“Ijtihad” Orang Tua yang Melarang Anaknya Kuliah di UIN Terasakan

Setidaknya, sang anak yang tidak lagi kuliah di UIN Surabaya setelah kasus heboh spanduk “Tuhan Membusuk” 2014, kini tidak terkena virus syiah dan Politik Revolusi Iran yang sengaja didatangkan dari Qum ke UIN Surabaya.

Tampaknya UIN Surabaya tidak kapok dengan kasus spanduk “Tuhan Membusuk” dalam OSCAAR (kegiatan Orientasi Akademik dan Cinta Almamater) 2014 Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Kini citra buruk yang telah menyebar ke seantero Indonesia itu justru ditambahi pula dengan sengaja mendatangkan dua pembicara dari sarang syiah di Qum Iran.

Dikala syiah telah terbukti sah menodai agama oleh vonis Mahkamah Agung terhadap pentolan syiah Tajul Muluk, dan Umat Islam sedang ramai mewaspadai bahaya syiah di mana-mana (https://www.nahimunkar.org/tidak-ada-toleransi-terhadap-syiah-penoda-agama/ ), justru UIN Surabaya mendatangkan pentolan-pentolan syiah dari sarangnya, Qum Iran.

Tentu saja orang akan membenarkan dan merasakan betapa melegakannya “ijtihad” Orang Tua yang melarang anaknya kuliah di UIN sehingga kini tidak terkena virus syiah dan Politik Revolusi Iran yang sengaja didatangkan itu.

Berikut ini berita tentang UIN Surabaya mendatangkan “virus syiah” dan Politik Revolusi Iran dari sarangnya.

***

Stadium General Politik Islam, UIN SA Undang Pembicara dari Universitas Mustafa Qum Iran

Acara kerjasama Fakultas Ushuluddin dengan Sadra International Institute ini pembicara dari Iran

Fakultas Ushuluddin

Acara yang diprakasai oleh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat ini menghadirkan Prof. Dr. Ali Abassi, Guru Besar Filsafat dan Deputi Riset Jamiatul Mustafa Qum dan Prof. Dr. Hamid Parsaniya, Guru Besar Filsafat Universitas Baqir Ulum Iran.

Hidayatullah.com – Bertempat di Ruang Sidang Rektorat lantai 2, Hari Jum’at, (20/22/2015) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar Stadium General Politik Islam bertema “Politik Transendental: Membedah Posisi Etika dalam Dinamika Politik.”

Acara yang diprakasai oleh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat ini menghadirkan Prof. Dr. Ali Abassi, Guru Besar Filsafat dan Deputi Riset Jamiatul Mustafa Qum dan Prof. Dr. Hamid Parsaniya, Guru Besar Filsafat Universitas Baqir Ulum Iran.

Pada kesempatan itu, Prof. Abbasi menyampaikan soal teori filsafat politik. Menurutnya, setiap sistem politik didasari oleh paham-paham tertentu sebagai pondasinya.

“Filsafat politik tidak hanya didasari oleh bangunan argumen yang bersifat rasional, tetapi juga termasuk hal-hal yang transendental,” ujarnya.

Karena, lanjut Prof. Abbasi, apa yang ada di alam semesta ini merupakan kehendak dari Tuhan yang masa kuasa, yang mana tidak seluruhnya bisa diterima oleh rasional.

Sementara itu, Prof. Parsaniya menjelaskan tentang implementasi filsafat politik yang dianut oleh negara-negara di dunia dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, filsafat politik dunia hari ini telah bergeser.

“Dahulu pertarungan filsafat politik dunia diwakili oleh blok Barat dan Timur. Namun hari ini yang terjadi adalah Barat dengan Islam,” ungkapnya.

Acara kerjasama dengan Sadra International Institute ini dihadiri puluhan mahasiswa.

Rep: Yahya G Nasrullah

Editor: Cholis Akbar/hidayatullah.com/Sabtu, 21 November 2015 – 08:45 WIB

***

Orang Tua Melarang Anaknya Kuliah di UIN

Posted on Okt 1st, 2014

by nahimunkar.com

mahasiswa baru

Kasus ‘Tuhan Membusuk’, seorang mahasiswa baru di UIN Surabaya akhirnya tidak kembali ke kampus karena dilarang orangtuanya melanjutkan kuliah.

Usai mengikuti OSCAAR (kegiatan Orientasi Akademik dan Cinta Almamater), seorang mahasiswa baru UIN Surabaya pulang kekampungnya di Kabupaten Tuban, JawaTimur. Rupanya di rumahnya ia dimarahi bapaknya, sebab mahasiswa baru itu mengenakan baju kaos OSCAAR yang bertuliskan “Tuhan Membusuk”. Akhirnya dia tidak kembali ke kampus karena dilarang orang tuanya melanjutkan kuliah.

Inilah beritanya.

***

Kasus Spanduk ‘Tuhan Membusuk’ UIN Sunan Ampel

Dapat Kaos “Tuhan Membusuk”, Peserta OSCAAR UINSA Diminta Pindah Kuliah

Hidayatullah.com– Kasus spanduk kontroversi dalam kegiatan Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) 2014 Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya masih menyisahkan banyak cerita. Bahkan seorang mahasiswa baru yang akhirnya tidak kembali ke kampus karena dilarang orangtuanya melanjutkan kuliah.

Kejadian ini diungkapkan seorang mahasiswa baru UINSA berinisial AM, saat ditemui hidayatullah.com di depan gedung Fakultas Ushuluddin, UINSA, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (04/09/2014) sore.

AM menuturkan, cerita bermula saat peserta OSCAAR yang sempat tinggal seasrama dengan seorang sahabat barunya, sebut saja BB selesai mengikuti kegiatan pada hari terakhir kegiatan ospek tersebut, Sabtu (30/08/2014).

Usai mengikuti OSCAAR, tutur AM, teman seasramanya itu pulang ke kampungnya di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Rupanya di rumahnya ia dimarahi bapaknya, sebab mahasiswa baru itu mengenakan baju kaos OSCAAR yang bertuliskan “Tuhan Membusuk”.

“Setelah satu hari di rumah itu, (dia) datang ke asrama. Saya tanyain, kapan datang? Gimana keadaan di rumah? Langsung dia curhat,” tutur AM.

Dalam curhatnya kepada AM, mahasiswa baru tadi mengaku ia dimarahi bapaknya.

“Gara-gara itu, dia bawa baju kenang-kenangan dari panitia (OSCAAR) itu tulisannya ‘Tuhan Membusuk’. Dimarahin sama orang di rumah dia. Nda sampai sih dipukul,” tutur AM, mahasiswa UINSA Fakultas Dakwah.

Sabtu itu juga, temannya AM ini langsung pulang membawa pakaiannya meninggalkan UINSA.

“Iya, saya dimarahi sama bapak. Saya disuruh pindah (kuliah), pokoknya harus pindah,” ungkap ‘korban’ OSCAAR tersebut seperti ditirukan AM.

Namun sayang, AM tidak sempat mendapat cerita detail dan bertanya lebih jauh tentang teman yang baru dikenalnya di asrama pesantren mahasiswa UINSA itu.

AM menduga, bapak temannya itu mungkin mengerti bahaya pemikiran dibalik tulisan “Tuhan Membusuk” tersebut.

Rep: Muh. Abdus Syakur /  hidayatullah.com/ Jum’at, 5 September 2014 – 13:15 WIB

***

 

Waspada & Tolak Lembaga Pendidikan Syi’ah di Indonesia

Posted on July 22, 2015 by tabayyunnews

stfi

STIFI SADRA , Sekolah Tinggi Syi’ah di Jakarta!!
******************************
Hati-hati dan Waspada …!
Jangan memasukkan Anak-anak anda pada lembaga pendidikan Syi’ah ini :
Namanya : STIFI Sadra
Berkedok dengan nama : ” Sekolah Tinggi Filsafat Islam ”
Sekolah Tinggi Filsafat Islam di Indonesia yang fokus pada pengkajian filsafat Islam & Ilmu Alqur’an – Tafsir. Sistem pembelajaran di dasarkan pada perpaduan antara nilai-nilai tekstual (alqur’an & Assunah) dengan pendekatan rasional yang bersumber dari khazanah ilmiah Islam klasik & kontemporer. ((Padahal isinya adalah Kurikulum Pendidikan Liberal dan ajaran Sesat Syi’ah …..!!!))

Beberapa dosen di Sekolah ini di antaranya Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Prof Dr. Abdul Hadi MM, Dr. Haidar Bagir (Mizan), Dr Umar Shahab, Dr. Muhsin Labib, Dr. Zainal Abidin Bagir (Center for Religious and Cross-Cultural Studies/CRCS), Dr Donny Gahral Adaian, Prof. Dr Rosikhon Anwar (Guru Besar Ilmu Al-Quran UIN Sunan Gunung Djati Bandung) juga Dr. Khalid Walid, alumnus dari Hawzah Ilmiah Qom, Iran.

Fahmi Salim, MA, Wakil Sekjen Majelis (Waskjen) Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, serta Komisi Pengkajian di MUI Pusat mengatakan, dari bentuk, link (jalur), lembaga ini dinilai berbau dengan Syiah. Termasuk jalur ke Jamiah Almustafa, Qom, Iran. “Karena selama ini, gerakan Syiah masuk melalui filsafat,” ujarnya kepada hidayatullah.com

Dari namanya STIFI SADRA merujuk Mulla Sadra, filsuf mazhab Syiah Imamiyah. Menurut Ahmad Jubaili, ketua tim perumus kurikulum mengatakan, kampus ini merupakan tempat kajian ilmiah yang merujuk pada Filsafat Mulla Sadra yang mampu menggabungkan seluruh pendekatan keilmuan, terutama teologi, filsafat dan Tasawuf.Seperti dikutip IRIB Indonesia, juga salah satu situs berita yang berafiliasi dengan IRAN.

Klik dan Baca Link beritanya di bawah ini ===>
http://www.hidayatullah.com/…/berdiri-sekolah-tinggi-filsaf…
https://www.nahimunkar.org/diresmikan-sekolah-tinggi-filsaf…/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.453 kali, 1 untuk hari ini)