Ilustrasi Cover DUA BUKU Hartono Ahmad Jaiz: 1. Menangkal Bahaya JIL dan FLA. 2. Ada Pemurtadan di IAIN

Ja’d bin Dirham guru Jahm bin Shofwan pemimpin aliran Jahmiyah.

 Ja’d bin Dirham itu percaya Al-Qur’an, percaya Hadits, hanya saja tidak percaya bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam itu khalilullah (kekasih Allah) dan Nabi Musa ‘alaihissalam itu Kalimullah (orang yang pernah diajak bicara Allah).

Padahal Alloh Swt berfirman:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. (QS An-Nisaa’: 125).

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا(164)

Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS An-Nisaa’: 164).

 Karena tidak percaya itulah maka kemudian Gubernur  Kholid bin Abdullah Al-Qasri berkhutbah di Wasith (wilayah Iraq) pada Hari Raya Adha, dia (Gubernur) berkata:

ارجعوا فضحوا تقبل الله ضحاياكم فإني مضح بالجعد   بن درهم   فإنه زعم أن الله لم يكلم موسى تكليما ولم يتخذ إبراهيم خليلا تعالى الله عما يقول الجعد علوا كبيرا ثم نزل فذبحه

 “Pulanglah kamu sekalian lalu sembelihlah qurban, semoga Allah menerima qurban-qurban kalian. Maka sesungguhnya aku akan menyembelih Ja’d bin Dirham, karena dia menyangka bahwa Allah tidak berbicara kepada Musa dan tidak menjadikan Ibrahim itu khalil (kekasih). Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan Ja’d yang menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.”  Kemudian Gubernur Kholid turun (dari mimbar) dan menyembelih Ja’d bin Dirham.[1] )As-Showa’iqul Mursalah, juz 4, halaman 1396(

Itulah Ja’d bin Dirham, yang manafikan (meniadakan ) sifat Alloh. Peniadaan sifat Alloh itu biasanya disebut ta’thil (pembatalan –sifat-sifat Alloh). Ja’d bin Dirham itu adalah guru dari Jahm bin Shofwan pemimpin Jahmiyah. Firqah Jahmiyah yakni para pengikut Jahm bin Shafwan Abi Mahras As-Sa­markandi At-Turmudzi yang dihukum bunuh pada tahun 128 H. Jahm bin Shafwan be­lajar kepada Ja’d bin Dirham. Ja’d belajar kepada Thalut. Thalut belajar kepada Labib bin Al- ‘Asham, seorang Yahudi, maka jadilah mereka semua murid-murid Yahudi. Kare­na itu, perhatikanlah dari siapa seseorang itu mengambil ilmu. Maka perlu diperhatikan nasihat Muhammad Ibnu Sirin:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ. صحيح مسلم – (ج 1 / ص 11(

Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka waspadalah dari siapa kalian mengambil agamamu itu. (Shahih Muslim juz 1/ halaman11)

[1] As-Showa’iqul Mursalah, juz 4, halaman 1396

  الصواعق المرسلة ج: 4 ص: 1396

 وذكر عن خالد بن عبدالله القسري أنه خطبهم بواسط في يوم أضحى وقال ارجعوا فضحوا تقبل الله ضحاياكم فإني مضح بالجعد   بن درهم   فإنه زعم أن الله لم يكلم موسى تكليما ولم يتخذ إبراهيم خليلا تعالى الله عما يقول الجعد علوا كبيرا ثم نزل فذبحه

Dipetik dari buku Hartono Ahmad Jaiz,  Menangkal Bahaya JIL (Jaringan Islam Liberal) dan FLA (Fiqih Lintas Agama), Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.931 kali, 1 untuk hari ini)