Akibatnya, mereka maunya mendukung Jokowi-JK namun sejatinya justru membuat jatuh. Akibatnya lagi, yang kecewa dengan Jokowi-JK kemudian terang-terangan mendukung Prabowo.

Inilah ulasan seorang yang menyebut dirinya Pecel Tempe di satu media social.

Silakan menyimak.

 

***

Makin Nyleneh, Kader PDIP Dukung Prabowo

Pecel Tempe

27 Jun 2014 | 20:36

Setelah Timses Jokowi – JK  gagal faham terlebih Anis Baswedan yang gagal  mengartikan kebocoran yang diangkat Prabowo dalam debat capres yang tidak mengutip data indikasi  kebocoran keuangan DKI  sebagaimana hasil audit BPK yang dipakai untuk membully Prabowo dengan kata bocor dan bocor oleh Tim medsosnya, ternyata sekelompok kader PDIP ini gagal faham juga.

Kelompok kader PDIP ini bukannya mendukung Jokowi – JK yang diusung partainya, tapi malah mendukung Prabowo Subianto di rumah Polonia, markas pemenangan pilpres Prabowo – Hatta.

Sumber: foto : Inilah.com

Didalam foto diatas jelas terlihat logo PDIP  Banteng moncong putih, namun spanduk yang melatar belakangi kader PDIP tersebet  tertulis Menangkan Prabowo – Hatta.Sebelumnya, aksi mendukung Prabowo-Hatta oleh kader PDIP, juga pernah dilakukan di Jawa Barat.

Gagal Timses dan Tim Medsos Jokowi – JK memang sudah berulang ulang, juga gagal faham  itu terjadi pada JK.  Seperti dalam debat capres yang pertama,  cecaran JK disambut gegap gempita oleh di Tim Medsos yang membully Prabowo Subianto.  Belakangan mungkin baru tersadar, telunjuk Prabowo mengarah kepada Wiranto.

Wiranto harus menghadapi serangan dari banyak pihak, saya dipaksa untuk berbicara yang sebenarnya, begitulah kilahnya karena dituding melakukan kampanye hitam. Walaupun KPU menyatakan Wiranto tak bersalah, terbetik kabar dari Timor Leste Wiranto buronan pengadilan PBB di Timor Leste. Malahan isu semakin berkembang, Wiranto juga menjadi target  peradilan  Internasional  PBB  di Den Haag.

Kesalahan memberikan briefing kepada tim medsos berakibat fatal,Wahyu Nugroho (49), seorang warga Solo dan Tim Advokasi Anti Kebohongan Surakarta (TANGKIS) mendatangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Mereka datang untuk mengantarkan saksi terkait dugaan korupsi duplikasi & manipulasi data Program Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakart. Wong Solo ini, jauh-jauh dari Solo, kota yang diklaim  90 % mendukung Jokow,mungkin bagian yang 10  % yang tidak gagal faham, alias tidak percaya dengan media. Sebelumnya, dua elemen masyarakat mendatangi KPK untuk mendesak KPK menangani dugaan kebocoran keuangan di Pemprov DKI.

Itu Ftnah ..!  Begitulah pembelaan Tim medsos  Jokowi – JK. Jutaan masyarakat menonton dan mendengar apa yang disampaikan oleh Prabowo Subianto, tak ada sama sekali menuding Jokowi. Timses  dan Tim Medsosnya Jokowi – JK sendiri yang memblow up di media, bocor dan bocor digunakan untuk membully Prabowo.

Harus diakui, adalah kepiawaian Prabowo yang mengangkat masalah kebocoran keuangan yang pastinya targetnya Jokowi yang sangat mungkin menyentuh pada masalah kebocoran keuangan negara. Timses Jokowi  terkecoh atau mungkin terlalu polos melakukan strategi, justru melakukan tindakan memblow up masalah kebocoran sebagai blunder Prabowo.

Prabowo bukan birokrat atau pejabat negara, tak bersentuhan dengan penggunaan keuangan negara sehingga tidak akan menjadikan isu kebocoran keuangan negara ditudingkan kepadanya. Sebaliknya, Jokowi yang sebelum menjadi Gubernur DKI menjadi Walikota Solo  sangat rentan terhadap tudingan melakukan tindakan korupsi seperti yang ditengarai masyarakat Solo dan Jakarta yang mendatangi KPK./ http://m.kompasiana.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.374 kali, 1 untuk hari ini)