MALANG– Anda pernah dengar ice bucket challenge (IBC)? Jika iya, maka sudah saatnya Anda juga berkenalan dengan #tilawahChallenge. Kegiatan tantangan baca Qur’an ini diadopsi dan diadaptasi oleh seorang mahasiswa Universitas Brawijaya bernama Muhammad Fitrah Febriansyah dari sebuah video viral tilawatil qur’an dari tokoh Muslim Kanada-Amerika Mohammad Zeyara dan Imran Abdelhamid Salha pada Facebook, Jum’at (13/9/2014).

Rute video viral adalah trend terbaru di Internet. Untuk Ice bucket challenge saja, The New York Times melaporkan bahwa lebih dari 1,2 juta video dibagikan di Facebook antara 1 Juni dan 13 Agustus. IBC disebutkan di Twitter lebih dari 2,2 juta kali sejak 29 Juli tahun ini.
Berbeda dengan Rute video viral IBC yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit yang disebut ALS. ” #TilawahChallenge hadir untuk meningkatkan semangat Muslim Indonesia untuk belajar membacca Al-Qur’an,” ujar Fitrah.

“Ga perlu malu dan niatkan saja untuk belajar,” terangnya kepada kaum Muslimin Indonesia. Caranya juga mudah, Fitrah menyarankan bahwa, setelah melihat video tilawahnya, penerima tantangan diajak merekam bacaan qur’annya dan membuat tantangan baru minimal 1 ayat, ke teman terdekatnya. Lalu penantang menulis tag #TilawahChallenge pada status mereka. Maasyaa Allah, sungguh inovasi dakwah membumikan Qur’an yang kreatif dan inovatif.

Jika untuk IBC banyak tokoh dunia yang telah mengambil bagian dan juga menyumbangkan hartanya untuk alasan meringankan para pengidap ASL, seperti Zuckerberg, Timberlake, dan Fallon; maka tak mustahil gerakan membumikan Qur’an ini juga dapat diikuti banyak kalangan Muslim Indonesia, termasuk artis, politisi, aktivis, bahkan anak-anak sekolah, serta Ummat Islam pada umumnya.
Semoga niat baik Fitrah menjadi amal jariyah dan membantu upaya melahirkan generasi Qur’ani Indonesia yang kreatif dan inovatif. “Jangan takut salah ya guys…kalau salah perbaiki saja, lanjutkaan!!” demikian salah satu penerus tantangan dari gerakan #TilawahChallenge ini. Allohu Akbar.

(adibahasan/arrahmah.com) Adiba HasanSenin, 21 Zulqa’dah 1435 H / 15 September 2014 12:06
***

Bahaya Kesehatan di Balik ‘Ice Bucket Challenge’

Intisari-Online.com – Demam Ice Bucket Challenge (IBC) atau sebuah gerakan menyiram diri sendiri dengan air es sebagai bentuk inisiatif menggalang dana memang sedang menjadi tren di dunia maya. Banyak pelaku gerakan ini, mulai dari selebriti, tokoh publik, hingga orang biasa yang melakukannya hanya sekadar iseng. Namun, kita harus berhati-hati, pasalnya telah terjadi beberapa kasus telah menunjukkan adabahaya kesehatan di balik Ice Bucket Challenge.

Risiko IBC pun tak main-main. Belum lama ini, bahkan beredar sebuah video seorang remaja Amerika Serikat bernama Sergio Cardozo yang dilaporkan meninggal di tempat, sehabis melakukan IBC bersama kedua temannya. Dalam videonya, ia bersama dua temannya melakukan IBC dengan sebuah tong sampah berisi air dingin dan es. Tak lama kemudian, air dituangkan ke atas kepala Sergio dan tong sampah yang digunakan, dijatuhkan.

Meski telah mengenakan helm untuk melindungi kepalanya, Sergio langsung meninggal dunia setelah lehernya mengalami cedera akibat tertimpa tong sampah.

IBC yang berisiko

IBC sendiri adalah sebuah gerakan dengan tujuan yang positif. Gerakan yang dibuat sebagai salah satu kampanye menggalang dana untuk penelitian penyakit ALS atau dikenal dengan Lou Gehrig’s Diseaseini menantang seseorang untuk menyiram air es di kepalanya dan merekamnya dalam video. Nantinya, video tersebut akan diunggah di internet, disertai dengan donasi sekitar US$ 10 hingga US$ 100.

Namun, kegiatan yang populer di berbagai kalangan ini rupanya bukan tanpa risiko. Meski dianggap sebagai hal yang tak begitu berbahaya, dalam skala kecil, tantangan ini bisa menyebabkan cedera mata, akibat gesekan bongkahan kecil es pada kornea. Pelaku juga berisiko terkena hipotermia karena tekanan air es secara mendadak dan dalam jumlah banyak pada bagian kepala.

Berbahaya bagi jantung

Siraman air es yang langsung dan mendadak pada kepala juga menyebabkan tubuh shock. Detak jantung pun akan langsung menurun dan menyebabkan ritme kerja jantung terganggu. Dr Daniel Jurewitz, seorang kardiolog dari Santa Barbara mengungkap, inilah yang kemudian bisa memicu masalah pada kesehatan jantung dan kardiovaskular. “Pada orang-orang tertentu, meski secara tidak langsung, hal ini bisa menyebabkan serangan jantung hingga kematian,” Jurewitz menjelaskan.

Pernyataan Jurewitz sendiri didukung oleh Dr Stephen Wealthall. Menurut Wealthall, menyiram air es pada kepala bisa menyebabkan refleks pada saluran udara untuk menutup laring. Akibatnya, detak jantung menjadi lambat, bahkan menyebabkan seseorang berhenti bernapas.
author : Chatarina Komala
Thursday, 21 August 2014 – 07:30 pm

(nahimunkar.com)

(Dibaca 349 kali, 1 untuk hari ini)