Ilustrasi sofyanruray


Pagi-pagi di suatu desa masa lalu ada anak petani membantu ayahnya menuntun dua sapi ke sawah untuk membajak sawah. Di jalanan sempit tengah sawah ada jembatan berlubang. Sapi pun kakinya terperosok. Dengan agak susah payah, kemudian alhamdulillah sapi itu dapat naik dan melanjutkan perjalanan ke tujuan. Namun pulangnya, sapi itu ketika akan dilewatkan lagi di jembatan berlubang itu maka si sapi tidak mau. Mogok. Terpaksa penuntun sapi itu harus beralih jalan.

Nah, sapi saja yang jelas-jelas binatang, ternyata tidak mau terperosok ke lubang yang sama dua kali. Maka sejatinya manusia lebih tidak layak untuk mau terperosok dua kali dalam satu lubang.

Ketika sudah dikecewakan oleh tingkah polah seseorang atau bahkan gerombolan tertentu, maka tidak layak manusia ini untuk tertimpa kecewa kedua kalinya dari orang yang telah mengecewakan tersebut atau dari gerombolan yang telah menyusahkannya.

Dalam Islam, ada peringatan dari Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ ». متفق عليه

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, Tidak selayaknya seorang mukmin disengat (binatang berbisa) dari satu lubang dua kali,” (HR Bukhari [6133] dan Muslim [2998])

Kandungan hadits itu di antaranya adalah peringatan agar tidak lalai, dan senantiasa menggunakan kecerdasan. Sebab seorang mukmin jika tergelincir di satu tempat maka ia tidak akan melintas di tempat itu lagi. Oleh karena itu, Muawiyah r.a. berkata, “Tiada seorang (jadi) bijak kecuali setelah mendapatkan pengalaman,” (HR Bukhari [10/529]).

Maksudnya ialah bahwa pengalaman dapat menguak permasalahan yang samar sehingga merubah pemiliknya menjadi seorang yang bijaksana serta mengingatkan apa yang akan terjadi. Dengan demikian ia tidak akan melakukan suatu urusan kecuali dengan cara yang baik. Allahu a’lam. (lihat Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 3/324-327).

Kesimpulannya, tidak layak terjeblos ke lubang yang sama dua kali. Sapi atau lembu pun tidak mau, apalagi manusia. Bila manusia mau bahkan rela terjeblos dalam satu lubang dua kali, berarti lebih tidak hati-hati dibanding sapi sekalipun.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 699 kali, 1 untuk hari ini)