Ilustrasi : Jokowi tinjau gereja/trbn

.

 

 

  • Mantan wartawan senior Kompas Arswendo Atmowiloto, sang penghina Nabi Muhammad tersebut melontarkan pernyataan bahwa: “Jokowi itu anugerah dari Tuhan, tinggal kita mau manfaatkan atau tidak. Jokowi dicalonkan, semuannya enggak penting lagi. Dia jawara,” kata Arswendo di Din Tai Fung Restaurant Pacific Place, Jakarta, Senin (9/13/merdeka.com).
  • Hampir dua tahun, Kompas tercatat telah mempublish lebih dari 10 ribu berita dalam upaya mendongkrak pencitraan Jokowi-Ahok (data survei google).
  • Melalui jaringan media dan relawan dari ratusan yayasan yang bernaung di bawah Kompas Gramedia Group mengusung tekat: “hadang kebangkitan Islam”,…
  • Konspirasi Kompas Gramedia Group kian berlangsung efektif melibatkan komunitas Katolik yang terkenal solid serta dukungan cukong (kapitalis Tionghoa).
  • Kompas sejak lama telah dikenal meluas sebagai media terdepan yang sangat getol melakukan upaya melemahkan harmoni ummat Islam. Di tahun 1990, media milik jaringan Katolik ini bahkan secara terbuka melancarkan penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW dalam kasus Arswendo Atmowiloto. Yang kemudian memicu kemarahan ummat dan pelakunya dijebloskan ke penjara.
  • Rupanya kebencian itu masih membekas dan kini sedang dipamerkan melalui modus canggih pencitraan Jokowi-Ahok. Wajar bila kemudian ummat Islam kini mulai bergerak dan menggalang perlawanan.
  • Berbagai kalangan masyarakat luas mulai mengambil sikap waspada terhadap kemunculan Jokowi-Ahok. Kedua boneka dari rekayasa politik Katolik, cukong dan PDIP itu kian menuai kecurigaan.

Bos Kompas Gramedia Group, Jakob Oetama walau telah berusia tua namun masih gesit memainkan peran strategis kepentingan ideologi kelompoknya. Tokoh misionaris Katolik paling berpengaruh di dunia pers nasional ini , belakangan disebut-sebut sebagai aktor utama dalam “grand design” koalisi PDIP, cukong (kapitalis) dan jaringan Katolik.

Di balik layar, Jakob Oetama dan komplotannya bergerak rapi menyusun berbagai rangkaian opini mendongkrak popularitas Jokowi- Ahok. Melalui jaringan media dan relawan dari ratusan yayasan yang bernaung di bawah Kompas Gramedia Group mengusung tekat: “hadang kebangkitan Islam”, ihwal operasi politik terselubung tersebut semakin agresif dilancarkan.

Hampir setiap hari, Kompas dan jaringan mitranya, menggulir serangkaian isu-isu yang bergerak dalam dua kanal opini: (pertama) Mendongkrak pencitraan Jokowi-Ahok sembari mengkonsolidasikan PDIP sebagai partai pemenang pemilu. (kedua) membenturkan para tokoh dan partai Islam, serta aktiv meredam pengaruh figur nasional dengan aneka stigma korupsi, pelanggaran HAM dan sebagainya.

Konspirasi Kompas Gramedia Group kian berlangsung efektif melibatkan komunitas Katolik yang terkenal solid serta dukungan cukong (kapitalis Tionghoa). Maka tak heran, rekayasa pencitraan Jokowi-Ahok kian melaju dan menggulung pengaruh para lawan politiknya di berbagai saluran pers dan jaringan media sosial.

Hampir dua tahun, Kompas tercatat telah mempublish lebih dari 10 ribu berita dalam upaya mendongkrak pencitraan Jokowi-Ahok (data survei google). Bayangkan, bila satu berita dihargai Rp. 5 juta, maka lebih dari lima puluh miliar dana cukong telah mengalir deras ke kantong redaksi Kompas. Itu belum terhitung sumber masukan dari iklan dan kucuran lainnya.

Kecurigaan derasnya aliran dana cukong ke Kompas Gramedia Group telah menjadi pembicaraan yang mengemuka di berbagai kalangan. Di media sosial, sejumlah nama pengusaha Tionghoa yang memiliki kekayaan triliun rupiah ramai dipersoalkan. Yakni, praktek politik uang dalam jumlah besar dan berlangsung rapi di balik penampilan dari kepalsuan pencitraan Jokowi-Ahok.

 

Apakah konsiprasi busuk 
itu akan berlangsung mulus?

Dinamika politik jelang Pemilu Legislatif dan Presiden seperti makin menimbulkan khewatiran. Berbagai kalangan masyarakat luas mulai mengambil sikap waspada terhadap kemunculan Jokowi-Ahok. Kedua boneka dari rekayasa politik Katolik, cukong dan PDIP itu kian menuai kecurigaan.

Bahkan di saluran media sosial mulai bermunculan suara-suara perlawanan dengan menegaskan bahwa jaringan Katolik, Cukong dan PDIP sedang bergerak memicu konflik sesama anak bangsa. Pasalnya, praktek politk uang dan persekongkolan ideologi di balik pencitraan Jokowi-Ahok dianggap telah mengarah pada pembodohan dan memporak-porandakan aspirasi ummat Islam.

Maklum Kompas sejak lama telah dikenal meluas sebagai media terdepan yang sangat getol melakukan upaya melemahkan harmoni ummat Islam. Di tahun 1990, media milik jaringan Katolik ini bahkan secara terbuka melancarkan penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW dalam kasus Arswendo Atmowiloto. Yang kemudian memicu kemarahan ummat dan pelakunya dijebloskan ke penjara.

Rupanya kebencian itu masih membekas dan kini sedang dipamerkan melalui modus canggih pencitraan Jokowi-Ahok. Wajar bila kemudian ummat Islam kini mulai bergerak dan menggalang perlawanan.

Beberapa waktu lalu, mantan wartawan senior Kompas Arswendo Atmowiloto, sang penghina Nabi Muhammad tersebut melontarkan pernyataan bahwa: “Jokowi itu anugerah dari Tuhan, tinggal kita mau manfaatkan atau tidak. Jokowi dicalonkan, semuannya enggak penting lagi. Dia jawara,” kata Arswendo di Din Tai Fung Restaurant Pacific Place, Jakarta, Senin (9/13/merdeka.com).

Ironi, pernyataan Arswendo Atmowiloto seolah menegaskan bahwa Kompas (komando pastor) jangan gentar memperjuangan boneka Jokowi sebagai jawara yang kelak diperalat bagi kentingan kelompok Katolik, PDIP dan Cukong.

Luar biasa: Bos kompas Jakob Oetama sukses menghadirkan kader-kader jurnalis sekaliber Arswendo Atmowiloto dengan cara pikir yang licik !

By Faizal Assegaf POST 20 MARET 2014 / http://visibaru.com/

***

Dasar-dasar Dalam Memilih Pemimpin

Berikut ini adalah sejumlah Dalil Qur’ani beserta Terjemah Qur’an Surat (TQS) yang menjadi dasar untuk bersikap dalam memilih pemimpin :

1.  Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin

QS. 3. Aali ‘Imraan : 28.

{لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ} [آل عمران: 28]

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN/PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian,  niscaya lepaslah ia dari pertolongan Alloh,  kecuali karena (siasat) memelihara  diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Alloh memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Alloh kembali(mu).”

QS. 4. An-Nisaa’ : 144.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا} [النساء: 144]

“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Alloh (untuk menyiksamu) ?”

QS. 5. Al-Maa-idah : 57.

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ} [المائدة: 57]

“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU,  orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan,  (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu,  dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Alloh jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”

2.  Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin walau Kerabat sendiri :

QS. 9. At-Taubah : 23.

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ } [التوبة: 23]

 ”Hai orang-orang beriman,  janganlah kamu jadikan BAPAK-BAPAK dan SAUDARA-SAUDARAMU menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan,  dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali,  maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

QS. 58. Al-Mujaadilah : 22.

{لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [المجادلة: 22]

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Alloh dan hari akhirat,  saling  berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rasul-Nya,  sekali pun orang-orang itu BAPAK-BAPAK,  atau ANAK-ANAK atau SAUDARA-SAUDARA atau pun KELUARGA mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,  mereka kekal di dalamnya. Alloh ridha terhadap mereka,  dan mereka pun merasa  puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Alloh. Ketahuilah,  bahwa  sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

3. Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai teman setia

QS. 3. Aali ‘Imraan : 118.

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ } [آل عمران: 118]

“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu ambil menjadi TEMAN  KEPERCAYAANMU orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka,  dan apa yang  disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami),  jika kamu memahaminya.”

QS. 9. At-Taubah : 16.

{ أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ} [التوبة: 16]

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan sedang Alloh belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Alloh,  Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman? Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

4. Al-Qur’an melarang saling tolong dengan kafir yang akan merugikan umat Islam

QS. 28. Al-Qashash : 86.

{ وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ} [القصص: 86]

“Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Quran diturunkan kepadamu,  tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu,  sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi PENOLONG bagi orang-orang kafir.”

QS. 60. Al-Mumtahanah : 13.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ} [الممتحنة: 13]

“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu jadikan PENOLONGMU kaum yang dimurkai Alloh. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.”

5. Al-Qur’an melarang mentaati orang kafir untuk menguasai muslim

QS. 3. Aali ‘Imraan : 149-150.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (149) بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ } [آل عمران: 149، 150]

“Hai orang-orang yang beriman,  jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu,  niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran),  lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Alloh),  Alloh lah Pelindungmu,  dan Dialah sebaik-baik Penolong.”

6. Al-Qur’an melarang beri peluang kepada orang kafir sehingga menguasai muslim

QS. 4. An-Nisaa’ : 141.

{… وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا} [النساء: 141]

“…… dan Alloh sekali-kali tidak akan MEMBERI JALAN kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”

7. Al-Qur’an memvonis munafiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 4. An-Nisaa’ : 138-139.

{ بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا} [النساء: 138، 139]

“Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan  yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Alloh.”

8. Al-Qur’an memvonis ZALIM kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 5. Al-Maa-idah : 51.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ } [المائدة: 51]

“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin,  maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak  memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM.”

9. Al-Qur’an memvonis fasiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 5. Al-Maa-idah : 80-81.

{تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (80) وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ} [المائدة: 80، 81]

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka,  yaitu kemurkaan Alloh kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Alloh,  kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi),  niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong,  tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ.”

10. Al-Qur’an memvonis sesat kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 60. Al-Mumtahanah : 1.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ } [الممتحنة: 1]

“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad),  karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu,  mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu     karena kamu beriman kepada Alloh,  Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka,  karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu  nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya,  maka sesungguhnya dia telah TERSESAT dari jalan yang lurus.”

11. Al-Qur’an mengancam azab bagi yang jadikan kafir sbg Pemimpin / Teman Setia

QS. 58.  Al-Mujaadilah : 14-15.

{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (14) أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [المجادلة: 14، 15]

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Alloh sebagai teman ? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan,  sedang mereka mengetahui. Alloh telah menyediakan bagi mereka AZAB yang sangat  keras,  sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”

12. Al-Qur’an mengajarkan doa agar muslim tidak menjadi sasaran fitnah orang kafir

QS. 60. Al-Mumtahanah : 5.

{رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} [الممتحنة: 5]

“Ya Tuhan kami,  janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

(faesal/ Dari VOA-Islam)
KeIslaman bapak Joko Widodo masih diragukan(Menurut saya — faesal).

Wah wah wah, yang ini sebenarnya,  saya terlalu gegabah mengambil Keputusan,  ucapan saya ini belum bisa dipastikan, tetapi dengan beberapa Sumber yang ada, terlihat bahwa Bapak Jokowi ini masih Diragukan keIslamannya, Buktinya:

Jokowi Kesulitan Menjawab Pertanyaan Makna Ramadhan, Kenapa?
(Baca Beritanya di http://suarajakarta.co/2012/07/27/jokowi-kesulitan-menjawab-pertanyaan-tentang-makna-ramadhan-kenapa/)
Kata pak Fauzi Bowo(Foke), Pemimpin HARUS Bisa Membaca Al-Qur’an, tetapi Jawaban pak Jokowi: Ada-ada saja, masa Pemimpin Harus bisa Baca Al-Qur’an.
(Baca Beritanya di http://www.dakwatuna.com/2012/09/15/22931/jokowi-ada-ada-saja-masa-pemimpin-harus-bisa-baca-al-quran/)

Terus, Hubungannya sama Kesalahan yang Pertama apa?

Ya salahlah, wong Pak Jokowi justru “mempromosikan” upacara sesajen (kemusyrikan), dosa terbesar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Di antaranya ada berita tentang sesajen untuk mobil Esemka yang digelar Jokowi ketika jadi Walikota Solo. Nahimunkar.com memberitakan:

Mobil Esemka: Sudah ditunggangi kemusyrikan, sudah dua kali pula tak lulus dalam uji emisi

Seperti diberitakan voa sebelumnya (Mandi Kembang Mobil Esemka: Menyambut Prestasi dengan Kemusyrikan), sehari menjelang keberangkatan Mobil Esemka ke Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP) Serpong Tangerang, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Wilujengan dan Jamasan Mobil Esemka, Kamis malam (23/02/2012). Layaknya upacara selamatan dalam adat Jawa, Wali Kota Solo Joko Widodo juga menyiapkan satu set tumpeng lengkap yang berisi nasi gurih, ingkung, sambel goreng ati dan kedelai hitam.

Koordinator proses Jamasan Esemka Rajawali, Bambang Suhendro, menjelaskan, esensi acara itu adalah doa kawilujengan atau keselamatan. Selain sesajen, rangkaian bunga pandan, melati, kantil juga menjadi hiasan aksesori mobil untuk penolak bala. “Kembang setaman mawar jambon, mawar merah dan putih, kantil kuning dan kantil putih, kenanga dan melati untuk membersihkan dari sukerto atau halangan selama perjalanan,” terangnya. [taz/dbs] Kamis, 01 Mar 2012 (https://www.nahimunkar.org/mobil-esemka-sudah-ditunggangi-kemusyrikan-sudah-dua-kali-pula-tak-lulus-dalam-uji-emisi/ )

Sesajen untuk membersihkan dari  sukerto (kesialan) itulah yang disebut ruwatan.

Apa itu ruwatan?

Ruwatan adalah satu upacara kepercayaan yang diyakini sebagai ritual membuang sial yang disebutsukerto alias penderitaan. Istilah ruwatan, artinya membebaskan ancaman dari marabahaya yang datangnya dari Batoro Kolo, raksasa pemakan manusia, anak raja para dewa yakni Batoro Guru. Sedangkan meminta perlindungan kepada Batoro Kolo agar tidak dimangsa dengan upacara ruwatan dan wayangan itu termasuk kemusyrikan yang dilarang dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ(106)

”Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu,jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik).” (Yunus/ 10:106). (https://www.nahimunkar.org/ruwatan-dan-kemusyrikan-dimuncul-munculkan-lagi-di-indonesia/ ).

Pelaku kemusyrikan itu jelas terancam keluar dari Islam. Bahkan kalau sudah jadi orang musyrik, maka dalam Al-Qur’an, musuh Islam yang paling dahsyat memusuhi Islam adalah Yahudi dan orang-orang musyrik.

{لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا} [المائدة: 82]

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS AL-MAAIDAH: 82.)

Dari perbuatan yang melanggar keyakinan Islam itu maka saya tentunya boleh mempertanyakan pelakunya, dalam hal ini Pak Jokowi. Terus Dalil tentang Dilarangnya Muslim Memilih Pemimpin Kafir sudah saya Tulis diatas,/ faesal

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.237 kali, 1 untuk hari ini)