan perda, termasuk perda syariah di dalamnya. Akhirnya, ramadhan yang mulia berhujung sakit tak terperi bagi umat Islam. Akankah mereka sadar dan mulai berbenah bahwa Islam yang mereka pegang tidak hanya diamalkan dimushola dan masjid saja. Bukankah bulan ramadhan yang mulia ini sudah saatnya kita berjuang ramai-ramai, layaknya beragam peperangan dan penaklukan Islam yang sudah dicontohkan teladan kita, rasulullah saw?

Sumber: pos-metro/suaranews.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 744 kali, 1 untuk hari ini)