Trukyun


Trukyun
Apa arti Trukyun? Mereka adalah kuburyun yang masa hidupnya jadi supir truk atau bisa jadi matinya ditabrak truk atau kenek truk. Terserah pokoke akidah tetep #kuburyun joos tapi propesi bisa cinta truk atau sial dicium truk

Rasulullah shallallahualaihiwassalam melarang memberi bangunan diatas kuburan, kuburiyyun malah bangun odong-odong disana….

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim no. 970).

Abu Ibrahim Al Batawy

SlttKeomfarSiupgns opnunusorkeusalddeodl c0t5.2a3

***

Penulis di fb itu tidak menjelaskan, kuburan itu di mana. Tampknya bangunan aneh di atas kuburan itu seperti masih baru.

Sudah melanggar aturan Islam, masih pula menyia-nyiakan harta, pemborsan.

Dibenci Allah Ta’ala

  • Orang yang melakukan kemubadziran itu adalah teman syetan.

وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا  [الإسراء/26، 27]

26. dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS Al-Israa’/ 17: 26, 27).

Imam Ibnu Taimiyah menegaskan: Sungguh Allah dalam Al-Qur’an telah melarang tabdzir:

{ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا }

…dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Yaitu membelanjakannya dalam hal yang tidak maslahat dan itu adalah menyia-nyiakan harta. Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang penyia-nyiaan harta, (larangan itu) di dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Mughirah bin Syu’bah dari  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang dari qiila wa qaala (berkata-kata yang tidak jelas sumbernya), banyak tanya dan menyia-nyiakan harta. (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah juz 31 halaman 32).

Larangan yang sejalan dengan itu ditegaskan pula:

وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ  [الأنعام/141]

“…dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-An’am/6: 141).

Ibnu Juraij berkata, dari Atha’ (ia berkata): Itu larangan berlebih-lebihan dalam segala hal.

Kemudian Ibnu jarir memilih perkataan Atha’ itu: bahwa itu larangan berlebih-lebihan dalam segala sesuatu. (Tafsir Ibnu Katsir, dalam ayat 141 surat Al-An’am).

Dalam hadits shahih, Allah membenci otang yang menyia-nyiakan harta:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ   قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai bagimu tiga perkara dan membenci tiga perkara; Dia menyukai kalian bila kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya dan tidak berpecah belah. Dan Allah membenci kalian dari mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya (qiila wa qaala), banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.” (HR Muslim 3236)

Adapun (tentang dibencinya) menyia-nyiakan harta itu  ada di hadits muttafaq ‘alaih, karena hal itu tidak bermaslahat bagi agama maupun dunia. Hal itu dilarang, karena Allah Ta’ala menjadikan harta-harta itu sebagai kekuatan untuk kemaslahatan hamba-hamba. Sedang penghamburannya (tabdzir) itu menghilangkan maslahat-maslahat, baik dalam hak pelaku yang menyia-nyiakan harta ataupun dalam hak orang lain. (Ihkamul Ahkam Syarah ‘Umdatul Ahkam juz 2 halaman 20/ Maktabah Syamilah).

Menurut Dr Mushthafa Dib al-Bagha, dosen Hadits di Fakultas Syari’ah Damsik, menyia-nyiakan harta yaitu dengan membelanjakannya dalam maksiat atau berlebihan (menghamburkannya) dalam hal yang mubah (dibolehkan). (Komentar/ ta’liq di hadits Bukhari)

Jadi menghamburkan harta itu walau miliknya sendiri atau diaku sebagai miliknya sendiri pun tetap dibenci Allah Ta’ala. Maka ummat Islam perlu membencinya pula, dan jangan sampai mengikutinya.

https://www.nahimunkar.org/larangan-hamburkan-harta-dan-contoh-buruk-pesta-nikah-mewah-mewah/

(nhimunkr.org)

(Dibaca 459 kali, 1 untuk hari ini)