Buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia/ foto syi


Sesuai dengan tujuan dipilihnya imam/pemimpin yaitu untuk menerapkan aturan Allah di dalam masyarakat, maka Al-Mawardi (dalam kitabnya yang masyhur, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah) menjadikan tugas nomor satu khalifah adalah:

Melindungi keutuhan agama sesuai dengan prinsip-prinsipnya yang telah ditetapkan, dan hal-hal yang disepakati oleh salaful ummah (generasi awal Islam). Apabila muncul pembuat bid’ah, atau orang sesat yang membuat syubhat tentang agama, ia menjelaskan hujjah kepadanya, menerangkan yang benar kepadanya, dan menindaknya sesuai dengan hak-hak dan hukum yang berlaku, agar agama tetap terlindungi dari segala penyimpangan, dan ummat terlindungi dari usaha penyesatan.

Di samping tugas utama seperti itu masih ada sembilan tugas lagi bagi imam/khalifah yaitu:

  1. Menerapkan hukum kepada dua pihak yang berperkara.
  2. Melindungi wilayah negara dan tempat-tempat suci.
  3. Menegakkan hukum.
  4. Melindungi daerah-daerah perbatasan.
  5. Memerangi orang yang menentang Islam.
  6. Mengambil fai’ dan sedekah (termasuk zakat).
  7. Menentukan gaji dan keperluan baitul mal.
  8. Mengangkat orang-orang terlatih untuk menjalankan tugas-tugas, dan orang-orang yang jujur untuk mengurusi keuangan, agar tugas-tugas dikerjakan oleh orang-orang ahli, sedang keuangan oleh orang-orang yang jujur.
  9. Terjun langsung menangani aneka persoalan, memeriksa keadaan, agar ia sendiri yang memimpin ummat dan melindungi agama.[Imam Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah,Darul Fikr, Beirut, cet. pertama, 1380 H/ 1960 M, hlm. 15-16.].

Kenyataan di Dunia Ini

Demikianlah dua sistem yang sangat berjauhan. Sistem politik Islam memang beda jauh dengan sistem demokrasi. Secara sekilas tampaknya sistem politik Islam itu hanya teori, padahal sebenarnya telah ada dan dilaksanakan sejak zaman awal Islam, bahkan sampai kini oleh sebagian negeri-negeri Islam. Sayangnya ummat Islam di dunia ini banyak yang tidak mau memakai sistem politik Islam. Sebagian mereka karena memang tidak paham, dan sebagian lainnya hanya karena kalah pengaruh dengan sistem non Islam, atau mereka memang benci terhadap Islam, walau mengaku dirinya Muslim. Akibatnya, pemerintahan dijalankan dengan sistem non Islam alias kufur. Maka ummat Islam –sebagai rakyat– kerepotan dalam menjalankan Islam, dan sering mendapatkan PR (pekerjaan rumah) dari penyelenggara kepemimpinan yang memakai sistem non Islam. Dan ketika ummat Islam jadi lemah dari berbagai seginya, maka faktor utama yaitu disingkirkannya sistem kepemimpinan Islam itu tidak pernah disebut-sebut sebagai biang keladi atau penyebab utama, karena banyak orang Islam sendiri yang ragu-ragu bahkan menolak sistem politik Islam itu. Ironis memang.

Sebaliknya, ada sebagian kelompok Islam yang memfokuskan seluruh upayanya dan pemikirannya kepada satu fokus, yaitu seakan-akan kepemimpinan Islam itu tujuan utama dan pertama. Sehingga hal-hal pokok dan mendasar dalam Islam yaitu aqidah malah terabaikan. Akibatnya mereka dijadikan sasaran kecurigaan oleh penguasa, masih pula tentang pembinaan aqidah pun agak keteteran/terlantar. Tetapi anehnya, dalam kondisi seperti itu, kemudian mereka yang tujuan pokoknya mewujudkan kepemimpinan Islam itu tiba-tiba ada yang berbalik bermesraan dengan penguasa dan bergabung dalam sistem non Islam, dengan alasan “ini memang sudah keniscayaan”. Ummat Islam yang jadi pengikutnya pun kehilangan dua perkara besar, aqidah mereka terabaikan, sedang sistem politik Islam yang semula mereka idamkan terwujudnya pun kandas karena berbaliknya tokoh-tokoh mereka menjadi bermesraan dengan penguasa yang pakai sistem non Islam.

Sesuai dengan kenyataan bahwa sistem politik Islam itu belum tentu bisa dilaksanakan oleh ummat Islam di sebagian belahan bumi, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Pengasih dan Penyayang tidak memutlakkan terwujudnya sistem politik Islam itu pada setiap wilayah ataupun setiap masa. Ummat Islam hanya dituntut sebatas kemampuannya, dan hanya dimutlakkan agar jangan sampai mati kecuali dalam keadaan Muslim.

Aturan yang sesuai dengan kemampuan manusiawi itu tampaknya kadang disia-siakan oleh sebagian ummat Islam pula, hingga kemutlakan agar jangan sampai mati kecuali dalam keadaan muslim itu pun masih dilanggar. Sehingga ketika ajalnya sampai, si orang yang mengaku beragama Islam itu dalam keadaan ngotot menolak diterapkannya syari’at Islam di negerinya. Maka ketika jasadnya terbujur sebagai mayat yang akan menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kubur, tercatatlah ia sebagai penolak diterapkannya syari’at Islam di bumi Allah. Itulah yang perlu dipikir benar-benar oleh orang-orang yang sampai kini bersikap seperti itu, kata Hussein Umar Sekjen Dewan Dakwah (wafat pada hari Kamis 1 Rabi’uts Tsani 1428H/ 19 April 2007M, kemudian kepemimpinan Dewan Dakwah digantikan oleh Syuhada Bahri). (Wabil khusus para anggota MPR/DPR, di samping terutama pejabat eksekutif, yang justru sumpahnya saja bersumpah demi Allah tetapi sumpah untuk mempertahankan aturan thaghut, bukan aturan Allah. Ini sangat aneh bin ajaib. Mestinya mereka bersumpah: “Demi thaghut yang kami cintai”, biar sekalian jelas perkaranya. Karena sumpahnya demi Allah, tetapi untuk mempertahankan aturan thaghut, lantas bagaimana nanti cara mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala?) Dan juga orang-orang yang bergabung sambil mendukung sistem non Islam dengan dalih “kami ingin berjuang dari dalam” yang kebenarannya secara teori maupun palaksanaan masih sangat perlu diuji.

Alhasil, hanya disuruh oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk jangan sampai mati kecuali dalam keadaan muslim saja ternyata kadang masih enggan, dan masih pula memprovokasi massa untuk enggan pula. Inilah ujian bagi ummat Islam. (Lihat Buku Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, dengan sedikit tambahan keterangan). (Selesai, al-hamdu lilLah)

https://www.nahimunkar.org/kesesatan-dan-kerancuan-dalam-politik-1-beda-sistem-politik-islam-dan-demokrasi/

https://www.nahimunkar.org/kesesatan-dan-kerancuan-dalam-politik-2/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 152 kali, 1 untuk hari ini)