Tokoh NU dan Muhammadiyah Kunjungi China, Sakiti Umat Islam Ulangi Kasus Kunjungan Mereka ke ‘Israel’


Logo Muhammadiyah dan NU/ foto kps

 

Inilah Mereka yang ke Xinjiang, 15 orang dari delegasi NU, MUI, dan Muhammadiyah

Rombongan yang bertolak ke Xinjiang berjumlah 15 orang yang terdiri dari delegasi NU, MUI, dan Muhammadiyah. Masing-masing organisasi terdiri dari lima orang. Sementara pimpinan delegasi masing-masing adalah Robikin Emhas (NU), Muhyiddin (MUI), dan Syafiq Mughni (Muhammadiyah).

Selama di Xinjiang mereka akan menjalani berbagai rangkaian kegiatan. Pada hari ini, Kamis (21/2), rombongan bertemu dan dialog dengan otoritas Xianjing Islamic Institute. Selain itu, rombongan juga berkunjung ke tempat dimana dokumentasi serangan terorisme dan kekerasan Xianjing dipamerkan.


Delegasi berkunjung ke Exhibition on Major Violence Terorist Attack Cases in Xianjing.


Sementara besok harinya, Jum’at (22/2), rombongan akan berkunjung ke Lembaga Pelatihan dan Pendidikan Vokasi Kapubaten Karakax dan Kashgar. Dua tempat yang selama ini diberitakan oleh sementara kalangan sebagai kamp penyiksaan Muslim Uighur. 


Sebelumnya, satu anggota Komite Penghapusan Diskriminasi Rasional PBB, Gary McDougall mengungkapkan, sekitar dua juta warga Uighur dan kelompok minoritas Muslim lainnya diwajibkan menjalani indoktrinasi di sebuah kamp politik di Xinjiang. 


“(China) telah mengubah wilayah otonomi Uighur menjadi sebuah penampungan raksasa rahasia, semacam sebuah zona tanpa hak asasi,” kata McDougall, dikutip dari lama Reuters, Sabtu (11/8/2018).


Sementara lembaga hak asasi manusia yang bermarkas di New York, Human Right Watch, mengeluarkan sebuah laporan yang menguatkan tuduhan PBB tersebut di atas. Sebagaimana dikutip Reuters, Senin (10/9/2018), Human Right Watch melaporkan, sebagian besar minoritas Muslim Uighur di Xinjiang China mengalami penahanan sewenang-wenang. Mereka juga menghadapi pembatasan harian terhadap praktik keagamaan dan ‘indoktrinasi politik paksa.’


Menurut Human Right Watch, di ‘kamp-kamp tahanan itu,’ Muslim Uighur dan lainnya dilarang mengucapkan salam. Mereka harus mempelajari bahasa Mandarin dan menyanyikan lagu-lagu propaganda. Jika menolak instruksi yang ditetapkan pihak berwenang, mereka akan dihukum seperti tidak mendapatkan makanan atau berdiri selama 24 jam, atau ditempatkan di ruang isolasi.


Tidak hanya sampai di situ, diberitakan Muslim Uighur juga dilarang mengenakan jilbab, memelihara jenggot, dan melakukan ritual-ritual keagamaan di depan umum. Bahkan, rumah-rumah mereka di wilayah Xinjiang dipasangi kode QR sebagai upaya untuk mengontrol populasi dan aktivitas Muslim Uighur.


China semula membantah adanya kamp itu. Namun kemudian, China mengakui adanya kamp itu. Akan tetapi kamp itu dimaksudkan untuk pendidikan ulang warga Xinjiang, bukan sebagai kamp tahanan sebagaimana yang dituduhkan.

Pada akhir tahun lalu, Senin (24/12/2018), Duta Besar (Dubes) China untuk Indonesia Xiao Qian mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya, Jakarta. Dalam kesempatan itu, Qian menegaskan kalau semua masyarakat China dari berbagai suku –termasuk Uighur- memiliki kebebasan dalam beragama./ Tribunsantri.com  Kamis, 21 Februari 2019/ dipetik seperlunya.

***

Dikabarkan, Media Asing: China Suap NU dan Muhammadiyah agar Diam soal Uighur

Dalam berita itu,
Sejak rangkaian tur Xinjiang itu berlangsung, pandangan para pemuka agama Islam tersebut berubah. Seorang tokoh senior Muhammadiyah yang ikut kunjungan ke Xinjiang mengatakan bahwa kamp-kamp yang ia kunjungi sangat bagus dan nyaman, serta jauh dari kesan penjara.

Kata WSJ (the Wall Street Journal), hal itu diutarakan dalam catatan perjalanannya yang dirilis di majalah Muhammadiyah.

WSJ juga mengatakan hal serupa soal sikap NU. Pemimpin NU, Said Aqil Siroj, disebut meminta warga terutama umat Muslim Indonesia tak percaya pada laporan media dan televisi internasional untuk memahami situasi di Xinjiang. WSJ mengatakan pernyataan itu disampaikan Said melalui buku yang diterbitkan NU cabang China.

 

https://www.nahimunkar.org/media-asing-china-suap-nu-dan-muhammadiyah-agar-diam-soal-uighur/

***

Menyakiti Umat Islam, Mengulangi Kunjungan Mereka ke Israel?

Ketua rombongan yang ke Xinjiang dari Muhammadiyah adalah Syafiq Mughni. Sedangkan dia itu celotehnya cukup menyakitkan Islam, dalam membela aliran sesat, dan juga perkatannya ketika berkunjung ke Israel.

Celotehnya cukup menyakitkan. Di antaranya:

“Dari sudut ajaran Islam, saya memang tidak sepakat dengan Syiah, tapi perbedaan itu juga ada dalam paham-paham lain yang ada di dalam Islam,” kata Prof Dr Syafiq A Mughni.

Syafiq juga pernah berkunjung ke Israel, bahkan diberitakan sebagai sosok yang jadi jaringan Yahudi di Indonesia (?), sebagimana berita “Siapa Saja Jaringan Israel di Indonesia?” ini:

Tokoh Muhammadiyah yang pernah berkunjung ke Israel diantaranya Syafiq Mugni, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Dari PP Muhammdiyah Dr. Habib Cirzin pernah pula berkunjung ke Israel.

Syafiq Mugni  Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, saat bertemu dengan Shimon Peres menghadiahkan kepada Peres sebuah tutup kepala yang dikenal bernama “kippa” bertuliskan kata “shalom“,  yang dalam bahasa Ibrani artinya “kedamaian”. Para tamu Indonesia itu tampak gembira sekali ketika Peres langsung memasang kippa tersebut di kepalanya.

Selanjutnya, mereka melanjutkan pembicaraan seputar berbagai topik termasuk ekonomi, politik, agama dan perayaan hari jadi  Israel ke 60 bulan Mei 2008 mendatang. Bahkan, kemungkinan membuka hubungan diplomatik antara Indonesia-Israel.

Shimon Peres menyatakan, Israel berbahagia bisa berhubungan dengan Indonesia serta mengundang para pemimpinnya. Peres akan mengundang kembali para tokoh Indonesia untuk doa perdamaian di saat Negeri Zionis ini akan memperingati hari jadinya ke 60 nanti bulan Mei 2008. Dalam kesempatan itu, Peres juga mengatakan, musuh Israel bukanlah Islam, tapi “teror”, ucapnya.

Syafiq Mugni dalam kesempatan itu menjelaskan tentang Indonesia menyangkut perkembangan ekonominya, demokrasi dan sistem kependidikannya. Menurut Syafiq,  dirinya berharap Muslim Indonesia semakin toleran, meski sebagaian juga masih ada yang menentang demokrasi. Sementara itu, Wakil NU Abdul A’la (kini menjabat rector di IAIN Surabaya?, red nm) mengakui masih ada kelompok kecil “ekstrimis” Muslim di Indonesia. https://www.nahimunkar.org/siapa-saja-jaringan-israel-di-indonesia/

https://www.nahimunkar.org/innaa-lillaahi-muhammadiyah-akan-dicaplok-antek-syiah-liberal-dan-jaringan-yahudi-lewat-muktamar-2015/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 320 kali, 1 untuk hari ini)