Untuk melacak betapa memalukannya celoteh seorang profesor dari kalangan NU (Nahdlatul Ulama) itu, mari kita bandingkan, mana yang lebih berat kejahatan dan hukumannya, maling ataukah LGBT. Ini bukan berarti meringankan atau apalagi mendukung maling, tapi hanya diperlukan sebagai perbandingan.

 

Hukuman bagi maling adalah potong tangan. Sedang hukuman bagi pelaku LGBT adalah hukum bunuh menurut Islam.

{ وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (38) [المائدة: 38]

Artinya: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS AL-Maaidah: 38)

Penetapan nilai harta yang dicuri, yang dikenakan hukum potong tangan bagi pelakunya yaitu sekurang-kurangnya seperempat dinar, itu adalah pendapat jumhur ulama, baik ulama salaf maupun khalaf berdasarkan sabda Rasulullah saw sebagai berikut:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْطَعُ يَدَ السَّارِقِ فِي رُبْعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا (رواه الشيخان عن عائشة)

“Rasulullah saw memotong tangan pencuri itu yang mencuri seperempat dinar ke atas.” (Riwayat al-Bukhari – Muslim  dari Aisyah).

Seorang pencuri yang telah dipotong tangan kanannya, kemudian ia mencuri lagi dengan syarat-syarat seperti semula maka dipotonglah kaki kirinya yaitu dari ujung kaki sampai pergelangan. Kalau ia mencuri lagi untuk ketiga kalinya, dipotong lagi tangan kirinya, kalau ia mencuri lagi untuk keempat kalinya, dipotong lagi kaki kanannya, sebagaimana sabda Rasulullah saw mengenai pencuri sebagai berikut:

اِنْ سَرَقَ فَاقْطَعُوْا يَدَهُ ثُمَّ اِنْ سَرَقَ فَاقْطَعُوْا رِجْلَهُ ثُمَّ اِنْ سَرَقَ فَاقْطَعُوْا يَدَهُ ثُمَّ اِنْ سَرَقَ فَاقْطَعُوْا رِجْلَهُ (رواه الامام الشافعي عن أبي هريرة)

Apabila ia mencuri, potonglah tangan (kanan)nya, kalau ia mencuri lagi potonglah kaki (kiri)nya, kalau masih mencuri lagi potonglah tangan (kiri)nya dan kalau ia masih juga mencuri potonglah kaki (kanan)nya.” (Riwayat al-Imam al-Syafi’i dari Abu Hurairah).

Kalau ini semua sudah dilaksanakan tetapi ia masih juga mencuri untuk kelima kalinya, maka ia di-ta’zir, artinya diberi hukuman menurut yang ditetapkan oleh penguasa, misalnya dipenjarakan atau diasingkan ke tempat lain, sehingga ia tidak dapat lagi mencuri./ Tafsir Surat Al Maidah Ayat 38-40 – Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia

 

Sedangkan hukuman atas pelaku homo dan sebagainya (LGBT) adalah hukum bunuh.

Hukuman Bagi Pelaku Sodomi

Apabila seorang laki-laki menyodomi dubur laki-laki lain, maka hukum hadd keduanya adalah dibunuh, baik keduanya muhshan (sudah pernah menikah) ataupun bukan.

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia menerangkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ
لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ.

“Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth (sodomi), maka bunuhlah orang yang menyodomi dan orang yang disodomi.” Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2075)], Sunan at-Tirmidzi (III/8, no. 1481), Sunan Abi Dawud (XII/153, no. 4438), Sunan Ibni Majah (II/856, no. 2561).

Referensi: https://almanhaj.or.id/1771-hadd-zina.html

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah perbuatan kaum Luth alaihis salam (homoseksual).” (HR. Tirmidzi no. 1457)

Dalam hal hukuman bagi palaku LGBT (homoseks dan sebaginya) dalam kitab-kitab fiqh biasanya digabungkan pembahasannya dalam hal hukuman atas pelaku zina. Sedangkan ayat tentang hukuman atas orang yang berzina di sana ditegaskan ‘dan janganlah belas kasihan kepada keduanya’…

{الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (2) الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ} [النور: 2، 3]

Artinya : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (QS. An Nuur : 2 – 3)

Adapun hukuman bagi yang berzina sedang ia sudah pernah nikah (sebutannya zina muhson) maka dihukum rajam hingga mati.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.


خُذُوا عَنِّي خُذُوا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ

Ambillah dariku, ambillah dariku. Sesungguhnya Allah telah memberi jalan yang lain kepada mereka[2], yaitu orang yang belum menikah (berzina) dengan orang yang belum menikah, (hukumnya) dera 100 kali dan diasingkan setahun. Adapun orang yang sudah menikah (berzina) dengan orang yang sudah menikah (hukumnya) dera 100 kali dan rajam[3].
——–

[2] Isyarat terhadap firman Allah surat An Nisa’ ayat 15, yaitu : Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepada mereka

[3] HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari ‘Ubadah bin Ash Shamit

Referensi: https://almanhaj.or.id/452-hukum-rajam-bagi-pezina.html

Yang jadi persoalan:

Tokoh NU Nadirsyah Hosen menyuara agar menghormati pelaku LGBT

Alasannya menurut berita:

Gus Nadir meminta semua pihak untuk menghormati mereka sebagai sesama manusia. 

“Setiap manusia membawa roh suci dari Allah,” tulis Gus Nadir dikutip dari akun Twitter pribadinya @na_dirs, Selasa (24/5).

 

Pertanyaan untuknya: Para maling dan penjahat-penjahat lainnya selama masih hidup ya tentu membawa roh yang Nadirsyah sebut suci dari Allah. Apakah para maling, begal, rampok dsb juga harus dihormati?

Kalau demikian, apa gunanya ditugaskan ratusan ribu polisi yang di antara tugasnya untuk menangkap maling2 dan sebagainya, untuk kemudian diproses hukum dan dihukum; kalau maling2 itu juga harus dihormati?

Dalam Islam, sudah jelas hukuman bagi maling lebih ringan (hanya potong tangan) dibanding hukuman bagi orang yang zina (didera 100 kali dan diasingkan satu tahun bagi yang belum pernah menikah, dan adapun yang sudah pernah nikah maka dirajam sampai mati).

Adapun pelaku homoseks (perbuatan kaum Nabi Luth) – bagian dari kejahatan LGBT- hukumannya adalah hukum bunuh, baik pelaku maupun pasangannya, baik mereka sudah pernah menikah maupun belum.

Itu berarti tingkah LGBT hukumannya lebih berat dari zina. Sedangkan mengenai hukuman bagi yang zina, ditegaskan:

وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat,”

Di ayat itu, belas kasihan terhadap pelaku zina saja tidak boleh, bagaimana pula celoteh manusia berani mengajak manusia untuk menghormati pelaku LGBT yang itu lebih dahsyat maksiat dan hukumannya dibanding pelaku zina.

Sedangkan pelaku zina saja diharamkan bagi orang mukmin untuk menikahinya. Bagaimana pula pelaku LGBT agar dihormati sedangkan itu lebih berat hukuman dan kejahatannya dibanding pelaku zina? Diharamkannya pelaku zina untuk dinikahi oleh orang mukmin itu adalah bentuk perendahan dari Allah Ta’ala, bukan penghormatan. Kenapa ada manusia yang berani menyuruh untuk menghormati pelaku LGBT sedangkan itu lebih buruk dari pelaku zina?

Yang jadi soal serius pula,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat khawatir menimpa umatnya yaitu perbuatan kaum Luth ‘alaihis salam (homoseksual)/ bagian dari LGBT. Lha kok malah ada orang yang mengaku Islam bahkan tokoh NU berani menganjurkan untuk menghormati pelaku LGBT. Itu bisa berkonotasi membiarkan kemaksiatan dan kejahatan yang sangat dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di samping itu Nabi juga sangat khawatir menimpa umatnya yaitu orang munafik yang pandai bicara.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ

“Sesungguhnya yang paling aku takuti dari ummatku adalah setiap orang munafiq yang pandai bicara /bersilat lidah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Bathah dalam Al-Ibanah, shahih sanadnya menurut Al-Albani dalam Silisilah Shahihah nomor 1013).

Dua hal yang sangat dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun kini menggejala dan saling bela membela.

Silakan simak ini.

***


Nadirsyah Hosen/ foto dok/ net

 

Tokoh NU Ini Minta Masyarakat Hormati LGBT sebagai Sesama Manusia: Dosa Itu Urusan Allah

Rabu, Mei 25, 2022  NasionalTrending Topic

 

 

Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Nadirsyah Hosen alias Gus Nadir angkat bicara terkait polemik Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Indonesia.

 

Gus Nadir meminta semua pihak untuk menghormati mereka sebagai sesama manusia. 

 

“Setiap manusia membawa roh suci dari Allah,” tulis Gus Nadir dikutip dari akun Twitter pribadinya @na_dirs, Selasa (24/5).

 

Gus Nadir mengatakan, sebagai warga negara, mereka juga punya hak dan kewajiban yang sama. 

 

Dia menegaskan bahwa tidak boleh terjadi diskriminasi terhadap siapa pun juga.

“Urusan dosa atau tidak, itu urusan mereka dengan Allah. Sesederhana itu. Nggak pakai ribet,” jelasnya.

 

Seperti diketahui, pembicaraan soal LGBT belakangan ramai setelah YouTuber Deddy Corbuzier mengundang pasangan gay Ragil Mahardika dan Frederick Vollert.

 

Deddy Corbuzier mendapat banyak kecaman dari banyak pihak, salah satunya dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

 

Tak berhenti di situ, Kedutaan Besar atau Kedubes Inggris untuk Indonesia beberapa hari lalu mengibarkan bendera simbol LGBT.

 

Aksi Kedubes Inggris itu pun membuat pembicaraan tentang LGBT di Indonesia memanas.

Sumber: populis/ oposisicerdas.com

(nahimunkar.org)