Mantan Menlu Yunani dan mantan Wali Kota Athena, Dora Bakoyannis mengatakan bahwa pembacaan Al-Quran yang baru di Hagia Sophia telah merubah hampir keseluruhan Hagia


Hidayatullah.com–Pemerintah Turki akhirnya mengizinkan penggunaan Hagia Sophia, bekas gereja Yunani kuno pada kekuasaan Konstantinopel pada abad ke 50, sebagai sarana ibadah umat Islam selama bulan Ramadhan.

Namuan sebuah gerakan resmi Yunani menentang dengan menyebut sebagai kemunduran dan ketidak-hormatan.

Ayat dari kitab suci umat Islam akan di bacakan di Byzantium setiap harinya pada bulan suci Ramadhan. Pembacaan dimulai sejak awal Ramadhan  dan juga disiarkan secara langsung dichanel religi Turki TRT Diyanet, Selasa (07/06/2016).

Hari Senin, pemerintah Turki mulai menyiarkan pembacaan Al-Quran dan Sahur (sunnah makan sebelum fajar di bulan Ramadhan), pada televisi nasional langsung dari Hagia Sophia, yang sebelumnya difungsikan sebagai Musium sejak sekularisasi Turki oleh Mustafa Kemal Aturk.

Lisa Daftari dari media asing melaporkan bahwa siaran akan dilanjutkan sepanjang bulan Ramadhan seiring dengan disetujuinya penggunaan berjangka waktu dari Hagia Sophia sebagai masjid sejak era Aturuk oleh Ankara.

Harian Sabah memohon kepada pemerintah  Presiden Recep Tayyip Erdogan, mengumumkan siaran minggu lalu, yang menyebutkan Hagia Sophia “sebuah monumen baik umat Kristen dan umat Islam”.

Sedangkan perdana menteri anggota sayap kiri pemerintahan Yunani, Alexis Tsipras tidak mengeluarkan pernyataan resmi apapun dalam kasus ini.

Namun Daftari menterjemahkan pernyataan Kementerian Luar Negeri Yunani yang mengutuk inisiatif Turki itu dan menyebutnya sebagai langkah  “regresif” dan “fanatisme” serta tidak sesuai dengan masyarakat “modern, demokratis, dan sekuler.”

Surat kabar Yunani Ta Nea mencatat bahwa kemeterian juga beranggapan bahwa langkah ini  suatu kemunduran.

“Ritual Muslim pada monumen Internasional UNESCO tidak dapat di mengerti, hal itu menunjukkan ketidak hormatan dan kurangnya hubungan dngan kenyataan, ” ujar  Kementerian menyatakan. “Aksi tersebut tidak sesuai dengan masyarakat modern, demokratis, dan sekuler,” tambahnya.

Sementara itu, mantan Menlu  Yunani dan mantan Wali Kota Athena, Dora Bakoyannis mengatakan bahwa pembacaan  Al-Quran yang baru di Hagia Sophia telah merubah hampir keseluruhan Hagia.

Menurut Dora Bakoyannis, pembacaan Al-Quran baru-baru ini di Hagia Sophia telah mengubah bangunan itu menjadi hampir sebuah masjid untuk pertama kalinya dalam 80 tahun. Hagia Sophia menjadi sebuah masjid pertama kalinya pada 80 tahun terakhir ini.

Dalam pernyataan bersama, para pemimpin partai oposisi Yunani mengatakan bahwa langkah Ankara adalah tindakan provokatif. ”Menunjukkan rasa tidak hormat terhadap orang Kristen Ortodoks di seluruh dunia dan tidak sejalan dengan program Eropa-Turki,” bunyi pernyataan bersama itu, seperti dikutip dair Russia Today, Rabu (8/6/2016).

Proses Gereja Hagia Sophia menjadi Masjid Hagia bermula hari Jumat, 23 Maret 1453  di saat Kekaisaran Byzantium jatuh di tangan Sultan Mehmed II atau Muhammad Al Fatih.

Setelah Konstantinopel jatuh di tangan Muslim, saat itu Sultan Mehmed II turun dari kudanya dan bersujud syukur kepada Allah, lalu pergi ke Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan tentaranya mengubahnya menjadi masjid yang dikenal dengan Aya Sofia. Saat itulah shalat Jumat berlangsung untuk pertama kali di tempat itu.

Proses Hagia Sophia menjadi sebuah masjid telah berlangsung hampir  lima ratus tahun lamanya. Namun pada tahun 1935 ketika Turki menjadi Republik, presiden pertamanya Mustafa Kemal Ataturk, tempat ini dijadikan sebuah museum.

Sebelumnya,  usaha Pemerintah Erdogan untuk mengubah Hagia Sophia menjadi masjid sudah dimulai sejak 2013. Namun gagasan itu juga direspon unjuk rasa sebagian orang di Turki.*/Qisma Z (hidayatullah.com) – Sabtu, 11 Juni 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 341 kali, 1 untuk hari ini)