Toleransi Ala Buya Hamka: Garis Tauhid Tak Bisa Ditawar


Buya Hamka secara tegas menjalankan toleransi yang tidak terkontaminasi. Buya Hamka dan istrinya

Foto: Google.com

 

Buya Hamka secara tegas menjalankan toleransi yang tidak terkontaminasi.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Buya Hamka, bisa menjadi teladan dalam kisah toleransi beragama. Dalam rubrik khasnya, Dari Hati ke Hati di Majalah Panji Masyarakat, Hamka banyak memberikan catatan seputar kerukunan antarumat beragama di Indonesia. (Lihat kumpulan tulisan Hamka dalam buku Dari Hati ke Hati, Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002). 

Salah satu peristiwa yang mendapat catatan serius darinya adalah pengalaman KH S S Djam’an, seorang ulama Jakarta yang ditangkap aparat karena tuduhan telah menyebarkan propaganda anti-Pancasila. Kisahnya bermula saat Kyai Djam’an memimpin pengajian dengan mengupas tafsir surat al-Kahfi ayat ke-4 dan 5 yang menyebutkan ancaman neraka bagi orangorang yang berkata bahwa Allah mempunyai anak. 

Tidak berapa lama setelah pengajian usai, rumahnya dikepung segenap pemuda Kristen. Seorang pendeta berkunjung, kemudian mereka pun berdialog. Kyai Djam’an bersikeras bahwa memang yang disampaikannya itu adalah hal pokok dalam ajaran Islam. Dialog yang tenang dan diakhiri dengan bersalam-salaman itu kemudian justru berlanjut dengan pemanggilan Sang Kiai ke kantor polisi.

Dalam kasus serupa lainnya, Hamka pun menceritakan tentang pengaduan seorang mubalig yang menjelaskan makna surat al-Ikhlash dalam sebuah perayaan Maulid Nabi SAW di sebuah SMA di Tanjung Priok. Karena ada bagian dalam surat itu yang memastikan bahwa Allah itu tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, maka guru-guru Kristen di sekolah itu protes dan keberatan dengan penyampaian tablig tersebut. 

Pada 30 November 1967, Pemerintah RI menggagas diadakannya Musyawarah Antaragama. Dalam musyawarah itu, para pemuka agama-agama yang diakui secara resmi di Indonesia hadir. Pemerintah sendiri telah menyampaikan dua poin usulan kepada forum musyawarah tersebut.

Pertama, agar dibentuk sebuah Badan Kontak Antaragama. Kedua, agar diadakan suatu piagam yang ditandatangani bersama yang menyatakan bahwa pemeluk suatu agama jangan dijadikan sasaran propaganda oleh agama yang lain. 

Poin usulan pertama telah diterima secara bulat. Hanya saja, usulan yang kedua justru ditolak mentah-mentah. Tambunan SH menyampaikan, pendirian umat Kristiani bahwa menyebarkan Perkabaran Injil kepada orang yang belum Kristen adalah ‘Titah Ilahi’ yang wajib dijunjung tinggi.

Pendapat ini mendapat sanggahan tegas dari Moh Natsir yang menekankan bahwa jika pendirian semacam itu hendak dipertahankan maka kekacauan akan timbul dan Negara Kesatuan Republik Indonesia akan hancur. Meski demikian, pihak Kristen tidak menarik kembali pendapatnya. 

Musyawarah Antaragama dinyatakan gagal oleh banyak pihak, namun Hamka menganggapnya berhasil karena telah mengungkap apa-apa yang selama ini belum terungkapkan secara gamblang, yaitu semangat misi pemurtadan kaum Muslim. Pada 1968, umat Muslim berhari raya Idul Fitri dua kali, yaitu pada 1 Januari dan 21 Desember 1968.

Dekatnya tanggal Hari Raya Idul Fitri dengan Natal kemudian menginspirasikan sebagian kepala jawatan dan menteri untuk mengeluarkan perintah agar perayaan halal bihalal digabungkan dengan Natal menjadi ‘Lebaran-Natal’ 

Sebagian pejabat mengatakan bahwa demi kesaktian Pancasila, ‘Lebaran-Natal’ ini dapat membantu kita memahami makna toleransi. Buya Hamka menolak dengan keras toleransi yang semacam itu.

Perayaan ‘Lebaran-Natal’ tidak ubahnya sebuah pemaksaan kepada umat beragama agar ikut mendengarkan kajian-kajian keagamaan yang bertentangan dengan pokok-pokok keagamaannya sendiri. Bagi Hamka, yang semacam ini adalah toleransi paksaan dan memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan pandangan sinkretisme. 

republika.co.id, Selasa 04 Aug 2020 21:34 WIB Red: Nashih Nashrullah

***

Umat Islam yang Istiqomah Tidak Usah Gusar Bila Dituduh sebagai Pemecah Belah Bahkan Dituduh Mengkafir-kafirkan Orang

Posted on 30 Juli 2020

by Nahimunkar.org

  •  

    Umat Islam yang Istiqomah Tidak Usah Gusar Bila Dituduh sebagai Pemecah Belah Bahkan Dituduh Mengkafir-kafirkan Orang

     
     



    Ilustrasi foto/ nasihatsahabat

     
     

    Ketuhanan Hindu menganggap Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Tuhan pemecah belah, jadi mukmin versus kafir.

     
     

    Silakan baca ini baik2 ya:

     
     

    Buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010) menyatakan: “Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).


    Dengan adanya keyakinan monotheisme (dalam Islam Tuhannya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala) dianggap sebagai Tuhan pemecah belah jadi mukmin versus kafir, maka Umat Islam yang istiqomah jangan sampai gusar apabila dituduh sebagai kelompok pemecah belah. Karena Allah Ta’ala yang jelas Maha Benar pun dibegitukan. Hingga bila tuduhan pemecah belah itu dilontarkan oleh pihak2 yang mengaku Islam sendiri juga, apalagi pihak orang di luar Islam alias kafir dan musyrik yang melontarkan tuduhan-tuduhan yang tidak mengenakkan itu, maka Umat islam yang istiqomah tidak usah gusar.

     
     

    Misalnya Umat Islam yang tegas memberantas kemusyrikan, bid’ah takhayyul, khurofat dan aneka kesesatan; lalu dituduh sebagai kelompok pemecah belah umat. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala pun telah dituduh sebagai Tuhan Pemecah belah menjadi mukmin versus kafir. Maka Umat Islam yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan istiqomah ketika dituduh sebagai kelompok yang memecah belah, ya tetap saja harus takut kepada Allah Ta’ala, tidak usah takut kepada manusia2 atau makhluk2 yang menuduhnya seperti itu.

     
     

    Dari sisi lain, dengan adanya kejelasan bahwa ketuhanan Hindu itu muatannya demikian, maka orang Islam yang mengucapkan salam Islam Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh, lalu disambung dengan salam Hindu, Om Swastiastu (yang itu kental dengan ketuhanan Hindu) maka dapat mengeluarkannya dari Islam alias bisa murtad dan musyrik. Karena sama dengan mengiyakan (mengamini) ‘kutukan’ bahwa Allah Ta’ala itu Tuhan pemecah belah jadi mukmin versus kafir. Na’udzubillahi min dzalik! Bila meninggal dalam keadaan tetap belum bertaubat, bila terhitung musyrik, maka haram masuk surga, dan kekal di neraka. Na’udzubillahi min dzalik!

     
     

    {إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

     
     

    Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72). Lihat selengkapnya di sini:

    https://www.nahimunkar.org/arsip-bisa-murtad-dan-musyrik-mengucapkan-salam-islam-disertai-salam-agama-lain/

     
     

    Memberikan wawasan seperti ini pun bisa dituduh sebagai pemecah belah umat. Bahkan bisa juga dituduh sebagai mengkafir-kafirkan dan memusyrik-musyrikkan orang.

    Padahal perlu dibedakan. Memberi peringatan bahwa perbuatan begini itu bisa mengakibatkan kafir atau musyrik, bisa mengeluarkan dari Islam, bila memang uraian itu dalilnya kuat/ shahih, maka justru penting untuk disampaikan. Berbeda dengan misalnya mengatakan kepada sesama Muslim ucapan: ‘kafir kamu’. Terhadap ucapan ‘kafir kamu’ di situ ada peringatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya.

    Diriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لاَ يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالفُسُوقِ، وَلاَ يَرْمِيهِ بِالكُفْرِ، إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

    “Janganlah seseorang menuduh orang lain dengan tuduhan fasik dan jangan pula menuduhnya dengan tuduhan kafir, karena tuduhan itu akan kembali kepada dirinya sendiri jika orang lain tersebut tidak sebagaimana yang dia tuduhkan.” (HR. Bukhari no. 6045)

    Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

    “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya, “Wahai kafir!” maka bisa jadi akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” (HR. Bukhari no. 6104)

    Dalam riwayat Muslim disebutkan,

    أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ، وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa pun orang yang berkata kepada saudaranya, ‘Wahai kafir’ maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan kekufuran tersebut, apabila sebagaimana yang dia ucapkan. Namun apabila tidak maka ucapan tersebut akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.”

    (HR. Muslim no. 60) (silakan simak di:
    https://muslim.or.id/50837-bahaya-mengkafirkan-sesama-kaum-muslimin.html ). ]

    Adapun menyampaikan peringatan kepada sesama Muslim, bahwa salam oplosan (salam Islam Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh dilanjutkan dengan salam agama Hindu dan agama2 selain Islam) itu bisa mengakibatkan pelakunya jadi murtad, kafir atau musyrik; disertai dalil-dalil yang shahih, maka justru penting untuk disampaikan. Contohnya sebagaimana dilakukan oleh MUI Jawa Timur, menjelaskan masalah bahayanya salam oplosan itu. Silkan simak ini: https://www.nahimunkar.org/mui-jawa-timur-imbau-pejabat-muslim-tidak-ucapkan-salam-lintas-agama/

     
     

    Ketika sebenarnya hanya menjelaskan bahaya-bahaya kemusyrikan, kekafiran, kemurtadan, bid’ah, kesesatan dan aneka penyelewengan aqidah; namun kemudian dituduh sebagai pemecah belah umat dan mengkafir-kafirkan orang, ya silakan. Itu namanya adalah tuduhan yang bisa menjurus ke fitnah.

     
     

    Sebagaimana pembeberan wawasan ini kan bukan mengkafir-kafirkan orang. Ini hanya mengingatkan sesama muslim, agar tahu duduk soal masalah yang sangat harus diperhatikan, agar aqidah keimanan kita selamat, hingga akhir hayat. Jangan sampai terjerumus, apalagi sampai kecemplung ke kemusyrikan yang bisa mengeluarkan dari Islam. Itu sangat celaka, maka harus dihindari. Maka harus diberi tahu. Walaupun yang memberitahu justru dituduh memecah belah umat, dituduh mengkafir-kafirkan orang dan sebagainya; itu sekadar resiko belaka. Tidak apa-apa.

    Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu!
    https://www.nahimunkar.org/umat-islam-yang-istiqomah-tidak-usah-gusar-bila-dituduh-sebagai-pemecah-belah-bahkan-dituduh-mengkafir-kafirkan-orang/

     (nahimunkar.org)