Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

“Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah (berkuasanya) para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Darimi. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Shahihah: 4/109, no. 1582, dalam Shahih al-Jami’, no. 1773 dan 2316)

Menurut penulis Fath al-Majid, penggunaan kata Innama yang mengandung makna al-hashr (pembatasan/penghususan) menjelaskan bahwa beliau sangat takut dan khawatir terhadap umatnya dari para pemimpin yang menyesatkan.

Bahkan fitnah yang ditimbulkannya lebih menakutkan daripada fitnah Dajjal. Abu Dzar pernah pertanya kepada Nabi SAW,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ شَيْءٍ أَخْوَفُ عَلَى أُمَّتِكَ مِنْ الدَّجَّالِ قَالَ الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

“Wahai Rasulullah, apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal? Beliau menjawab, “Para pemimpin yang mudhillin (menyesatkan)”.” (HR. Ahmad. Syaikh Al-Albani mengatakan para perawinya terpercaya kecuali Ibnu Luhai’ah buruk hafalannya/ : السلسلة الصحيحة
الصفحة أو الرقم: 4/110 |.)

Al-Aimmah al-Mudhillin (para pemimpin penyesat umat) masuk di dalamnya para umara (pemimpin pemerintahan), ulama, dan ahli ibadah. Para umara tersebut adalah mereka yang menerapkan hukum dengan selain hukum Islam, bertindak dzalim, diktator, kejam, dan tidak menunaikan hak-hak rakyat.

Para ulama yang menjadi pemimpin menyesatkan ialah mereka yang menyembunyikan ilmu dan mengubah kebenaran. Suka mengakali dalil untuk kepentingan syahwat atau kepentingan para pemimpinnya.

Sedangkan para ahli ibadah yang menjadi pemimpin menyesatkan, karena mereka suka membuat tata cara ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka lalu ditiru dan diidolakan. Apalagi kalau mereka sampai memotivasi umat untuk melaksanakannya. Akibatnya, dia sesat dan menyesatkan manusia. Keberadaan mereka menyebabkan Islam roboh. Dari Ziyad bin Hudair berkata. Umar bin Khattab berwasiat kepadaku, “Apakah engkau tahu apa yang akan menghancurkan Islam?” Aku (Ziyad) menjawab, “Tidak.” Beliau berkata, “Yang akan menghancurkannya adalah menyimpangnya ulama, gugatan orang munafik terhadap Al-Kitab, dan hukum para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. al-Daarimi. Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Takhrij al-Misykah (1/89), “sanadnya shahih.”) / annajah.net

***

Tiga Manusia Perusak Agama

by Nahimunkar.com, 5 Januari 2017

Marilah kita simak perkataan Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan dari Ziyad bin Hudair, ia berkata: Umar bin al-Khathab pernah berkata kepadaku,

هَلْ تَعْرِفُ مَا يَهْدِمُ الإِسْلاَمَ؟ قَالَ قُلْتُ : لاَ. قَالَ : يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ

“Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam?” Ia (Ziyad) berkata, aku menjawab, “Tidak tahu.” Umar berkata, “Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan/tergelincirnya orang alim, bantahan orang munafik dengan Al-Qur’an, dan hukum (keputusan) para pemimpin yang menyesatkan.” (Riwayat Ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih).

Mereka itu secara sendiri-sendiri pun sudah mengakibatkan rusaknya agama. Terutama bagi diri masing-masing mereka. Padahal masing-masing mampu mempengaruhi masyarakat secara luas. Betapa besar perusakan mereka terhadap agama.

Lebih dari itu, mereka yang masing-masing berpengaruh secara luas itu mampu pula saling bersekongkol untuk mempengaruhi (baca menjerumuskan) orang banyak. Lantas, betapa dahsyatnya perusakan mereka ketika mereka bersekongkol untuk menjerumuskan manusia. Dan betapa pula bila mereka yang sudah bersekongkol itu disponsori oleh boss anti agama (Islam), dan didukung penyebarannya oleh media-media anti agama pula. Akan seperti apa bahayanya dalam merusak agama.

Sebaliknya, yang mencegah perusakan hebat itu, misalnya situs-situs dakwah, tahu-tahu secara serempak dihantam blokir oleh suatu keputusan yang menjadikan makin leluasanya keadaan perusakan tersebut. Hanya saja, upaya mereka itu semua pun sia-sia.

Kenapa?

Karena Allah Ta’al telah menjanjikan:

{يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ } [الصف: 8]

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya” [As Shaff:8]

Hartono Ahmad Jaiz

***

1- كنتُ مُخاصرَ النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يومًا إلى منزلِه فسمعتُه يقول : غيرُ الدَّجَّالِ أخْوفُ على أُمَّتى من الدَّجَّالِ . فلما خشيتُ أن يدخلَ قلتُ : يا رسولَ اللهِ أيُّ شيءٍ أخوفُ على أُمَّتِك من الدَّجَّالِ ؟ قال : الأَئمةُ المُضِلِّينَ
الراوي : أبو ذر الغفاري | المحدث : الألباني | المصدر : السلسلة الصحيحة
الصفحة أو الرقم: 4/110 | خلاصة حكم المحدث : رجاله ثقات، إلا أن ابن لهيعة سيء الحفظ
التخريج : أخرجه أحمد (21297)

________________________________________

2 – قلت يا رسولَ اللَّهِ ، أيُّ شيءٍ أخوفُ على أمَّتِك من المسيحِ الدَّجَّالِ ؟ قالَ : الأئمَّةَ المضلِّينَ
الراوي : أبو ذر الغفاري | المحدث : ابن مفلح | المصدر : الآداب الشرعية
الصفحة أو الرقم: 3/293 | خلاصة حكم المحدث : [ فيه ] ابن لهيعة
التخريج : أخرجه أحمد (21297) باختلاف يسير

sumber: dorar.net / Hartono Ahmad Jaiz
(Dibaca 15.911 kali, 2 untuk hari ini)