• Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Ramadhan 1433 Hijriah pada Sabtu, 21 Juli 2012 melalui sidang itsbat  yang digelar Kementerian Agama dengan melibatkan seluruh perwakilan ormas.

Sementara ormas Muhammadiyah telah mengumumkan akan memulai puasa Ramadhan pada Jumat, 20 Juli 2012.

  • Ormas di Tanah Air seharusnya menahan diri dalam mengumumkan penetapan awal Ramadhan karena dapat membuat masyarakat bingung.  Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah namun ada adab-adabnya.
  • Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

…dan ketika itu maka syarat adanya hilal dan syahr (bulan) adalah terkenalnya di antara para manusia, dan para manusia menganggapnya hilal sehingga seandainya sepuluh orang melihatnya tetapi itu tidak terkenal demikian di sisi orang umum penduduk negeri karena keadaan kesaksian mereka tertolak atau karena keadaan mereka tidak menyaksikannya maka hukum mereka sebagaimana hukum seluruh Muslimin (lainnya) maka seperti mereka (dalam hal) tidak wuquf (di Arafah), tidak menyembelih qurban, dan tidak shalat ‘ied kecuali beserta kaum muslimin. Maka demikian pula mereka tidak berpuasa (Ramadhan) kecuali bersama kaum muslimin. Dan inilah makna dari sabda Nabi: :

{ صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّونَ } .

Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa dan idul fithri kalian adalah pada hari kalian berbuka, dan idul adha kalian adalah pada hari kalian berqurban. (Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa juz 6 halaman 65).

Sidang Itsbat 1 Ramadhan 1433 H

Suasana saat berlangsungnya Sidang Itsbat (penetapan) 1 Ramadhan 1433 H dipimpin langsung oleh Menteri Agama, Suryadharma Ali yang di hadiri sejumlah Ormas Islam dan perwakilan negara sahabat di Gedung Kemenag Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (19/7 2012) malam. Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1433 H jatuh pada Sabtu, 21 Juli 2012, setelah pemantauan hilal dilakukan di beberapa titik di Indonesia./inilah.com

PADANG — Ulama Sumatera Barat Gusrizal Gazahar mengemukakan, menjaga persatuan dan kebersamaan umat jauh lebih utama daripada perdebatan tentang metode penetapan awal Ramadhan.

“Dalam penetapan awal Ramadhan semua pihak seharusnya lebih mengedepankan persatuan umat serta kebersamaan kendati masing-masing organisasi masyarakat (ormas) memiliki metode sendiri dalam menetapkan awal Ramadhan,” kata dia di Padang, Kamis.

Oleh karena itu, menurut dia, ormas di Tanah Air seharusnya menahan diri dalam mengumumkan penetapan awal Ramadhan karena dapat membuat masyarakat bingung.

Ia mengatakan, perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah namun ada adab-adabnya, dimana hal yang diperdebatkan tidak seharusnya menjadi konsumsi publik untuk mencegah kebingungan di masyarakat.

Karena itu, kata dia, seharusnya perdebatan tentang penetapan awal Ramadhan oleh ormas dilakukan dalam ruang tertutup, karena hal itu tidak dapat dicerna secara rinci oleh masyarakat.

Menurut dia, umat Islam dalam memulai ibadah Ramadhan tidak didasarkan kepada hilal atau rukyah, namun kepada nash (dalil) di mana jika terjadi perbedaan tinggal merujuk kepada nash yang sudah ada.

Apalagi salah satu makna ibadah Ramadhan adalah sarana untuk mempersatukan umat, karena itu jika ada ormas yang memiliki ijtihad sendiri dalam menetapkan awal Ramadhan, ada dalil yang lebih kuat tentang pentingnya kesatuan umat.

Ia menambahkan, sudah saatnya semua pihak menahan diri dan memberikan kewenangan secara penuh kepada pemerintah dalam menetapkan awal Ramadhan untuk diikuti bersama-sama.

Pemerintah sendiri menetapkan 1 Ramadhan 1433 Hijriah pada Sabtu, 21 Juli 2012 melalui sidang itsbat yang digelar Kementerian Agama dengan melibatkan seluruh perwakilan ormas.

Sementara ormas Muhammadiyah telah mengumumkan akan memulai puasa Ramadhan pada Jumat, 20 Juli 2012.

Redaktur: Hazliansyah

Sumber: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, Ulama: Persatuan Lebih Utama dari Perdebatan Awal Ramadhan

Thursday, 19 July 2012, 21:33 WIB

***

Puasa Ramadhan perlu bersama kaum Muslimin

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

…. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa’/ 4: 59).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : الصَّوْمُ يَوْمَ يَصُومُونَ ، والْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُونَ ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحُّونَ قَالَ أَبُو عِيسَى : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Puasa itu pada hari mereka berpuasa, hari raya fithri (Idul Fithri) itu pada hari mereka berhari raya fithri, dan (idul) Adha itu pada hari mereka menyembelih qurban.  (HR At-Tirmidzi, ia berkata: hadits ini hasan gharib).

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

…dan ketika itu maka syarat adanya hilal dan syahr (bulan) adalah terkenalnya di antara para manusia, dan para manusia menganggapnya hilal sehingga seandainya sepuluh orang melihatnya tetapi itu tidak terkenal demikian di sisi orang umum penduduk negeri karena keadaan kesaksian mereka tertolak atau karena keadaan mereka tidak menyaksikannya maka hukum mereka sebagaimana hukum seluruh Muslimin (lainnya) maka seperti mereka (dalam hal) tidak wuquf (di Arafah), tidak menyembelih qurban, dan tidak shalat ‘ied kecuali beserta kaum muslimin. Maka demikian pula mereka tidak berpuasa (Ramadhan) kecuali bersama kaum muslimin. Dan inilah makna dari sabda Nabi: :

{ صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّونَ } .

Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa dan idul fithri kalian adalah pada hari kalian berbuka, dan idul adha kalian adalah pada hari kalian berqurban. (Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa juz 6 halaman 65).

***

مجموع فتاوى ابن تيمية – (ج 6 / ص 65)

وَسُئِلَ قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ عَنْ رَجُلٍ رَأَى الْهِلَالَ وَحْدَهُ وَتَحَقَّقَ الرُّؤْيَةَ : فَهَلْ لَهُ أَنْ يُفْطِرَ وَحْدَهُ ؟ أَوْ يَصُومَ وَحْدَهُ ؟ أَوْ مَعَ جُمْهُورِ النَّاسِ ؟

الْجَوَابُ

فَأَجَابَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ . إذَا رَأَى هِلَالَ الصَّوْمِ وَحْدَهُ أَوْ هِلَالَ الْفِطْرِ وَحْدَهُ فَهَلْ عَلَيْهِ أَنْ يَصُومَ بِرُؤْيَةِ نَفْسِهِ ؟ أَوْ يُفْطِرَ بِرُؤْيَةِ نَفْسِهِ ؟ أَمْ لَا يَصُومُ وَلَا يُفْطِرُ إلَّا مَعَ النَّاسِ ؟ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْوَالٍ هِيَ ثَلَاثُ رِوَايَاتٍ عَنْ أَحْمَد : أَحَدُهَا : أَنَّ عَلَيْهِ أَنْ يَصُومَ وَأَنْ يُفْطِرَ سِرًّا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ . وَالثَّانِي : يَصُومُ وَلَا يُفْطِرُ إلَّا مَعَ النَّاسِ وَهُوَ الْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبَ أَحْمَد وَمَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ . وَالثَّالِثُ : يَصُومُ مَعَ النَّاسِ وَيُفْطِرُ مَعَ النَّاسِ وَهَذَا أَظْهَرُ الْأَقْوَالِ ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّونَ } رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَرَوَاهُ أَبُو داود وَابْنِ ماجه وَذَكَرَ الْفِطَرَ وَالْأَضْحَى فَقَطْ . وَرَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ المقبري عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . قَالَ : { الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطَرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ } قَالَ التِّرْمِذِيُّ : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ قَالَ : وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ : إنَّمَا مَعْنَى هَذَا الصَّوْمُ وَالْفِطْرُ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ . وَرَوَاهُ أَبُو داود بِإِسْنَادٍ آخَرَ : فَقَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ مِنْ حَدِيثِ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ذَكَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ فَقَالَ : { وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ . وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّونَ . وَكُلُّ عَرَفَةَ مَوْقِفٌ وَكُلُّ مِنًى مَنْحَرٌ وَكُلُّ فِجَاجِ مَكَّةَ مَنْحَرٌ وَكُلُّ جَمْعٍ مَوْقِفٌ } . وَلِأَنَّهُ لَوْ رَأَى هِلَالَ النَّحْرِ لَمَا اُشْتُهِرَ وَالْهِلَالُ اسْمٌ لَمَا اُسْتُهِلَّ بِهِ فَإِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الْهِلَالَ مَوَاقِيتَ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَهَذَا إنَّمَا يَكُونُ إذَا اسْتَهَلَّ بِهِ النَّاسُ وَالشَّهْرُ بَيِّنٌ . وَإِنْ لَمْ يَكُنْ هِلَالًا وَلَا شَهْرًا . وَأَصْلُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَّقَ أَحْكَامًا شَرْعِيَّةً بِمُسَمَّى الْهِلَالِ وَالشَّهْرِ : كَالصَّوْمِ وَالْفِطْرِ وَالنَّحْرِ فَقَالَ تَعَالَى : { يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ } . فَبَيَّنَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الْأَهِلَّةَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ . قَالَ تَعَالَى : { كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ } إلَى قَوْلِهِ : { شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ } أَنَّهُ أَوْجَبَ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ لَكِنَّ الَّذِي تَنَازَعَ النَّاسُ فِيهِ أَنَّ الْهِلَالَ . هَلْ هُوَ اسْمٌ لِمَا يَظْهَرُ فِي السَّمَاءِ ؟ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِهِ النَّاسُ ؟ وَبِهِ يَدْخُلُ الشَّهْرُ أَوْ الْهِلَالُ اسْمٌ لِمَا يَسْتَهِلُّ بِهِ النَّاسُ وَالشَّهْرُ لِمَا اشْتَهَرَ بَيْنَهُمْ ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ : فَمَنْ قَالَ بِالْأَوَّلِ يَقُولُ : مَنْ رَأَى الْهِلَالَ وَحْدَهُ فَقَدْ دَخَلَ مِيقَاتُ الصَّوْمِ وَدَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فِي حَقِّهِ وَتِلْكَ اللَّيْلَةُ هِيَ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ مِنْ رَمَضَانَ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ غَيْرُهُ . وَيَقُولُ مَنْ لَمْ يَرَهُ إذَا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ كَانَ طَالِعًا قَضَى الصَّوْمَ وَهَذَا هُوَ الْقِيَاسُ فِي شَهْرِ الْفِطْرِ وَفِي شَهْرِ النَّحْرِ لَكِنَّ شَهْرَ النَّحْرِ مَا عَلِمْت أَنَّ أَحَدًا قَالَ مَنْ رَآهُ يَقِفُ وَحْدَهُ دُونَ سَائِرِ الْحَاجِّ وَأَنَّهُ يَنْحَرُ فِي الْيَوْمِ الثَّانِي وَيَرْمِي جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ وَيَتَحَلَّلُ دُونَ سَائِرِ الْحَاجِّ . وَإِنَّمَا تَنَازَعُوا فِي الْفِطْرِ : فَالْأَكْثَرُونَ أَلْحَقُوهُ بِالنَّحْرِ وَقَالُوا لَا يُفْطِرُ إلَّا مَعَ الْمُسْلِمِينَ ؛ وَآخَرُونَ قَالُوا بَلْ الْفِطْرُ كَالصَّوْمِ وَلَمْ يَأْمُرْ اللَّهُ الْعِبَادَ بِصَوْمِ وَاحِدٍ وَثَلَاثِينَ يَوْمًا وَتَنَاقُضُ هَذِهِ الْأَقْوَالِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الصَّحِيحَ هُوَ مِثْلُ ذَلِكَ فِي ذِي الْحِجَّةِ . وَحِينَئِذٍ فَشَرْطُ كَوْنِهِ هِلَالًا وَشَهْرًا شُهْرَتُهُ بَيْنَ النَّاسِ وَاسْتِهْلَالُ النَّاسِ بِهِ حَتَّى لَوْ رَآهُ عَشَرَةٌ وَلَمْ يَشْتَهِرْ ذَلِكَ عِنْدَ عَامَّةِ أَهْلِ الْبَلَدِ لِكَوْنِ شَهَادَتِهِمْ مَرْدُودَةً أَوْ لِكَوْنِهِمْ لَمْ يَشْهَدُوا بِهِ كَانَ حُكْمُهُمْ حُكْمَ سَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَكَمَا لَا يَقِفُونَ وَلَا يَنْحَرُونَ وَلَا يُصَلُّونَ الْعِيدَ إلَّا مَعَ الْمُسْلِمِينَ فَكَذَلِكَ لَا يَصُومُونَ إلَّا مَعَ الْمُسْلِمِينَ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِهِ : { صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّونَ } .

 وَلِهَذَا قَالَ أَحْمَد فِي رِوَايَتِهِ : يَصُومُ مَعَ الْإِمَامِ وَجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ فِي الصَّحْوِ وَالْغَيْمِ . قَالَ أَحْمَد : يَدُ اللَّهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ . وَعَلَى هَذَا تَفْتَرِقُ أَحْكَامُ الشَّهْرِ : هَلْ هُوَ شَهْرٌ فِي حَقِّ أَهْلِ الْبَلَدِ كُلِّهِمْ ؟ أَوْ لَيْسَ شَهْرًا فِي حَقِّهِمْ كُلِّهِمْ ؟ يُبَيِّنُ ذَلِكَ قَوْله تَعَالَى { فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ } فَإِنَّمَا أَمَرَ بِالصَّوْمِ مَنْ شَهِدَ الشَّهْرَ وَالشُّهُودُ لَا يَكُونُ إلَّا لِشَهْرٍ اشْتَهَرَ بَيْنَ النَّاسِ حَتَّى يُتَصَوَّرَ شُهُودُهُ وَالْغَيْبَةُ عَنْهُ . { وقول النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا وَصُومُوا مِنْ الْوَضَحِ إلَى الْوَضَحِ }

 وَنَحْوُ ذَلِكَ خِطَابٌ لِلْجَمَاعَةِ لَكِنْ مَنْ كَانَ فِي مَكَانٍ لَيْسَ فِيهِ غَيْرُهُ إذَا رَآهُ صَامَهُ فَإِنَّهُ لَيْسَ هُنَاكَ غَيْرُهُ . وَعَلَى هَذَا فَلَوْ أَفْطَرَ ثُمَّ تَبَيَّنَ أَنَّهُ رُئِيَ فِي مَكَانٍ آخَرَ أَوْ ثَبَتَ نِصْفَ النَّهَارِ لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ . وَهَذَا إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَحْمَد . فَإِنَّهُ إنَّمَا صَارَ شَهْرًا فِي حَقِّهِمْ مِنْ حِينِ ظَهَرَ وَاشْتَهَرَ . وَمِنْ حِينَئِذٍ وَجَبَ الْإِمْسَاكُ كَأَهْلِ عَاشُورَاءَ : الَّذِينَ أُمِرُوا بِالصَّوْمِ فِي أَثْنَاءِ الْيَوْمِ وَلَمْ يُؤْمَرُوا بِالْقَضَاءِ عَلَى الصَّحِيحِ وَحَدِيثُ الْقَضَاءِ ضَعِيفٌ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.383 kali, 1 untuk hari ini)