“Aneh ya, kenapa kalo orang sipil yang megang senjata dikenai UU kepemilikan senjata api, tapi kalo orang berjenggot megang senjata api dikenai UU anti terorisme”. Begitulah salah satu komentar yang ditulis pembaca pada sebuah rubrik berita di media online. Pernyataan tersebut ditulis saat mengomentari berita ditemukannya senjata api di hutan Universitas Indonesia (UI). Konon, ditemukannya senjata api di UI dikaitkan dengan jaringan Abu Omar—pemasok senjata asal Filipina—dan Negara Islam Indonesia (NII). Selain itu, ada juga yang memprediksi bahwa senjata-senjata tersebut hendak digunakan untuk membunuh Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, yang beberapa saat lalu berkunjung ke UI.

Ditemukannya senjata-senjata api di kampus UI memang menyeret dugaan keterlibatan mahasiswa UI. Akan tetapi, sampai saat ini tidak terbukti ada keterlibatan mahasiswa UI. Seperti yang disampaikan Humas UI, Devie Rahmawati, bahwa belum ada keterlibatan mahasiswa UI dalam jaringan terorisme (vivanews.com, 14/11). Hal senada juga disampaikan Kapolri, Jenderal Timur Pradopo. Menurut penyelidikan yang telah dilakukan, Kapolri menyatakan bahwa tidak yakin mahasiswa UI terlibat (tribunnews.com, 14/11).

Memojokkan Islam?

Pernyataan yang dituliskan di awal menjelaskan makna tersirat. Pernyataan tersebut menunjukkan ketidakadilan perlakuan bagi warga negara. Seseorang yang berjenggot ketika memiliki senjata api tanpa ijin kemungkinan besar akan dikenai UU anti terorisme, sementara orang sipil biasa hanya dikenai UU kepemilikan senjata api. Jika dipikir lagi, apa yang membedakan orang berjenggot dengan orang tidak berjenggot?

Sepertinya, jawabannya bukan pada ranah individu. Lebih jauh dari itu, jenggot barangkali dijadikan simbol Islam. Lebih khusus lagi, simbol orang-orang yang memperjuangkan Islam. Satu analisis politik yang mungkin benar dari ditemukannya senjata-senjata api di hutan UI adalah memojokkan Islam dan orang-orang yang memperjuangkan Islam dengan ikhlas. Lebih jauh lagi, analisis politiknya bisa berupa upaya memojokkan para aktivis dakwah kampus yang benar-benar ikhlas berjuang demi tegaknya Islam.

Sebenarnya, upaya mengaitkan terorisme dengan dakwah atau dengan Islam jelas bukan hal baru. Upaya ini terus diulang-ulang sejak programWar on Terrorism (Perang Melawan Terorisme) dimulai oleh Amerika Serikat di seluruh dunia, khususnya di negeri-negeri Muslim (termasuk Indonesia), segera sejak terjadinya peledakan WTC 11 September 2001. Sejak itu, Amerika menegaskan bahwa Perang Melawan Terorisme bakal memakan waktu lama alias perang jangka panjang. Tujuannya tidak lain karena yang diperangi oleh AS bukanlah semata-mata terorisme, tetapi Islam itu sendiri sebagai kekuatan ideologi dan politik. Sebab, para pejabat dan politisi AS, termasuk sebagian intelektualnya, memang menganggap Islam sebagai ancaman potensial bagi ideologi Kapitalisme yang diusungnya, setelah ancaman ideologi Sosialisme-komunis tidak ada lagi pasca runtuhnya Uni Soviet. Inilah sebetulnya yang harus disadari dan dikritisi oleh kaum Muslim.

Nyatanya, Islam dan kaum Muslimin seolah terus disudutkan. Kata “ironis” layak disematkan jika melihat kondisi demikian. Umat Islam yang merindukan kesahihan ala Al Qur’an dan As Sunnah nampaknya babak belur disudutkan dan terjadi character assasination (pembunuhan karakter) yang sengaja di desain dan dibuatkan stereotype buruk apabila hidup di negeri demokrasi ini, meski mayoritas umatnya beragama Islam.

Ada indikasi character assassination terhadap Islam dan kaum Muslimin dilakukan oleh Densus 88. Bukan tanpa fakta, pada bulan Maret lalu, semua atribut Islam benar-benar babak belur dipermainkan Densus 88. Dalam simulasi penanganan bom di kereta komuter Stasiun Wonokromo, Kamis (24/3), menggunakan simbol Islam. Dalam latihan antiteroris tersebut, terlihat penggunaan label pada kotak bom bertuliskan “Jihad Fisabilillah Demi Kebenaran” dan juga menggunakan teriakan takbir dari orang yang digambarkan sebagai teroris.

Aktivitas character assassination mulai merambah kepada para aktivis dakwah kampus. Alasan logisnya yakni kampus adalah pusat pergerakan yang diisi oleh mahasiswa yang memiliki intelektualitas tinggi. Selain itu, mahasiswa adalah agen perubahan. Mahasiswa juga harapan masyarakat yang nantinya terjun di tengah-tengah masyarakat dan berpotensi sebagai leader. Barangkali, karakter seperti inilah yang ingin “dibunuh” oleh mereka yang tidak senang dengan sepak terjang para aktivis dakwah yang memperjuangkan Islam. Karakter yang ingin ditonjolkan bahwa kampus merupakan lumbung teroris dan harus berhati-hati pada mahasiswa, khususnya mahasiswa Islam. Imbasnya, muncul banyak kekhawatiran pada orang tua mahasiswa bahwa takut anaknya terlibat aktivitas-aktivitas yang menjurus pada terorisme atau radikalisme, yang isu tersebut dihembuskan oleh kaum propagandis yang tidak senang dengan kebangkitan Islam.

Kami tekankan, bahwa banyak organisasi Islam di kampus yang bergerak dengan visi dakwahnya demi tegaknya Islam, dan tanpa kekerasan.

Tanpa Kekerasan

Di satu sisi, ada upaya memojokkan Islam dari kaum propagandis yang tidak senang dengan Islam. KJ Holsti dalam Farid Wadjdi (2009), dalam Politik Internasional: Kerangka untuk Analisis, hlm 220, dengan mengutip buku The Fine Art of Propaganda: A Study of Father Coughlin’n Speeches, mengemukakan beberapa teknis propaganda yang sering dilakukan untuk melakukan penyesatan opini. Dua teknik propagandis yang kentara di Indonesia adalah memberikan nama julukan dan merangkul media massa. Julukan bagi orang Islam, berjenggot, berjilbab, aktif menyuarakan Islam dijuluki teroris. Julukan tersebut menjadi familiar di tengah masyarakat ketika media massa terus memberitakannya.

Di sisi lain, kita juga mengecam apabila ada sekelompok umat Islam yang berjuang menggunakan cara-cara kekerasan. Rasululloh Muhammad SAW tidak mengajarkan cara-cara kekerasan dalam aktivitas dakwahnya.

Dalam perjuangan Rasululloh SAW, Beliau melakukannya dengan pertarungan pemikiran dan perjuangan politik, dan mensterilkannya dari kekerasan fisik dan senjata. Bukan karena tidak bisa, tidak mampu, ataupun tidak mau, melainkan karena Allah SWT melarangnya. Kalau Nabi SAW mau, bisa saja dilakukan. Namun, beliau tidak melakukannya.

Tatkala pada Bai’at ‘Aqabah II sebagian sahabat menyampaikan keinginannya untuk menggunakan kekuatan fisik, beliau mengatakan: ”Kita belum diperintahkan demikian” (Lihat Sirah Ibnu Hisyam). Pernyataan ini makin menegaskan sikap beliau bahwa merubah masyarakat tidak islami menjadi masyarakat islami harus dilakukan tanpa menggunakan kekerasan fisik.

Berdasarkan hal di atas jelaslah bahwa metode perubahan masyarakat dari jahiliyah menjadi Islam dilakukan melalui pergulatan pemikiran dan perjuangan politik, tanpa kekuatan senjata. Ancaman-ancaman fisik yang diterima beliau dan para sahabatnya tidak dihadapi dengan kekuatan senjata. Metode perlindungan terhadap ancaman tersebut adalah thalab an-nushrah.

Thalab an-Nushrah dilakukan oleh Nabi SAW dalam rangka dua hal, yakni: Pertama, untuk melindungi dan menangkal siksaan supaya beliau dan para sahabat bisa menyampaikan risalah dan menyeru manusia ke jalan Allah dalam suasana tenang. Kedua, agar mereka menyerahkan kekuatan dan kedudukan yang mereka miliki untuk mewujudkan tegaknya daulah islamiyah

Wahai Kaum Muslimin

Sesungguhnya, banyak pihak yang tidak senang dengan Islam dan kembalinya kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. Mereka adalah pengusung ide-ide kapitalisme, dengan Amerika sebagai garda terdepannya. Oleh karena itu, tak ada kata duduk berdampingan dengan pihak-pihak seperti ini.

Sesungguhnya, Alloh SWT melalui Rasululloh Muhammad SAW mengajarkan bahwa dakwah dalam rangka berjuang menerapkan hukum-hukum Alloh SWT di muka bumi ini adalah tidak dengan kekerasan. Oleh karena itu, janganlah mempercayai secara utuh pemberitaan media yang mengabarkan bahwa perjuangan Islam itu dengan kekerasan. Sesungguhnya, terdapat orang-orang dan kelompok-kelompok dakwah yang berjuang dengan ikhlas dan tanpa kekerasan.

Sesungguhnya, upaya-upaya memojokkan Islam dan kaum Muslimin tidak akan mendapat manfaat apa-apa, selain azab dari Alloh SWT. Oleh karena itu, bagi cendekiawan, aktivis, penguasa, atau seorang muslim yang berjuang mengatasnamakan Islam padahal aktivitasnya berupaya menyerang Islam dan kaum Muslimin, tinggalkanlah aktivitas hina tersebut. Bertaubatlah kepada Alloh SWT dan merapatlah pada barisan pejuang Islam yang benar-benar ikhlas berjuang demi tegaknya Syariat Islam.

Sesungguhnya, bagi kaum Muslimin yang belum menyadari pentingnya kembali pada aturan Alloh SWT dalam seluruh aspek kehidupan, maka sesunggunya janji Alloh SWT itu pasti terjadi. Hancurnya kekuasaan di tangan-tangan para pemimpin diktator (tidak menerapkan Syariat Islam) pasti terjadi. Dan sesungguhnya, tegaknya hukum-hukum Alloh SWT dalam bingkai Khilafah Islamiyah pasti terjadi. Oleh karena itu, mari songsong janji Alloh SWT tersebut dengan sungguh-sungguh berjuang di jalan-Nya.

Irawan Setiawan

LDK FRM UI/Ketua BE Korwil BKLDK Jakarta Raya

ERAMUSLIM > SUARA PEMBACA

http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/ui-sarang-teroris.htm
Publikasi: Jumat, 23/12/2011 05:53 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 775 kali, 1 untuk hari ini)