• Perwakilan Syi’ah Menjenguk Ustadz Farid Okbah yang Anti Syiah
  • Seharusnya yang dilakukan orang syiah, perbaiki dulu akhlaq terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru kemudian akhlaq terhadap kaum muslimin generasi berikutnya.

Tokoh Islam di Indonesia perlu dijaga. Soalnya walau mungkin dia tegar dalam menjaga diri dan keteguhan pendiriannya, namun berbagai aliran sesat mengintainya. Bahkan lewat aneka cara.

Aliran sesat LDII contohnya, telah berhasil merangkul seorang tokoh di lembaga keulamaan di Indonesia hingga kini sangat aneh, karena ketika tokoh itu punya hajat ulang tahun (?) justru yang ditugasi sebagai penjemput tamu-tamu terhormat adalah orang penting dari aliran sesat LDII.

“Saya ketika datang di acaranya Pak Kyai M Amn, sesampai di sana dijemput diantarkan masuk oleh Hsym yang dari LDII,” ucap seorang dari MUI yang merasa jengak dengan keadaan itu. Ucapan itu disampaikan di Dewan Dakwah di Jakarta beberapa waktu lalu ketika ada pembahasan tentang Adam Amrullah mantan LDII diadukan ke polisi oleh senkom. Berita tentang aduan senkom itu dapat di baca di nahimunkar.com, LDII Ditantang Mubahalah, Senkom yang Keberatan https://www.nahimunkar.org/ldii-ditantang-mubahalah-senkom-yang-keberatan/.

Kalau ditelusuri, kenapa tokoh di MUI yang tadinya gagah menghadapi aliran sesat LDII tahu-tahu mlempem bagai kerupuk keanginan, ternyata hal itu bisa terjadi, awalnya karena sang tokoh yang punya hajat tersebut sebelumnya pernah dikhabarkan ketika dia sakit di suatu rumah sakit, dia dijenguk oleh rombongan tokoh aliran sesat LDII.

Gejala untuk ngglewang (tersungkur dengan berbalik arah) rupanya sudah diketahui oleh pihak MUI. Maka dalam satu rapat pemimpin ada keputusan bahwa MUI melarang para pengurusnya hadir di acara-acara LDII. Dan Keputusan itu kemudian disampaikan oleh pengurus MUI kepada rombongan Media Dakwah dan lainnya di antaranya Hartono Ahmad Jaiz dan Aru Saef Asadullah dengan membawa tetangga Aru di Lenteng Agung yang menyampaikan kepada MUI tentang kejanggalan-kejanggalan isterinya setelah masuk LDII. Sampai pakaian isteri pun tidak boleh kepegang oleh suami yang tidak masuk LDII, hingga lemarinya harus tersendiri. Sajadah yang digelar pun tidak boleh keinjak suami.

Walau sudah ada keputusan MUI bahwa para pengurusnya tidak boleh hadir di acara-acara LDII, tapi tahu-tahu sang tokoh MUI itu justru hadir di musyawarah LDII dan berpidato, dengan berkata bahwa kehadirannya atas nama pribadi, bukan MUI. Bahkan selanjut-selanjutnya, dia punya semacam “asisten” dari aliran sesat LDII.

Padahal MUI sendiri telah mengeluarkan rekomendasi tentang sesatnya LDII dan mendesak Pemerintah untuk membubarkan LDII.

Rekomendasi MUI untuk Pembubaran Ahmadiyah, LDII dan sebagainya

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat.

Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Apakah berarti menjilat ludah sendiri?

Mungkin bisa lebih dari itu. Karena telah ada peringatan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari harta dunia” (HR. Muslim no. 118).

 “Kesuksesan” aliran sesat LDII dalam menjenguk tokoh yang sedang sakit itu rupanya tidak hanya diterapkan kepada satu orang. Sumber nahimunkar.com menceritakan, seorang tokoh dan aktivis dakwah di Jakarta sakit dan akan berobat ke Malaysia. Sampai di Bandara Jakarta tahu-tahu ada rombongan yang menawarkan diri dan sibuk mengurus barang-barang sang tokoh Islam ini, bahkan sampai membayari apa saja yang harus dibayar di Bandara untuk kepergian ke luar negeri itu. Setelah beres semua, rombongan itu baru bilang bahwa mereka dari LDII.

Giliran pulang, sang tokoh itu dijemput rombongan, sudah disediakan mobil dan diantar dari Bandara sampai rumah. Ternyata selama ini keluarga dari sang tokoh ada yang senantiasa dihubungi oleh aliran sesat LDII itu hingga tahu persis jadwal keberangkatan, kepulangan dan sebagainya mengenai sang tokoh. Meskipun begitu, sang tokoh tidak mau komromi dengan aliran sesat LDII, bahkan mengisahkan keadaan yang dia alami itu kepada pemberantas aliran sesat, agar pengalaman itu dijadikan pelajaran. Ini sangat berbeda dengan lakon tokoh yang di MUI tersebut di atas yang malah hahah heheh dengan aliran sesat LDII dan mungkin mendapatkan istidraj? Semoga saja sadar dan bertaubat.

Para tokoh, aktivis, bahkan umat Islam pada umumnya hendaknya hati-hati terhadap aliran sesat. Mereka kadang menempuh jalan kasar dan kadang lembut, bahkan pelayanan yang sangat menipu.

Tampaknya bukan hanya aliran sesat LDII yang berbuat begitu. Aliran sesat Syiah pun menempuh jalan yang sama. Sama-sama sesat, rupanya menempuh gaya yang sama.

Inilah di antara sorotannya.

***

    

Perwakilan Syi’ah Menjenguk Ustadz Farid Okbah, Benarkah Bagian dari Misi Akhlaq?

Oleh Pizaro — Ahad 15 Zulhijjah 1434 / 20 October 2013 23:05


 LDIIAbu Haidar (Berpeci hitam) sedang menjenguk Ustadz Farid Okbah

.

Oleh: Anung Al Hamat, Lc.,M.Pd.I

Direktur Forum Studi Sekte-Sekte Islam

 

Musibah tertabraknya Ustadz Farid Okbah, cukup menyedot perhatian umat Islam baik yang datang dari Indonesia maupun dari luar negeri. Yang simpatik kepada beliau maupun yang antipati. Ada satu fenomena yang cukup menarik untuk dicermati, yaitu adanya kunjungan dari kalangan yang sebenarnya antipati dengan sepak terjang Ustadz Farid Okbah. Dalam hal ini adalah kalangan Syi’ah. Hal ini dikarenakan beliau merupakan salah satu tokoh yang paling gencar dalam menyingkap kesesatan Syi’ah.

Sekitar ba’da Dzuhur (Ahad, 20/10/2013), penulis ditelepon oleh Abu Mu’adz yang baru saja menjenguk Ustadz Farid Okbah yang sedang dirawat di salah satu rumah sakit yang ada di Kalimalang. Ada kegelisahan dalam pembicaraan Abu Mu’adz dengan penulis dalam dua hal. Yang pertama, berkaitan dengan adanya kunjungan kalangan Syi’ah yang mengatasnamakan delegasi dari IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia). Yang kedua, masalah adanya stiker di salah satu bis jurusan Lebak Bulus-Bandung yang beliau naiki. Di mana posisi stiker berada di sebelah depan kaca dan bisa dibaca para penumpang. Dan, dengan jelas isi stiker juga mengandung misi Syi’ah.*

Dalam tulisan ini, penulis hanya akan memberikan tanggapan dalam point yang pertama. Adapun yang kedua ditunda sejenak. Dikarenakan gambar stiker yang dikirim kepada penulis kurang jelas. Barang kali dikarenakan Abu Mu’adz mengirimkannya kepada Handphone penulis yang masih jadul.

IJABI mengklaim kunjungannya menjenguk Ustadz Farid Okbah dalam rangka misi mendahulukan Akhlaq. Hal ini sebagaimana diungkapkan Abu Haidar Abi dalam status Facebooknya. Untuk lebih jelasnya berikut status Facebook yang penulis dapatkan;

Misi mendahulukan Akhlaq ; mengapa tdk? memang intisari ajaran Islam adalah akhlaq !! baik secara akhlaq nadzari maupun akhlaq ‘amali, baru saja sy mengunjungi ust Farid Okbah di rumah sakitnya. Dan memimpin doa untuk kesembuhannya dg membaca fateha. Dan menyampaikan salam dari keluarga besar IJABI.

Dalam status Facebook tersebut, paling tidak ada dua point yang perlu penulis kemukakan;

Pertama; Komentar ini diperlukan oleh banyak kalangan terlebih Abu Mu’adz dan Abu Jundi yang juga menyampaikan kepada penulis akan kegelisahan Ustadz Hatono Ahmad Jaiz atas kunjungan tersebut.

Kedua; Berkaitan dengan misi akhlaq. Memang benar Rasulullah shallallahu ’alaihi  wasallam salah satunya dalam rangka mengemban misi akhlaq. Bahkan seorang anak Yahudi yang sedang berbaring sakit pun dijenguk oleh Rasul shallallahu ’alaihi  wasallam. Dan, wajar jika para ulama Islam pun menyatakan bahwa salah satu dari empat pilar utama dalam Islam adalah akhlaq. Bahkan baiknya akhlaq seseorang juga merupakan indikasi baiknya keimanannya. Sehingga banyak kalangan yang menyatakan ‘al Akhlaq min tsamratil iman‘, akhlaq merupakan buah dari keimanan.

Yang jadi permasalahan kemudian, apakah benar yang dilakukan pihak IJABI adalah murni dalam rangka mengemban misi akhlaq? Atau merupakan bagian dari misi dakwah Syi’ah dalam hal ini adalah bagian dari taqiyah? Atau dalam ungkapan lain, ini merupakan bagian dari strategi untuk menarik simpatik Ustadz Farid Okbah secara khusus –paling tidak adanya harapan agar beliau lebih halus dalam menyikapi Syi’ah- dan umumnya kaum muslimin.

Penulis –secara pribadi- agak meragukan adanya kemurnian dalam kunjungan tersebut selama dalam ajaran Syi’ah masih melekat ajaran taqiyah. Belum lagi dengan munculnya beragam peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini. Seperti sikap arogan kalangan Syi’ah yang terjadi di Iran, Irak, Libanon, Suriah dan lain-lain. Kaum muslimin di sana hidup dalam keadaan tertekan, terusir, dipenjara, tidak adanya ruang kebebasan bahkan mereka dibunuh. Ada kekhawatiran dari penulis jangan-jangan ini merupakan bagian dari strategi kaum Syi’ah ketika kondisi mereka lemah dan minoritas.

Belum lagi bagaimana akhlaq kalangan Syi’ah terhadap para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi  wasallam. Yang ada, justru akhlaq mereka sangat buruk. Tidak sungkan-sungkan mencela dan mengkafirkan para sahabat yang mulia.  Kita lihat salah satu contoh bagaimana sikap mereka kepada Ibunda ‘Âisyah istri Rasul shallallahu ’alaihi  wasallam.  Di antara bentuk penghinaan kepada ‘Âisyah yang cukup membuat penulis ragu akan kemurnian mengemban misi akhlaq tersebut adalah adanya ungkapan-ungkapan mereka yang menyatakan bahwa beliau merupakan pelacur Arab, syetan perempuan, Induk keburukan (Ummu Syurûr), pezina, sosok yang brutal, Khawârij, penghuni neraka, keledai betina kecil dan ungkapan-ungkapan lainnya.

Musai Razi bahkan menyatakan antara ‘Âisyah dan Rasûlullâh saw sangat bertolak belakang sehinga dia mengajak pendengarnya untuk memilih mana yang harus dipilih apakah Rasul saw ataukah ‘Âisyah? Jika memilih Rasul shallallahu ’alaihi  wasallam maka hendaknya meletakkan ‘Âisyah di bawah telapak kaki akan tetapi sebaliknya jika memilih ‘Âisyah maka sama halnya meletakkan Rasul saw berada di bawah telapak kaki. Kemudian dia juga menyatakan bahwa benar ‘Âisyah adalah sosok wanita kafir (kafirah), kriminal (mujrimah) dan sosok yang benci kepada ‘Ali.

Hasan Syahatah setelah menuduh ‘Âisyah berzina kemudian dia mengeluarkan pernyataan, “Semoga Allah melaknatmu, wahai ‘Âisyah”. Dan laknatan ini diulangnya berkali-kali.

Begitu juga dengan salah seorang tokoh muda Syi’ah, Yâsir al Habîb, yang menuduh ‘Âisyah radhiyallâhu ‘anhâ sebagai musuh Allah dan Rasul-Nya, banyak melakukan kejahatan; membunuh Rasûlullâh saw dengan racun dan banyak memalsukan hadits,

Kemudian setelah melakukan berbagai tuduhan kotor tersebut, Yâsir al Habîb menegaskan dan menetapkan bahwa ‘Âisyah sekarang berada dalam api neraka, bahkan tidak hanya sekedar dalam neraka, bahkan dia bersumpah atas nama Allah, bahwa ‘Âisyah sekarang berada dalam dasar neraka Jahannam, dalam keadaan tergantung kedua kakinya, memakan bangkai, dan tubuhnya sendiri. Semua itu menurutnya berdasarkan kandungan al-Qur’an dan sunnah. Mudah-mudahan laknat Allah dan seluruh manusia atasnya.

Belum lagi dengan pernyataan Yâsir al Habîb ketika mensyahadatkan sosok yang bernama Idris al Maghribi. Di mana salah satu bagian dari isi syahadat tersebut adalah menyatakan; Aku bersaksi bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan Hafshah di neraka. Hal ini akan semakin tampak jelas dalam konsep mereka yang kemudian dijadikan rukun Islam Syi’ah yaitu al walayah dan al bara’ah. Mencintai Allah, Rasul, ‘Ali, Fatimah dan anak keturunannya. Serta membenci Abu Bakar, Umar, Utsman, ‘Aisyah dan Hafshah.

Muhammad bin Baqir al Majlisi dalam kitabnya ‘Baihar al Anwar‘ (11/517) menyebutkan riwayat;  Kami meyakini adanya Al Bara’ah (doktrin kebencian) dan hukumnya adalah wajib. Yaitu benci kepada empat (4) berhala laki-laki dan empat berhala perempuan serta seluruh kelompoknya dan para pengikutnya. Mereka semua adalah makhluq Allah ‘Azza Wajalla yang paling buruk di muka bumi. Tidak benar keimanan seseorang kepada Allah, Rasul dan para imam hingga ia membenci (Al Bara’ah) musuh-musuhnya.

Yang dimaksud empat berhala laki-laki adalah; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Mu’awiyah. Adapun yang dimaksud empat berhala wanita adalah ‘Aisyah, Hafshah, Hindun (Ibu Mu’awiyah) dan Ummu Hakam (istri Mu’awiyah).

Sebenarnya masih banyak bukti-bukti lain yang menunjukan betapa rusaknya akhlaq kalangan Syi’ah terhadap para sahabat Nabi saw. Bahkan mereka mewajibkan (dengan riwayat tersebut) membenci kaum muslimin yang mencintai para sahabat. Kalau saja akhlaq mereka terhadap sosok-sosok yang mulia demikian rusaknya. Lantas akhlaq apa lagi yang akan mereka usung? Jadi perbaiki dulu akhlaq terhadap para sahabat baru kemudian akhlaq terhadap kaum muslimin generasi berikutnya. Karena misi akhlaq merupakan intisari dari agama Islam./islampos.com

 

* Added on 12 November 2012 nahimunkar.com

Doa Khas Syi’ah di Bus PRIMAJASA! https://www.nahimunkar.org/?s=primajasa&x=7&y=7

Syiah Do'a07

(nahimunkar.com)

(Dibaca 10.358 kali, 1 untuk hari ini)