KIBLAT.NET, Depok – Dalam acara Muktamar dan Deklarasi Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara, yang digelar di Depok pada Sabtu-Ahad (29-30/11), hadir salah seorang ulama perwakilan dari Myanmar, beliau adalah Syaikh Husain Ya’qub.

Kepada Kiblat.net, tokoh yang tergabung dalam perhimpunan ulama muda di Yangoon, Myanmar ini menuturkan kondisi umat Islam di negaranya.

Menurutnya, kondisi umat Islam di Myanmar sangat memprihatinkan, terutama umat Islam etnis Rohingya di Arakan (Rakhine). Selain tidak diberikan hak-haknya, mereka juga diusir dari negaranya sendiri oleh pemerintah Myanmar, yang tak ingin ada umat Islam dan masjid disana.

Selama ini, umat Islam sangat ingin hidup damai dengan orang Budha di Myanmar. Namun usaha mereka tidak pernah mendapatkan tanggapan dari pemerintah, dan sebaliknya mereka justru mendapatkan perlakuan yang kejam.

Berikut kutipan wawancara Syaikh Husain Ya’qub yang dilakukan disela-sela acara Muktamar Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara.

Syaikh Husein Ya'qub

Bagaimana kondisi umat Islam di Myanmar, khususnya di Arakan saat ini?

Husain Ya’qub : Kondisi umat Islam di Myanmar secara umum dan Arakan secara khusus sangat buruk. Pemerintah tidak mengakui etnis Rohingya sebagai penduduk asli Myanmar, tapi mereka dianggap pendatang dari Bangladesh, sehingga mereka wajib dinamai Benggali.

Kedua, pemerintah Myanmar tidak memberikan hak-hak mereka dalam berbagai bidang kehidupan baik bidang pendidikan, ekonomi, politik, diseluruh bidang, dan mereka tidak mendapatkan hak-haknya. Sebagaimana yang kalian ketahui, pemerintah Myanmar berbuat sangat buruk kepada kaum muslimin Myanmar.

Kondisi saat ini adalah kondisi yang sangat memprihatinkan bagi muslim Myanmar. Karena rezim militer mereka melakukan kekejaman dengan cara-cara militer. Ketika datang demokrasi, maka terbukalah pintu lebar dalam segala bidang, pendidikan, ekonomi, dan politik. Sehingga, orang-orang di pemerintahan dan orang Budha takut jika kaum muslimin dapat hidup secara merdeka. Karenanya, mereka ingin mengeluarkan kaum mulimin dari negeri mereka. Inilah permasalahannya.

Apakah kekejaman itu hanya terjadi di Arakan?

Husain Ya’qub : Tidak hanya di Arakan, tapi seluruhnya. Bukan hanya muslim Arakan saja. Mereka melakukan perlakuan yang buruk kepada seluruh umat Islam. Tindakan buruk itu dimulai dari Arakan, kemudian melebar ke daerah-daerah lainnya. Mereka merusak masjid-masjid. Mereka ingin menghilangkan masjid-masjid, mereka ingin menghilangkan orang Islam.

Selama ini usaha apa saja yang telah dilakukan ulama di Myanmar?

Husain Ya’qub : Di sana ada lima perkumpulan ulama. Kaum muslimin sebenarnya sangat ingin hidup bersama dengan orang-orang Budha secara damai. Kemudian mereka mengirimkan surat kepada perdana menteri dan pemerintah, namun tidak ada tanggapan. Usaha mereka sia-sia saja karena pemerintah diam, tidak pernah memberikan tanggapan.

Saat memberikan sambutan sebagai perwakilan ulama Myanmar tadi Anda tampak menangis. Kenapa?

Husain Ya’qub : Saya sangat terharu melihat para ulama dan para dai. Dalam menghadapai masalah di negara kami, kami tidak dapat berdiri sendiri. Ketika datang ke negeri muslim saya mendapatkan kekuatan pada diri saya, dan ketika saya melihat kaum muslimin berkumpul maka saya tak kuasa menahan air mata.

Saya mengharap bantuan dan pertolongan dari para ulama dan dai untuk menyelesaikan permasalahan kaum muslimin di Myanmar. Kaum muslimin itu lemah ketika berdiri sendiri dan kuat ketika bersama. Karenanya ketika melihat para ulama berkumpul disini saya meneteskan air mata.

Apa harapan Anda kepada seluruh umat Islam, khususnya yang ada di Indonesia?

Husain Ya’qub : Saya sangat berharap kepada negeri-negeri kaum muslimin, khususnya Indonesia. Karena mereka memiliki posisi yang sangat penting secara geografis, dengan jumlah yang banyak. Mereka juga memiliki berbagai macam sarana, dan tidak ada jalan lain selain menggunakan sarana-sarana tersebut untuk berdakwah kepada seluruh kaum muslimin dan kepada minoritas di negara-negara lain.

Kami juga berharap kepada negeri-negeri kaum muslimin untuk memperhatikan kondisi kaum muslim minoritas, dan memberikan pertolongan kepada mereka terkait apa-apa yang mereka butuhkan, baik dalam masalah keilmuan, pengetahuan, dan sebagainya.

Reporter : Imam S.

Editor: Fajar Shadiq

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.066 kali, 1 untuk hari ini)