rimanews.com

Kalau dalam masalah yang berkaitan dengan terorisme dinilai pendananya adalah Amerika dan “prooyek” narkoba, ternyata selama ini dan sampai sekarang Pemda DKI Jakarta masih ngotot bercokol dalam pabrik bir, minuman beralkohol. Padahal Majelis Ulama telah menegaskan, minuman beralkohol itu haram.

Bila kita tengok MUI dalam fatwanya, KEPUTUSAN FATWA MUI NO 4/2003 TENTANG PEDOMAN FATWA PRODUK HALAL menegaskan:

Alkohol dan Turunannya

1. Khamar adalah setiap yang memabukkan, baik minuman maupun yang lainnya.  Hukumnya haram.

2. Minuman Yang termasuk dalam Kategori khamar adalah minuman yang mengandung ethanol (C2H5OH) minimal 1 %.

3. Minuman yang termasuk kategori khamar adalah najis.

4. Minuman yang mengandung ethanol dibawah 1 % sebagai hasil fermentasi yang direkayasa adalah haram atas dasar preventif, tapi tidak najis.

(https://www.nahimunkar.org/pks-dan-masalah-perda-miras/)

Pemda DKI Jakarta selama ini bertahan menanam saham di pabrik bir. Setiap kali diingatkan oleh para ulama pun tak digubris. Tetapi kalau oknum-oknumnya mau kampanye agar dipilih oleh masyarakat untuk jadi kepala daerah, biasanya munduk-munduk ke ulama bahkan majlis ta’lim tingkat ecek-ecek pun disambangi. Malahan pakai setiap jum’at mengedarkan bulletin Jum’at ke masjid-masjid segala. Dengan nasihat yang seakan-akan begitu benarnya, begitu shalehnya. Namun ketika sudah duduk memegang kendali, justru menanam saham di pabrik minuman haram. Itu artinya ikut main dalam mendatangkan murka Allah Ta’ala. Karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang dalam hadits ditegaskan:

 (2897) 2899- حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، حَدَّثَنَا حَيْوَةُ ، أَخْبَرَنِي مَالِكُ بْنُ خَيْرٍ الزَّبَادِيُّ (1) ، أَنَّ مَالِكَ بْنَ سَعْدٍ التُّجِيبِيَّ ، حَدَّثَهُ ، أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ ، يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : أَتَانِي جِبْرِيلُ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَعَنَ الْخَمْرَ ، وَعَاصِرَهَا ، وَمُعْتَصِرَهَا ، وَشَارِبَهَا ، وَحَامِلَهَا ، وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ ، وَبَائِعَهَا ، وَمُبْتَاعَهَا ، وَسَاقِيَهَا ، وَمُسْتَقِيَهَا.) مسند أحمد – (ج 1 / ص 316)(

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Jibril mendatangiku dan berkata, ‘Ya Muhammad, sesungguhnya Allah SWT melaknat khamr (minuman keras), orang yang memerasnya, yang meminta peras, peminumnya, pembawanya, orang yang menerimanya, penjualnya, pembelinya, yang memberi minum dan yang diberi minum’,” (Shahih lighairihi, HR Ahmad [I/316] dan Ibnu Hibban [5356]).

Seandainya mereka ingat ketika mau mencalonkan diri itu sebegitu “shalehnya’ dalam penampilan, maka hal-hal yang haram tentu tidak akan dijadikan proyek usaha. Bahkan mesti mencegahnya. Namun sebegitu cepatnya mereka lupa.

Itulah di antara mental yang sangat memalukan dalam kehidupan masyarakat ini terutama di kalangan elitnya, yang haram-haram serta diketahui umum pun dilahap dan dipertahankan. Lebih ngeri lagi, di antara yang disebut ulama atau kiyai juga ada yang dikenal doyan untuk bermudahanah (berminyak air) dengan elit yang memegang kendali. Maka terjadilah apa yang tidak diinginkan masyarakat untuk terjadi. Akibatnya, ketika di antara para ulama (yang masih istiqamah) mengingatkan agar tidak melahap yang haram-haram, dan jangan menanam saham dalam proyek haram karena berarti sama dengan merusak masyarakat; mereka cuek bebek. Contohnya berita ini.

***

Ulama Peringatkan agar Pemerintah Tak Pelihara Pabrik Bir

Hidayatullah.com—Berita pembatalan penjualan saham PT Delta Djakarta, rupanya ikut mengusik berbagai pihak.

Salah satu pengurus Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Samson Rahman, Lc, MA, mengatakan, sebaiknya pihak Pemerintah DKI Jakarta tidak memelihara unit usaha yang berdampak tidak membawa berkah.

Menurut Rahman, jika masih ada peluang membuka usaha yang halal, sebaiknya meninggalkan yang haram.

Pernyataannya ini disampaikan saat menanggapi pemberitaan tentang PT Delta Djakarta, salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI yang bergerak di bidang perdagangan dan industri yang memproduksi minuman beralkohol dan sebelumnya dikabarkan akan menjual sahamnya.

“Dengan alasan apapun, sebaiknya pemerintah tidak memiliki usaha di mana dari sifat dan materinya kurang baik,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Jumat, (14/10/2011).

Bagaimanapun, kepemilikan badan usaha yang memproduksi bir (minuman beralkohol) itu selain kurang baik juga hanya akan melahirkan dampak yang kurang baik, karena tidak diridhoi.

Ketika ditanyakan, bagaimana jika hasil penjualan itu dimanfaatkan untuk kemaslahatan banyak orang? Rahman menjawab, “bagaimanapun suatu keburukan hanya akan melahirkan dan beranak-pinak pada keburukan. Tidak ada ceritanya keburukan bisa menghasilkan kebaikan.”

Karenanya, ia berharap pemerintah tidak kehilangan akal dengan cara memiliki atau memelihara unit usaha yang berbau haram dan tak mendatangkan maslahat.

Sebelum ini, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Cholil Nafis mengingatkan pemerintah kota DKI untuk menjual saham pabrik pembuatan bir yang dimilikinya. Menurutnya, jika pemerintah DKI masih memiliki saham, berarti pemerintah propinsi ini bisa dianggap sebagai promotor alkohol, yang telah diharamkan dan dilarang menurut syariah.

Selanjutnya, ia meminta pemerintah DKI bisa mencari pemasukan dana dengan cara yang baik.

“Sudah jelas, alkohol (bir) tidak baik untuk dikonsumsi dan pemerintah kota tentu tidak perlu memainkan peran dalam mendidik masyarakat dengan mendukung pembuatan bir,” kata Cholil Nafir dikuti The Jakarta Post pada hari Rabu.

Dia mengatakan bahwa uang dari penjualan alkohol jelas tidak akan membawa manfaat bagi warga Jakarta. “Itu lebih baik jika pemerintah kota berinvestasi dalam bisnis yang lebih mulia,” katanya.

Pemerintah DKI Jakarta pada hari Selasa mengumumkan bahwa mereka telah memutuskan untuk tidak menjual sahamnya di PT Delta Djakarta pembuatan bir (Delta), meskipun rencana awal untuk melakukannya.

Saham Delta

Seperti diketahui, di tengah ketatnya peraturan pemerintah dalam industri minuman beralkohol mengakibatkan hanya beberapa perusahaan lokal yang mengantongi izin memproduksi minuman beralkohol. Di antaranya adalah PT Multi Bintang Indonesia Tbk dan PT Delta Djakarta. Sementara Grup Orang Tua dikenal sebagai produsen minuman anggur dan spirit.

Delta adalah penyalur dan distributor bir merk-merk terkenal seperti; Anker Bir, Carlsberg dan San Miguel. Sejak didirikan pada tahun 1932 oleh perusahaan Jerman Archipel Brouwerij NV, kepemilikan Delta telah berubah kali banyak tangan.

Selama Perang Dunia II, kendali perusahaan diserahkan kepada sebuah perusahaan Belanda sebelum dilewatkan ke sebuah perusahaan Jepang pada tahun 1942. Beberapa tahun kemudian, Belanda kembali menguasai perusahaan.

Pada tahun 1970, pemerintah DKI Jakarta mengakuisisi sejumlah saham di perusahaan dan mengubah nama perusahaan menjadi PT Delta Djakarta selama masa jabatan Gubernur Jakarta paling kontroversial, Ali Sadikin.*

Rep: Panji Islam

Red: Cholis Akbar/ Jum’at, 14 Oktober 2011- Hidayatullah.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 800 kali, 1 untuk hari ini)