muktamar NU007

Suasana sidang pleno Muktamar ke 33 NU di alun-alun Jombang, Minggu (2/8).

JOMBANG, BANGSAONLINE.com – Tim sukses Prof Dr KH Said Aqil Siradj secara terang-terangan tega memfitnah KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Tudingan ini disampaikan salah satu anggota tim sukses Said Aqil Siradj, Samsul Hadi Karim.

Dia mengatakan gerilya tim sukses Gus Solah sudah lebih dulu dilakukan sebelum Muktamar berlangsung. “Kami tahu pergerakan mereka,” katanya kepada Tempo, Senin, 3 Agustus 2015.

Samsul mengatakan dirinya mendapat informasi bahwa tim Gus Solah memberikan uang saku sebesar Rp 2,5 juta kepada masing-masing delegasi Pengurus Cabang NU. Selain itu, setiap pengurus cabang diberi sebuah laptop untuk kegiatan operasional mereka.

Isu pemberian laptop dan uang kepada PCNU itu memang sempat menyebar. Tapi bukan dilakukan oleh Gus Solah atau timnya. Melainkan kandidat lain yang selama ini justru menggerogoti suara Gus Solah.

Adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu justru dikenal bersih. ”Kalau saya pakai cara-cara kotor membeli suara, kakek (Mbah Hasyim Asy’ari) dan ayah (KH A Wahid Hasyim) saya nangis. Jarak rumah yang saya tempati dengan makam kakek dan ayah saya hanya berjarak sekitar 40 meter. Jadi malu saya,” kata Gus Solah di setiap kesempatan.

”Saya ini termasuk penganut Jabbariah. Saya yakin sekarang ini Allah SWT sudah menentukan siapa yang akan mimpin NU. Jadi tak perlu pakai cara-cara tak benar yang merusak NU,” tambahnya.

Bahkan KHA Hasyim Muzadi berkali-kali menyatakan bahwa Gus Solah adalah tokoh nasional yang clear dan clean. Artinya, bersih dari praktik riswah dan tak pernah tersangkut kasus apapun karena memang terkenal sebagai tokoh lurus. ”Sekarang ini sulit mencari tokoh seperti Gus Solah,” kata pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang Jawa Timur dan Depok Jawa Barat itu.

Ternyata bukan hanya Gus Solah yang jadi sasaran fitnah. Andi Jamaro Dulung, mantan ketua PBNU yang selama ini aktif mendampingi Gus Solah juga difitnah. Siang tadi (3/8) semua PCNU dapat sms yang isinya: “bagi para penolak AHWA agar mengirimkan nomor rekening kepada Andi Jamaro Dulung,” demikian bunyi sms tersebut.

Karena itu ketika pertemuan dengan PCNU siang tadi, Andi sempat tanya. ”Apa cabang-cabang dapat SMS,” tanyanya. Para Ketua PCNU menjawab serentak: “dapat….!”. Baik Andi maupun PCNU pun langsung tertawa, karena mereka tahu itu hanya fitnah. Andi Jamaro jadi sasaran fitnah karena sebelumnya mengungkap kasus penyuapan AHWA.

Ia mengaku mendapat banyak laporan dari PWNU dan PCNU bahwa mereka ditawari uang antara Rp 15 sampai Rp 25 juta asal mau mendukung AHWA. Bahkan Gus Ghofar, pengurus Pesantren Tebuireng sempat memergoki penyusup yang mengiming-imingi uang kepada peserta yang menginap di Pesantren Tebuireng. (Baca juga: PCNU Diming-imingi Rp 5 Juta agar Mau Dukung AHWA)

Uniknya, kemarin BANGSAONLINE.com secara kebetulan bertemu dengan orang yang ditengarai jadi penyusup utusan parpol itu di lokasi sidang di alun-alun Jombang. Dalam obrolan santai ia membantah ditangkap. Tapi ia mengakui kalau berusaha mengajak Rais Syuriah yang dia akui kenal dari daerahnya.

”Saya bilang mari bersinergi dengan kita. Kita bisa kasih uang asal mau mendukung AHWA. Tapi dia (Rais Syuriah) bilang kita ini gak enak. Orang Jawa itu kan kalau sudah nginap dan dikasih makan di Tebuireng, kan gak enak dukung yang lain,” katanya menirukan penolakan Rais Syuriah itu.

Beberapa PWNU kemarin juga melaporkan kalau para anggota DPR di daerahnya juga mendapat instruksi dari ketua umum parpolnya. Menurut PWNU, para anggota DPR dan pengurus partai itu menuturkan kalau mereka diberi ID card sebagai peserta peninjau dan harus mempengaruhi PCNU sekaligus memberi uang.

Bahkan dalam forum sidang yang membahas AHWA diungkap secara vulgar kasus penyuapan untuk mendukung AHWA. Peristiwa itu terjadi saat salah seorang PWNU Jatim menyatakan bahwa AHWA itu untuk mengangkat marwah kiai dan untuk mengurangi riswah (politik uang). Seketika itu juga Katib Syuriah PWNU Kepulauan Riau H Nuheri langsung mengacung dan berbicara. ”Kalau untuk menghilangkan riswah kenapa waktu acara Pra Muktamar NU di Medan kami ditawari uang asal mau mendukung AHWA,” katanya lantang. (Baca juga: “Muktamar Jombang, Muktamar Terburuk Sepanjang Sejarah”)

Para pendukung AHWA langsung naik pitam. Ia ditunjuk-tunjuk dan mau dipukul. Ia kemudian diamankan Banser. ”Tapi Banser ada yang menendang dari belakang,” katanya mengisahkan awal kisruh sidang yang membahas Ahwa. Sidangpun langsung diskors. (Baca juga: Gus Solah: Muktamar di Jombang Memprihatinkan) (tim)  bangsaonline.com, Selasa, 04 Agustus 2015 00:11 WIB

(nahimunkar.com)