Prof Dr Arief Hidayat SH_843652384

Terpilihnya Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) yang baru, Prof Dr Arief Hidayat SH disambut positif banyak kalangan, terutama dari ormas-ormas Islam. Pemahaman Arif tentang kondisi sosiologis rakyat dinilai bakal memberi nilai tambah kepada MK.

Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU)melalui pernyataan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Muhammad Sulton Fatoni, mengatakan, terpilihnya Arief akan mendekatkan produk hukum dengan fakta sosial yang ada di Indonesia. Sebab, sosok Arief Hidayat bukan hanya menguasai disiplin ilmu hukum, namun juga gejala sosial yang ada di masyarakat.

Sulton optimis, dengan terpilihnya Arief, institusi MK mampu meningkatkan kinerjanya untuk memenuhi harapan masyarakat terhadap peran dan fungsi MK dalam konstitusi negara.

Sikap Arief yang menolak perkawinan sesama jenis menjadi bukti integritas dan kapasitas hakim yang mampu mengkorelasikan produk hukum dengan realita sosial. “Itu bukti kemampuan memahami sosio-kultural masyarakat Indonesia,” tegas Sulton.

Pengurus Pusat Muhammadiyah juga menilai terpilihnya Arief Hidayat sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi sebagai bentuk penghargaan terhadap prinsip penolakan perkawinan sesama jenis dan paham ateis di Indonesia.

Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Natsir menjelaskan, terpilihnya Arief Hidayat menunjukkan pesan moral yang dalam pada masyarakat Indonesia. Hal itu terkait sikap Arief yang menolak tegas perkawinan sesama jenis dan keberadaan paham ateis. Sebab, dalam Undang-undang Perkawinan juga sudah jelas menerangkan soal pernikahan.

“DPR dan MK memasukkan nilai dan integritas moral dengan alasan itu (terpilihnya Arief Hidayat),” kata Haedar, Selasa (5/3/2013).

Haedar menambahkan, keputusan DPR menjatuhkan pilihan kepada Arief Hidayat harus dihargai. Sebab, secara normatif, DPR pasti sudah memiliki pertimbangan tentang pengetahuan maupun kapasitas sosok Arief Hidayat. Terlebih sikap hakim MK terpilih, menunjukkan Hak Asasi Manusia (HAM) Indonesia berbeda dengan HAM Universal.

“Yang penting implementasinya terhadap sikap moral tadi,” tambah Haedar.

Pasalnya, kalau implementasi terhadap sikap hilang, masyarakat tidak akan percaya lagi dengan institusi MK. Haedar berharap ketua MK yang akan datang mampu fokus melaksanakan fungsi konstitusinya. Selain itu, Hakim MK tidak terpecah pada isu politik selama menjabat.

Persatuan Islam (Persis) menilai statemen penolakan hakim Mahkamah Konstitusi terpilih, Arief Hidayat terkait pernikahan sesama jenis dan ateis adalah hal yang sudah benar.

Saat dilakukan ‘fit and proper test’ di DPR, Arief Hidayat menegaskan pendapatnya yang menolak keras wacana pembolehan pernikahan sejenis dan keberadaan ateis di Indonesia. Sebab, hal itu justru tidak sesuai dengan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.

Ketua Umum Persatuan Islam (Persis), Maman Abdurrahman menilai yang dikatakan Arief sudah tepat sebagai Hakim MK. “Memang seharusnya, karena itu sesuai dengan Undang-undang,” kata Maman, Selasa (5/3/2013).

Maman menyatakan dalam UU Perkawinan sudah jelas menerangkan soal perkawinan. Tentang ateis juga sudah ada dalam Pancasila dan TAP MPR. “Artinya dia paham hukum Tata Negara,” tegas Maman.

Dukungan Mahfudz MD

Sambutan bernada positif atas terpilihnya Prof DR. Arif Hidayat SH tidak hanya datang dari kalangan ormas Islam saja. Ketua MK, Mahfud MD, juga memuji-muji sosok Arief Hidayat yang terpilih sebagai hakim konstitusi menggantikan dirinya yang memasuki masa pensiun pada 1 April 2013. “Beliau (Arief) sudah mengetahui sistem dan mekanisme di MK,” ujar Mahfud saat jumpa konferensi pers di gedung MK, Selasa (5/3/2013).

Mahfud menilai Guru Besar dan Ketua Program Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah itu sudah berpengalaman dalam dunia konstitusi di Indonesia. “Pak Arief itu sering membantu MK, menjadi ahli, menjadi panitia, jadi dia sudah tahu kimianya, sistemnya, mekanismenya MK. Menurut saya, MK bukan sesuatu yang baru bagi dia,” tandas pria asal Madura ini.

Prof DR Arief Hidayat SH terpilih sebagai hakim konstitusi setelah melakukan pemilihan dengan cara voting di Gedung DPR, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (4/3/2013).

Sidang pemilihan yang dipimpin Ketua Komisi III DPR-RI, I Gede Pasek Suardika itu, setelah melewati ‘fit and proper test’, Arief akhirnya mendapatkan 42 dari 48 suara. Saat ‘fit and proper test’ Arief memaparkan makalah berjudul, ‘Prinsip Ultra Petita’ dalam Putusan MK Terkait Pengujian UU Terhadap UUD Negara RI Tahun 1945.

Pria kelahiran Semarang, 3 Februari 1956 itu memiliki seorang istri, Dr Tundjung Herning Sitabuana dan dua anak, Adya Paramita Prabandari dan Airlangga Suryanagara. Bidang keahlian Arief adalah Hukum Tata Negara, Hukum dan Politik, Hukum dan Perundang-undangan, Hukum Lingkungan dan Hukum Perikanan. “Saya siap menjalankan amanah ini,” kata Arief singkat sesaat setelah terpilih menggantikan posisi Mahfud MD. [KbrNet/adl – Source: ROL] kiblatindonesia.comRabu, 06 Maret 2013 06:41

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.151 kali, 1 untuk hari ini)