• Benar-benar menirukan qiyas ala Iblis.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ [الأعراف/12]

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab iblis, “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS Al-A’raf: 12)

تفسير ابن كثير – (ج 3 / ص 393)

عن الحسن في قوله: { خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ } قال: قاس إبليس، وهو أول من قاس. إسناده صحيح.

وقال: حدثني عمرو بن مالك، حدثنى يحيى بن سليم الطائفي  عن هشام، عن ابن سيرين قال: أول من قاس إبليس، وما عُبِدت الشمس والقمر إلا بالمقاييس  إسناد صحيح أيضا. تفسير الطبري (12/328).

Dari Hasan al_Bashri mengenai firman-Nya: { خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ } Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah, dia berkata: Iblis berqiyas (beranalog), dan dia adalah orang pertama yang berqiyas. (riwayat ini sanadnya shahih).

Dari Ibnu Sirin, ia berkata: orang yang pertama berqiyas adalah Iblis. Dan tidaklah matahari dan bulan itu disembah kecuali karena qiyas-qiyas (analog-analog/ perbandingan-perbandingan). (sanadnya shahih juga/ Tafsir At-Thabari 12/ 328 dikutip Ibnu Katsir dalam menafsiri Qs Al-A’raf ayat 12).

Atas komando Iblis itulah para wadyabala Iblis pun main qiyas sebatil-batilnya. Contohnya adalah lontaran dedengkot JIL (Jaringan Islam Liberal) Ulil Abshar Abdalla yang mengqiyaskan dibantainya Muslimin Rohingya dengan kasus orang kafir Ahmadiyah.

Benar-benar mengherankan, makanya ada yang menyebutnya bebal dalam tulisan berikut ini.

***

Situs hidayatullah.com menulis:… dalam akun Twitter tertanggal 28 Juli 2012,  Ulil  sempat menulis,  bahwa kalau umat Islam masih menyetujui aniaya Ahmadiyah di Indonesia, maka umat Islam tak layak protes saat umat Muslim Rohingya dianiaya di Myanmar.

“Tetapi kalau anda setuju aniaya atas Ahmadiyah di Indonesia, anda tak layak protes saat umat Muslim Rohingya dianiaya di Myanmar,” tulisnya.

“Ada yg bilang, aniaya atas Muslim Rohingnya di Myanmar tak bisa disamakan dg aniaya atas Ahmadiyah di Indonesia. Di mana tak samanya, Bung?,” demikian tulis Ulil.

Berbeda

Namun tokoh muda Muhammadiyah, Musthofa B Nahrawardaya kepada media ini mengatakan, menyamakan permasalahan Rohingya dan permasalahan Ahmadiyah di Indonesia adalah dua hal yang berbeda. Ahmadiyah adalah kenyakinan bukan Islam yang mengaku bagian dari Islam. Sedangkan Muslim Rohingyah memang saudara seakidah umat Islam.

“Kan ada haditsnya yang diriwayatkan oleh Thabrani, siapa yang tidak perduli kepada permasalahan sesama Muslim, maka ia tidak termasuk golonganku kata Rasulullah,” jelas Musthofa kepada hidayatullah.com, Senin (30/07/2012).

Musthofa juga menjelaskan, kalaupun masalah Rohingyah dan Ahmadiyah ini mau dimasukan ke masalah kemanusiaan, maka seharusnya Rohingya itu lebih diprioritaskan.

“Lihat saja berapa jumlah jatuhnya korban di Rohingyah dibandingkan Ahmadiyah? lihat bagaimana mereka dibunuh, dibakar, diperkosa. Jumlah korban disana sudah ratusan,” tambah Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) ini.

Ahmadiyah, bagi Musthofa adalah kelompok yang justru melakukan penistaan agama terhadap Islam. Sedangkan  Rohingya adalah bagian dari umat Islam itu sendiri.

“Jadi wajar kalau di Indonesia ada perlawanan terhadap Ahmadiyah, kan kita cuma minta mereka (Ahmadiyah) diluruskan pemahaman mereka dan kembali ke aturan Islam yang benar kalau memang mau mengaku Islam,” jelasnya lagi.

Karenanya, menurut Musthofa, sikap Ulil  jelas menggambarkan sebuah ketidak-cerdasan intelektual dan tidak layak untuk didengarkan.* [baca juga: Tokoh Muda Muhammadiyah Tanggapi Kicauan Ulil Soal Rohingya]

Rep: Ainuddin Chalik

Red: Cholis Akbar/ hidayatullah.com, Ulil: Twit Itu Kritik untuk Teman-teman Muslim, Senin, 30 Juli 2012

***

Tokoh Muda Muhammadiyah Tanggapi Kicauan Ulil Soal Rohingya

Senin, 30 Juli 2012

Hidayatullah.com–Tokoh muda Muhammadiyah, Musthofa B Nahrawardaya ikut menanggapi pernyataan aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) tentang Rohingya yang ramai didiskusikan diTwitter. Sebelumnya,  Ulil  sempat menulis,  bahwa kalau umat Islam masih menyetujui aniaya Ahmadiyah di Indonesia, maka umat Islam tak layak protes saat umat Muslim Rohingya dianiaya di Myanmar.

Menurut Musthofa, permasalahan Rohingya dan permasalahan Ahmadiyah di Indonesia adalah dua hal yang berbeda. Ahmadiyah adalah kenyakinan bukan Islam yang mengaku bagian dari Islam. Sedangkan Muslim Rohingyah memang saudara seakidah umat Islam.

“Kan ada haditsnya yang diriwayatkan oleh Thabrani, siapa yang tidak perduli kepada permasalahan sesama Muslim, maka ia tidak termasuk golonganku kata Rasulullah,” jelas Musthofa kepada hidayatullah.com, Senin (30/07/2012)

Musthofa juga menjelaskan, kalaupun masalah Rohingyah dan Ahmadiyah ini mau dimasukan ke masalah kemanusiaan, maka seharusnya Rohingya itu lebih diprioritaskan.

“Lihat saja berapa jumlah jatuhnya korban di Rohingyah dibandingkan Ahmadiyah? lihat bagaimana mereka dibunuh, dibakar, diperkosa. Jumlah korban disana sudah ratusan,” tambah Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) ini.

Ahmadiyah, bagi Musthofa adalah kelompok yang justru melakukan penistaan agama terhadap Islam. Sedangkan  Rohingya adalah bagian dari umat Islam itu sendiri.

“Jadi wajar kalau di Indonesia ada perlawanan terhadap Ahmadiyah, kan kita cuma minta mereka (Ahmadiyah) diluruskan pemahaman mereka dan kembali ke aturan Islam yang benar kalau memang mau mengaku Islam,” jelasnya lagi.

Sikap Ulil, dinilai Musthofa  jelas menggambarkan sebuah ketidak-cerdasan intelektual dan tidak layak untuk didengarkan. Terlebih lagi, semua orang mafhum,  JIL, merupakan kelompok yang dikenal memaksakan diri untuk menafsikan Al-Qur’an berdasarkan kepentingan nafsu, ujarnya.

Seperti diketahui, dalam akun Twitter-nya tertanggal 28 Juli 2012, Ulil berkicau membahas sikap beberapa kalangan Muslim di Indonesia yang reaktif masalah perlakuan etnis Muslim Rohingya.

“Tetapi kalau anda setuju aniaya atas Ahmadiyah di Indonesia, anda tak layak protes saat umat Muslim Rohingya dianiaya di Myanmar,” tulisnya.

“Ada yg bilang, aniaya atas Muslim Rohingnya di Myanmar tak bisa disamakan dg aniaya atas Ahmadiyah di Indonesia. Di mana tak samanya, Bung?,” tulis Ulil. *

Rep: Thufail Al-Ghifari

Red: Cholis Akbar/ hidayatullah.com

***

Sesat Berargumen, Keliru Menilai Kasus Rohingya

Rabu, 01 Agustus 2012

Oleh: Rosdiansyah

ARGUMETASI merupakan khazanah dari siapa saja yang menggunakan akal pikiran untuk menilai kenyataan. Menyusun argumentasi yang kokoh tentu akan menghasilkan simpulan bagus, menambah khazanah pemikiran. Berargumentasi itu tidaklah sulit, hanya membutuhkan ketepatan dalam mencermati kenyataan, lalu mempraktekkan hukum-hukum berpikir logis. Salah-satu cara berpikir logis adalah dengan menggunakan hukum analogi, sederhananya mencari kesamaan-kesamaan dari dua hal berbeda, lalu disimpulkan.

Jika terjadi kesemrawutan dalam proses mempersamakan, maka tidak bisa digunakan hukum analogi. Artinya, kesimpulan dari proses berargumentasi jadi ngawur, tak beraturan serta salah-kaprah. Hal itu tampak dari siapapun yang berusaha ‘menganalogikan’ kasus Rohingya dan Ahmadiyah. Meskipun sebenarnya, dalam kasus Rohingya Myanmar, situasi dan kondisinya jelas berbeda dari kasus Ahmadiyah Indonesia. Sebagaimana komentar seporang tokoh liberal belum lama ini. [baca juga:Ulil: Twit Itu Kritik untuk Teman-teman Muslim].

Berikut ini beberapa perbedaan situasional yang bisa dikemukakan dalam tulisan ini.
Pertama,
perkara etnis Rohingya merupakan kasus etnis minoritas melawan pemerintah Myanmar secara langsung. Ini bukan kasus penistaan agama, melainkan kasus etnis minoritas yang disingkirkan negara. Cara junta militer Myanmar menyingkirkan etnis Rohingya sangat sistematis dan terstruktur. Sebelumnya, telah terjadi manipulasi sejarah etnis Rohingya selama beberapa dekade silam secara kontinyu oleh para sejarawan Burma di fora internasional dan di dalam negeri Myanmar. Sebut saja nama Khin Maung Saw, Maung Maung atau Aye Chan. Ketiganya sejarawan sesat Myanmar yang menuliskan karya-karyanya lalu dirujuk junta militer Myanmar nan bengis. Bahwa sejarah Burma (Myanmar) tidak mengenal etnis Rohingya. Selain itu, sejarah itu juga diajarkan dalam kurikulum pendidikan di Myanmar, bahwa etnis Rohingya bukanlah bagian dari bangsa Burma. Aung San Suu Kyi termasuk sosok yang terpengaruh paham sejarah menyesatkan produk junta militer Burma ini.
Namun demikian, manipulasi sejarah ini telah dipatahkan dengan baik oleh ahli sejarah sekaligus periset sosial Habib Siddiqui, Francis Buchanan-Hamilton, Jacques Leider, dan M Ali Chowdhury.

Menurut mereka, faktanya, etnis Rohingya itu sudah ada di wilayah Arakan, jauh sebelum terbentuknya pemerintahan junta militer Myanmar. Bahkan, Ashraf Alam secara tegas menyebutkan dalam sejumlah karyanya, etnis muslim Rohingya merupakan penopang utama kemaharajaan Mrauk-U di Arakan sebelum Inggris masuk ke Burma. Harus diakui, junta militer Myanmar tetap ngotot melakukan proses pengaburan fakta sejarah. Perilaku junta ini serupa dengan perilaku sejarawan Nugroho Notosusanto dan ahli hukum Muhammad Yamin di Indonesia, yang sangat mengagungkan zaman Majapahit dan Sriwijaya.

Keduakasus Rohingya di Burma lebih mirip dengan nasib etnis Bosnia-Herzegovina menghadapi Serbia. Ada upaya ethnic cleansing dari penguasa dan mayoritas etnis lain.

Oleh karena itu, tidaklah tepat jika digunakan argumen mempertahankan keyakinan layaknya dalam kasus Ahmadiyah, sebagai dasar untuk mensejajarkan kasus etnis Rohingya dan perkara Ahmadiyah di Indonesia.

Tidak ada kesejajaran alasan yang bisa mendorong penyamaan kasus etnis dan perkara keyakinan keagamaan. Apalagi, secara faktual penganut Ahmadiyah tidak direpresi atau disingkirkan dari bumi Indonesia oleh pemerintah. Kalaulah terjadi konflik antara penganut Ahmadiyah lawan pengikut Islam lainnya, maka konflik itu bersifat horizontal, bukan vertikal antara negara lawan kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Ketiga, kelompok yang mengklaim diri sebagai ‘liberal’ di Indonesia telah menyempitkan makna solidaritas kaum muslim pada Rohingya sekadar perkara membela keyakinan umat muslim di sana. Akibatnya kemudian, terjadi kesesatan berpikir yang disebut ‘cum hoc ergo propter hoc’, artinya pikiran kacau-balau kaum ‘liberal’ karena mencampuradukkan dua variabel berbeda. Variabel etnis tidak bisa dicampur-adukkan pada variabel keyakinan agama untuk dua kasus yang berbeda pula. Pencampur-adukkan dua variabel itu jelas tidak menghasilkan hukum berpikir benar, malah sebaliknya patut diduga adanya sentimen lain. Sedangkan logika tidak boleh berdasar sentimen karena bisa menghasilkan kesesatan pikir bernama ‘argumentum ad ignorantiam’, yakni malas mencari kebenaran faktual lama-lama jadi bebal.

Itulah tiga hal yang bisa diutarakan dalam tulisan ini guna menanggapi komentar dari siapapun yang mensejajarkan kasus etnis Rohingya dengan masalah Ahmadiyah di Indonesia.

Penulis adalah kolektor buku dan kitab, tinggal di Surabaya

Rep: Administrator

Red: Cholis Akbar/ hidayatullah.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.297 kali, 1 untuk hari ini)