Ancaman Keras bagi Pemimpin Zalim atau Khianat

Akhlak dan moral bangsa Indonesia tampaknya sudah sangat gawat, wajib diperbaiki. Bukan hanya di masyarakat umum, namun sudah memuncak ke tingkat para pemimpin negeri.

Pengkhianatan tampaknya sudah terasa ke relung-relung hati, hingga perlu dibahas oleh ulama se-Indonesia secara nasional. Karena ancaman dari Allah Ta’ala sangat dahsyat.

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya. [Al Isra”,16-17]

Inilah beritanya.

***

Seluruh Ulama Indonesia Akan Kumpul Bahas Tagih Janji Para Pemimpin

 

JAKARTA (voa-islam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan menggelar Ijtima’ (pertemuan) Ulama se-Indonesia pada Juni mendatang. Salah satu topik yang akan dibahas dalam pertemuan yang digelar di Tegal, Jawa Tengah, itu adalah masalah kepemimpinan bangsa.

Menurut Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh, saat ini telah disepakati tema sentral yang akan dibahas, yaitu “Bagaimana kalau ulil amri tidak menepati janji”. Tema itu disepakati karena janji merupakan amanah.

“Berkenaan dengan tema utama ini, akan dibahas pola relasi antara pemimpin dan rakyat (ra’i dan ra’iyyah) yang dipimpin,” kata Asrorun Niam sebagaimana dikutip dari laman resmi MUI.

Menurut Asrorun, tema itu sangat penting untuk dibahas, apalagi dikaitkan dengan proses Pemilihan Umum, di mana para calon pemimpin banyak memberikan janji-janji kepada rakyat saat kampanye.

…bagaimana jika calon yang terlipih menjadi pemimpin tidak menepati janji-janji selama kampanye. Apakah pemimpin yang demikian bisa dianggap berkhianat atas janji yang telah diberikan atau tidak

Dia menambahkan, isu ini nantinya akan dilihat dari sisi hukum positif maupun kaidah syariah. Apakah janji yang dikemukakan itu mengikat ataukah tidak dalam konteks kepemimpinan. Sebab, saat mengutarakan janji-janji itu, posisi mereka masih sebagai calon, belum menjadi pemimpin yang definitif.

Pertemuan itu juga akan membahas bagaimana jika calon yang terlipih menjadi pemimpin tidak menepati janji-janji selama kampanye. Apakah pemimpin yang demikian bisa dianggap berkhianat atas janji yang telah diberikan atau tidak.

“Apakah ia, sebagai pemimpin dapat dianggap ingkar janji, atau bagaimana. Nah, itu yang akan kita bahas secara komprehensif dalam Forum Ijtima’ Ulama,” jelas Asrorun. [sharia/voa-islam.com] Sabtu, 21 Rajab 1436 H / 9 Mei 2015 22:00 wib

***

Ancaman Keras bagi Pemimpin Zalim atau Khianat

Posted on Nov 24th, 2014

by nahimunkar.com

 مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

 “Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak meliputinya dengan nasihat, kecuali tidak mendapat bau surga.” (HR BUKHARI – 6617)

وَأَخْرَجَ مُسْلِمٌ { مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِي أَمْرَ الْمُسْلِمِينَ لَا يَجْتَهِدُ مَعَهُمْ وَلَا يَنْصَحُ لَهُمْ إلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمْ الْجَنَّةَ } وَرَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَزَادَ : كَنُصْحِهِ لِنَفْسِهِ .

Dan Imam Muslim telah mengeluarkan hadits: Tidaklah seorang amir yang memimpin urusan Muslimin yang ia tidak bersungguh-sungguh beserta mereka, dan tidak menasihati kepada mereka kecuali ia tidak masuk surga bersama mereka. (HR Muslim). Dan riwayat Thabrani menambah;  seperti nasehatnya kepada dirinya sendiri.

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang pemimpin memimpin masyarakat muslimin, lantas dia meninggal dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Al-Bukhari, No. 6618).

شرح المشكاة للطيبي الكاشف عن حقائق السنن (8/ 2570)

فإذا خان فيما ائتمن عليه فلم ينصح فيما قلده إما بتضييع حقهم وما يلزمه من أمور دينهم ودنياهم أو غير ذلك، فقد غشهم

Maka apabila (pemimpin) berkhianat terhadap apa yang dipercayakan kepadanya lalu dia tidak menasihati (kebaikan) yang harus ditiru, baik itu dengan menyia-nyiakan hak mereka (rakyat) dan (menyia-nyiakan) kewajiban berupa urusan-urusan agama mereka dan dunianya atau lainnya, maka sungguh dia telah menipu mereka.

فيض الباري على صحيح البخاري (6/ 480)

وهذا حديث في الأئمة يحدِّرُهم أنهم لا يَشمُّون رائحةَ الجنَّة إِن ظَلَمُوا رعيتَهم، فافهم.

Hadits ini memperingatkan para pemimpin bahwa mereka tidak mencium harumnya bau surga jika mereka menzalimi rakyatnya, maka fahamilah! (Faidhul Bari aas Shahih Bukhari 6/480).

(nahimunkar.com)

***

Bahasa Jawa

 مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

Ora ono kawulo sing diparingi amanat mimpin wong-wong sing dipimpin terus deweke ora ngliputi kanti nasehat kacobo deweke ora oleh gandane suargo. (HR BUKHARI – 6617)

وَأَخْرَجَ مُسْلِمٌ { مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِي أَمْرَ الْمُسْلِمِينَ لَا يَجْتَهِدُ مَعَهُمْ وَلَا يَنْصَحُ لَهُمْ إلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمْ الْجَنَّةَ } وَرَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَزَادَ : كَنُصْحِهِ لِنَفْسِهِ .

Lan Imam Muslim wis ngriwayatake hadits: Ora ono amir sing mimpin urusane Muslimin terus deweke ora tenanan karo wong-wong Muslim mau lan ora nasehati wong-wong mau kacobo deweke ora mlebu suargo karo wong-wong Muslimin mau. (HR Muslim). Imam Thabrani ngriwayatake lan nambahi: koyo dene nasehate marang awake dewe.

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang pemimpin memimpin masyarakat muslimin, lantas dia meninggal dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Al-Bukhari, No. 6618).

Ora ana sangka pemimpin sing mimpin masyarakat muslimin, banjur dheweke mati ing jero kahanan ngapusi dekne kabeh, kajaba Allah mengharamkan swarga kanggo deweke. (HR. Al-Bukhari, No. 6618).

فإذا خان فيما ائتمن عليه فلم ينصح فيما قلده إما بتضييع حقهم وما يلزمه من أمور دينهم ودنياهم أو غير ذلك، فقد غشهم

Maka apabila (pemimpin) berkhianat terhadap apa yang dipercayakan kepadanya lalu dia tidak menasihati (kebaikan) yang harus ditiru, baik itu dengan menyia-nyiakan hak mereka (rakyat) dan (menyia-nyiakan) kewajiban berupa urusan-urusan agama mereka dan dunianya atau lainnya, maka sungguh dia telah menipu mereka.

فيض الباري على صحيح البخاري (6/ 480)

وهذا حديث في الأئمة يحدِّرُهم أنهم لا يَشمُّون رائحةَ الجنَّة إِن ظَلَمُوا رعيتَهم، فافهم.

Hadits ini memperingatkan para pemimpin bahwa mereka tidak mencium harumnya bau surga jika mereka menzalimi rakytanya, maka fahamilah! (Faidhul Bari aas Shahih Bukhari 6/480).

(nahimunkar.com)