Ilustrasi

.

Orang yang berakal mengetahui bahwa kehidupan dia yang sebenarnya adalah kehidupan (yang dia jalani dengan) bahagia dan ketenangan. Kehidupan ini pendek sekali, maka tidak sepantasnya dia memperpendeknya dengan kesedihan dan larut dalam kesusahan. Sebab, hal ini bertentangan dengan definisi kehidupan yang sebenar-nya. Oleh karenanya dia kikir untuk menghabiskan sebagian besar waktu dalam hidupnya buat bersedih dan bersusah saja. Dalam hal ini tidak berbeda antara orang yang baik dan orang yang jahat. Hanya saja orang mu’min dapat merealisasikan dengan lebih sempurna dan dengan balasan pahala yang lebih di dunia dan akhirat.

Seorang hamba –apabila ditimpa dengan musibah atau takut akan sebuah musibah– hendaklah membanding-kan antara nikmat-nikmat yang dia dapatkan, baik dalam urusan agama atau dunia dengan musibah yang sedang menimpanya. Dengan membandingkannya akan jelas baginya betapa banyak nikmat yang dia dapatkan dan tertutupilah musibah yang menimpanya.

Hendaklah dia juga membandingkan antara kemung-kinan bahaya yang akan menimpanya dengan banyaknya kemungkinan akan dapat selamat darinya. Janganlah sampai kemungkinan yang lemah dapat mengalahkan kemungkinan-kemungkinan kuat dan banyak. Dengan demikian, akan hilanglah kesedihan dan perasaan takut-nya.

Hendaklah dia memperkirakan kemungkinan paling besar yang dapat menimpanya, kemudian menyiapkan mental untuk menghadapinya bila memang terjadi, berusaha mencegah apa-apa yang masih belum terjadi dan menghilangkan atau meminimalisir musibah yang sudah terjadi.

Termasuk hal-hal yang bermanfaat adalah “Kita harus tahu bahwa gangguan yang dilakukan oleh orang lain kepada kita, –khususnya dalam bentuk kata-kata
kotor– tidak akan membahayakan kita, tetapi akan membahayakan dia sendiri. Kecuali jika kita menyibukkan diri dengan memperhatikannya, menenggelamkan perasaan kita dengannya, saat itu gangguan tersebut akan membahayakan kita sebagaimana juga membahayakan mereka. Bila tidak diperhatikan, sedikit pun tidak akan membahayakan.

Ketahuilah, kehidupan kita mengikuti pikiran kita. Bila pikiran kita berisi dorongan untuk memikirkan hal-hal yang bermanfaat bagi diri kita, baik dalam hal agama maupun dunia maka kehidupan kita akan menjadi baik dan bahagia. Begitu pula sebaliknya.

Termasuk hal yang berguna untuk mengusir kesedihan adalah “Menguatkan keinginan untuk tidak mengharapkan terima kasih selain dari Allah”. Bila kita berbuat baik pada orang yang mempunyai atau tidak mempunyai hak pada kita, maka ketahuilah bahwa yang terjadi adalah mu’amalah antara kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Janganlah kita mengharapkan ucapan terima kasih orang yang kita berbuat baik kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا } [الإنسان: 9]

“Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Al-Insan: 9)

Hal ini utamanya dilakukan saat kita bermu’amalah dengan keluarga, anak-anak kita dan semua orang yang mempunyai hubungan kuat dengan kita. Bila kita membulatkan tekad untuk menyingkirkan musibah dari mereka, maka sungguh kita telah menyenangkan diri mereka dan diri kita juga. Dan termasuk faktor yang dapat men-datangkan ketenangan adalah melakukan fadhilah (amal kebaikan) sesuai dengan dorongan jiwa tanpa ada paksaan/keterpaksaan yang biasanya mendatangkan kegelisah-an dan membuat kita gagal mendapatkan fadhilah itu sendiri. Sebab saat itu kita telah melalui jalan yang berliku. Ini adalah hikmah. Dan hendaklah kita dapat mengambil dari kejadian musibah itu hal-hal yang positif yang dengan demikian kesenangan akan lebih terasa, sementara kesedihan akan hilang.

Jadikanlah hal-hal yang bermanfaat itu selalu berada di depan mata kita, dan hendaklah kita berusaha untuk melakukannya. Janganlah kita menoleh pada hal-hal yang tidak berguna yang dapat mengundang kesedihan dan kesusahan. Jadikanlah ketenangan dan konsentrasi jiwa sebagai penolong kita untuk melakukan hal-hal yang penting.

Termasuk hal-hal yang berguna pula adalah: “Menyelesaikan tugas-tugas dengan segera dan mengosongkan diri dari tugas-tugas tersebut pada masa yang akan datang.” Sebab, bila ada tugas yang tidak diselesaikan dengan segera akan bertumpuklah pada kita tugas-tugas yang terdahulu dan berkumpul dengan tugas-tugas berikutnya, sehingga bebannya menjadi berat. Bila kita selesaikan setiap tugas pada waktunya, kita bisa menghadapi masalah-masalah yang akan datang dengan pikiran dan kekuatan yang masih fress (segar).

Hendaklah kita memilih di antara aktifitas-aktifitas positif kita, yang paling penting dahulu kemudian yang penting. Dan perhatikanlah apa keinginan kita. Sebab, menyalahi hal tersebut kan menimbulkan kebosanan dan perasaan tak enak. Untuk hal itu pergunakanlah pikiran yang sehat dan musyawarah. Tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah. Telitilah apa yang kita inginkan dengan seksama. Bila sudah jelas ada kemaslahatannya dan kita sudah bertekad melaksanakannya hendaklah kita bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesung-guhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala senang kepada orang-orang yang bertawakkal.

alsofwa.com 08JUN2004

(nahimunkar.com)

(Dibaca 454 kali, 1 untuk hari ini)