Tokoh Liberal Feminis Sekuler Anti Islam Mati

  • Mengambil Hikmah.. Dua Tokoh Berbeda Kutub, yang Meninggal Hampir Bersamaan
  • Syaikh Muhammad Ali Ash Shabuni penulis Tafsir As-Shobuni wafat pada usia 91 tahun, Jumat (19/3). (Lahir tahun 1930 di kota Aleppo Syiria)
  • Penulis novel asal Mesir Nawal El Saadawi, (seorang nenek2 kelahiran 1931) tokoh liberal sekuler pegiat emansipasi wanita yang sangat anti Islam, mati 21 Maret 2021.

Silakan simak ini.

***

Mengambil Hikmah.. Dua Tokoh Berbeda Kutub, yang Meninggal Hampir Bersamaan

 


Kematian Model Apa Yang Kita Pilih. Semua Ditentukan Taubat Nasuha dan Konsistensi.

 

Ada dua tokoh kesohor yang lahir di tahun sama dan wafat di tahun yang sama. Dua tokoh yang berbeda kutub. Pertama, Syaikh Muhammad Ali Ash Shabuni seorang ulama mewakili kutub Sunni, haroki, dengan karya fenomenal. Kedua, Penulis asal Mesir Nawal El Saadawi seorang tokoh Liberal Sekuler Arab yang sangat membenci Islam, namun dipuja puji dunia Barat. 

 

Pertama, Syaikh Muhammad Ali Ash Shabuni  pengarang Tafsir As-Shobuni. Kitab yang diajarkan di Pesantren PERSIS No 19 Bentar Garut, tempat saya (Dr. Nandang Burhanudin) menimba dasar-dasar ilmu keIslaman. Saya berkesempatan jumpa satu kali dengan beliau saat kunjungan ke Aleppo. Beliau lahir tahun 1930 di kota Aleppo Syiria. Lulus Al-Azhar tahun 1955.

 

Kedua, Penulis asal Mesir Nawal El Saadawi, pegiat emansipasi wanita yang sangat anti Islam. Buku yang paling populer adalah Woman at Point Zero, yang pertama kali diproduksi dalam bahasa Arab tahun 1975. Buku ini juga dialihbahasakan ke bahasa Indonesia dengan judul Perempuan di Titik Nol.

 

Usai revolusi Mesir Januari 2011 dan revolusi Syiria tak lama kemudian. Syaikh Ash-Shobuni memilih sikap kontra rezim diktator. Beliau menjuluki Basyar Assad dengan julukan Musailamah Al-Kadzab. Sementara El-Saadawi terus menjilat penguasa kudeta AsSisi. Merasa diberi panggung, karena AsSisi sangat antipati dengan Islam dan memerlukan El-Saadawi untuk memoles dirinya di hadapan penguasa Barat. 

 

Allah menakdirkan, keduanya meninggal dunia hampir bersamaan. Syaikh Ash-Shobuni belum melihat Bashar Assad lengser usai 10 tahun revolusi. Demikian As-Saadawi, dia harus melihat pahit: jilbab yang ia nistakan, kini digunakan ibu negara Turki, anggota Kongres AS, dan para Muslimah Barat. 

 

Syaikh Ath-Thuraifi mengatakan,

 
 

‏مَن عجز عن نُصرة المظلوم فلا يمدح الظالم، فإنّه لا يَظلم إلا من اعتاد على المدح بلا نُصح، فالمدح يُنسيه ويُطغيه .

 

“Barangsiapa yang tidak mampu membela pihak-pihak yang dizhalimi, maka hendaklah tidak memuji-muji pelaku zhalim. Sebab tidaklah ia terbiasa melakukan kezhaliman, melainkan karena ia biasa dipuji tanpa nasihat. Pujian membuatnya lalai dan bersikap melampaui batas.”

 

(Oleh: Dr. Nandang Burhanudin)

By KONTENISLAM.COM  Monday, March 22, 2021 

***

Keutamaan Umur Panjang Disertai Ketaatan 
Sesungguhnya panjang umur merupakan modal untuk meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Namun jika umur yang panjang dipenuhi dengan keburukan, maka pemiliknya  menjadi orang yang paling buruk.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ  مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ  قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ  مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ 

Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasûlullâh, siapakah manusia yang terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang terburuk?” Beliau menjawab, “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya”. [HR. Ahmad; Tirmidzi; dan al-Hâkim. Dishahihkan oleh al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, 3/313, no. 3363, Maktabul Ma’arif, cet. 1, th 1421 H / 2000 M]

Kenapa orang yang panjang umurnya dan baik amalnya merupakan orang terbaik ? Karena orang yang banyak kebaikannya, setiap kali umurnya bertambah maka pahalanya juga bertambah dan derajatnya semakin tinggi. Kesempatan hidupnya merupakan tambahan pahala dengan sebab nilai amalannya yang terus tambah, walaupun hanya sekedar istiqâmah di atas iman. Karena apakah yang lebih besar dari iman di dalam kehidupan ini?

Sebaliknya, seburuk-buruk orang adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya, karena waktu dan jam seperti modal bagi pedagang. Seyogyanya, dia menggunakan modalnya dalam perdagangan yang menjanjikan keuntungan. Semakin banyak modal yang diinvestasikan, maka keuntungan yang akan diraihnya juga semakin banyak. Barangsiapa melewatkan hidup untuk kebaikannya maka dia telah beruntung dan sukses. Namun barangsiapa menyia-nyiakan modalnya, dia tidak akan beruntung dan bahkan merugi dengan kerugian yang nyata”. [ Lihat Faidhul Qadîr, 3/480]

Referensi: https://almanhaj.or.id/14369-umur-untuk-amal-shalih-2.html

 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 1.233 kali, 1 untuk hari ini)