Ulama resmi Iran mengaku Sunni tapi melakukan pembenaran terhadap mut’ah

Grand Imam Sunni Iran Imam Maulana Maulawi Madani, menyambangi kantor MUI (Majelis Ulama Indonesia) pusat di Jl. Proklamasi Jakarta, Senin (20/2). Di antara intelektual yang hadir, Ustad Farid menganggap Imam tersebut belum bersikap objektif dalam pemaparannya terhadap kondisi masyarakat Sunni di Iran, dikarenakan Imam tersebut adalah penasihat Kepresidenan di Iran.

“Kalau inikan ulama plat merah, makanya tidak objektif. Saya melihat tadi, ulama mengaku ahlus sunnah tetapi melakukan pembenaran terhadap mut’ah, memaklumi versi Syi’ah. Dia memberikan jawaban ganda,” komentarnya.

Perlu diketahui, nikah mut’ah atau kawin kontrak telah diharamkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari qiyamat. Dalam hadits shahih ditegaskan:

و حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَعْيَنَ حَدَّثَنَا مَعْقِلٌ عَنْ ابْنِ أَبِي عَبْلَةَ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ عَنْ أَبِيهِ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُتْعَةِ وَقَالَ أَلَا إِنَّهَا حَرَامٌ مِنْ يَوْمِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَانَ أَعْطَى شَيْئًا فَلَا يَأْخُذْهُ

Dan telah menceritakan kepadaku Salamah bin Syabib telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin A’yan telah menceritakan kepada kami Ma’qil dari Ibnu Abi Ablah dari Umar bin Abdul Aziz dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ar Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang melakukan nikah mut’ah seraya bersabda: \”Ketahuilah, bahwa (nikah mut’ah) adalah haram mulai hari ini sampai hari Kiamat, siapa yang telah memberi sesuatu kepada perempuan yang dinikahinya secara mut’ah, janganlah mengambilnya kembali.\” (HR Muslim nomor 2509).

حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ أَنَّهُ سَمِعَ الزُّهْرِيَّ يَقُولُ أَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ وَأَخُوهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِمَا أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

قَالَ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُتْعَةِ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ

Telah menceritakan kepada kami Malik bin Isma’il Telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyainah bahwa ia mendengar Az Zuhri berkata; Telah mengabarkan kepadaku Al Hasan bin Muhammad bin Ali dan saudaranya Abdullah bin Muhammad dari bapak keduanya bahwasanya; Ali radliallahu ‘anhu berkata kepada Ibnu Abbas, \”Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang nikat Mut’ah dan memakan daging himar yang jinak pada zaman Khaibar.\” (HR Al-Bukhari nomor 4723 kitab nikah, HR Muslim, nomor 3581).

Kepada nikah mut’ah yang jelas telah diharamkan Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari qiyamat saja ulama yang mengaku sunni dari Iran itu berani melakukan pembenaran, memaklumi versi syiah. Apalagi terhadap hal lain yang tidak langsung berkaitan dengan sabda Rasul, seperti kekejaman syiah Iran terhadap Ummat Islam Ahlussunnah di Iran yang ulamanya banyak yang dibunuhi, masjidnya dirobohkan, madrasah-madrasah ditutup, dan di Teheran ibukota Iran tidak boleh ada masjid sunni (Ahlus Sunnah); untuk menutupinya dan mengatakannya baik-baik saja, secara logika lebih berani. Makanya perlu dikonfirmasi kepada yang ulama sunni betulan. Dan MUI tentunya tidak gampang percaya begitu saja, walaupun sama-sama ulama “plat merah”? Hus! MUI itu lembaga swasta, kata mendiang Gus Dur! Jadi bukan murni  plat merah.

Lain kali, mungkin sebaiknya MUI baru mau menerima kalau ulama dari iran itu ketika mengaku sunni jangan hanya yang plat merah tapi juga yang sunni betulan, dibarengkan. Agar  penjelasannya dapat diserap secara baik dan dipertimbangkan mana yang obyektif. Kalau seperti ini, hanya menyajikian kepada para tokoh Islam dan intelektual Indonesia berupa sumber yang sunni pro syi’I dari Iran, akan mengundang tanda tanya, apalagi di MUI ada oknum-oknum seperti Umar Shihab dan  Muhyidin Junaidi yang suaranya pro syi’ah, bahkan kerjasama dengan lembaga syi’ah di Karbala Irak, dan dibanggakan pula. (lihat nahimunkar.com, 4 January 2012 ,  Syi’ah Memusuhi Islam Bersekongkol dengan Para Pengkhianat, https://www.nahimunkar.org/10522/syiah-memusuhi-islam-bersekongkol-dengan-para-pengkhianat/ ):

Sebagian wawancara Republika dengan orang MUI sebagai berikut:

MUI telah mencoba melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan organisasi-organisasi Islam di luar negeri.

Beberapa waktu lalu, kami diundang ke Irak dan telah menandatangani kerja sama dengan Pusat Kajian Alquran di Irak yang berpusat di Karbala. Walaupun berbeda mazhab, kita ingin sama-sama sharing untuk meningkatkan metodologi hafalan Alquran. Kami bertemu dengan tokoh di Irak, baik Suni maupun Syiah. Bahkan, mereka sangat mengapresiasi kunjungan kita ke Irak di tengah-tengah situasi kemanan yang menurut berita internasional kurang kondusif.

Kita ingin menjalin kerja sama dengan umat Islam walaupun berbeda aliran/mazhab. Kita sadar bahwa musuh-musuh Islam selalu berupaya melemahkan Islam dengan mengadu domba antara Syiah dan Sunni. Kita tak mau itu terjadi. Syiah itu tak seperti Ahmadiyah karena Syiah adalah mazhab yang diakui dunia Islam.

(Pada bagian lain dikemukakan):

MUI juga akan melakukan riset bersama di Iran tentang peradaban Islam. Mereka bisa melakukan riset mengenai peran MUI dalam merekatkan ukhuwah Islamiyah dan ormas-ormas Islam di Indonesia. (Republika, KH Muhyiddin Junaidi MA, Umat Harus Waspadai Konspirasi Musuh, Minggu, 13 Februari 2011 pukul 11:47:00).

Apakah negeri syiah Iran yang penuh taqiyah (bohong dan dusta) itu sampai menulari ulamanya yang mengaku sunni dan berkunjung ke MUI untuk membeberkan penjelasannya yang berstandar ganda, inilah beritanya.

***

Ulama “plat merah” Sunni Iran kunjungi MUI

Bilal

Senin, 20 Februari 2012 22:10:33

JAKARTA (Arrahmah.com) – Grand Imam Sunni Iran Imam Maulana Maulawi Madani, menyambangi kantor MUI pusat di Jl. Proklamasi Jakarta, Senin (20/2). Dalam kunjungannya itu, Imam Maulawi menjadi duta pemerintah Iran untuk menjelaskan kondisi umat Islam di Iran.

Dengan menggunakan bahasa Arab, Imam Maulawi menjelaskan kondisi umat Islam di bawah Rezim Ahmadinejad, yang menurutnya baik, sekaligus ia membantah kabar bahwa umat Islam Ahlus sunnah ditindas di Iran.

Pernyataan tersebut, tak pelak mengundang komentar dari beberapa ulama dan asatidz di MUI.  Salah satu asatidz yang mengunjugi acara tersebut dan sempat mengajukan sejumlah pertanyaan, yaitu Ustadz Farid Ahmad Okbah memberikan tanggapannya kepada arrahmah.com.

Menurut ustadz yang sekaligus peneliti Syi’ah ini, dalam merespon keterangan Grand Imam Sunni Iran tersebut, perlu dikonfirmasi kembali, karena Imam tersebut merupakan utusan resmi pemerintah Iran.

“Kita perlu konfirmasi ulang tentang kondisi ahlus sunnah di Iran, dari sumber lain supaya objektif,” kata Ustadz Farid kepada arrahmah.com di kantor MUI Pusat Jl. Proklamasi, Jakarta, Senin(20/2).

Ustadz Farid menjelaskan, bahwa apa yang terjadi di Iran terhadap kondisi  ulama-ulama Ahlu sunnah, berbeda sekali dengan apa yang dipaparkan oleh Imam Sunni utusan pemerintah Iran. Dalam data-data yang beliau (Farid) dapat, mereka mengalami kondisi yang  menyulitkan. Seperti adanya penyiksaan, pemenjaraan, dan penindasan.

“Kita mempunyai data-data dari ulama-ulama sunni Iran non pemerintah yang menunjukkan data-data yang berbeda dengan yang disampaikankan tadi,” ujar pengasuh Islamic Center di Pondok Gede ini.

Bahkan beliau, sempat menunjukkan kepada Imam Maulawi buku seorang ulama Syi’ah Iran yang menjadi sunni dan mengalami penindasan di sana.

“Salah satu ulama Syi’ah yang masuk menjadi sunni dan  mendapat tekanan, yaitu Ayatullah Udzma Burqawi setingkat Khameini,” beber Ustadz Farid sembari menunjukkan buku.

Dalam acara tersebut, Ustadz Farid pun sempat memberikan pandangan terhadap upaya taqrib(penyatuan) antara Sunni dan Syi’ah. Menurutnya, boleh saja mereka berniat melakukan persatuan. Akan tetapi harus dengan dua syarat yang harus dipenuhi oleh Syi’ah.

Syarat pertama, Syi’ah tidak boleh melakukan pencelaan terhadap para Sahabat, yang biasa mereka lakukan selama ini, tak terkecuali di Indonesia.

“Tadi saya kasih bukti bahwa Syi’ah di sini melakukan pencelaan terhadap Sahabat dalam acara resmi mereka,” terangnya.

Syarat kedua, Syi’ah tidak boleh melakukan Syi’ahnisasi terhadap ahlus sunah, dengan mengajak masyarakat Sunni masuk ke dalam syi’ah.

“Kalau mereka ingin bersatu boleh saja. Tetapi jangan mengajak ahlus sunnah kepada syi’ah, atas nama ahlul bait mereka membawa ahlus sunnah kepada syi’ah,” lontar ustadz farid.

Lebih dari itu, beliau meminta Syi’ah dapat bersikap jujur dalam membangun upaya penyatuan antara sunni dan syi’ah. Jangan selalu berbeda antara perbuatan dengan apa yang dikatakan.

“Jadi kita fair-fair saja lah, kalau mereka ingi menjadi syi’ah ya sudah, jangan menyakiti kita, jangan mengajak-ajak kita menjadi syi’ah, kalau mereka ingin menjadi syiah, ya urusan merekalah nanti dengan Allah,” tutur beliau.

Adapun menanggapi sosok imam besar Sunni Iran tersebut, Ustad Farid menganggap Imam tersebut belum bersikap objektif dalam pemaparannya terhadap kondisi masyarakat Sunni di Iran, dikarenakan Imam tersebut adalah penasihat Kepresidenan di Iran.

“Kalau inikan ulama plat merah, makanya tidak objektif. Saya melihat tadi, ulama mengaku ahlus sunnah tetapi melakukan pembenaran terhadap mut’ah, memaklumi versi Syi’ah. Dia memberikan jawaban ganda,” pungkasnya. (bilal/arrahmah.com)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 865 kali, 1 untuk hari ini)