Ulil Ngaku ke Jalur Menyempal dari Islam untuk Golek Duit

  • Apakah masih perlu disampaikan nasehat, peringatan, bahkan semacam ancaman?


Ilustrasi Nasib Tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla dan Zuhairi Misrawi jeblok hingga gagal melaju ke Senayan waktu lalu. Foto mafaza-online.

 

Di masa jaya-jayanya JIL (Jaringan Islam Liberal), dedengkot JIL ditanya kerabatnya, kenapa kamu pilih di jalur yang nyempal dari Islam?

Dijawab dengan singkat: yo sik to kang, tak golek duit disik. (ya biarin saja dulu to Mas, saya mau cari duit dulu). https://www.nahimunkar.org/jil-memang-belum-mati-tapi-sekarat/

Lha sudah seperti itu, kenapa masih saja ada yang memperingatkan. Apa tidak sebaiknya dibiarkan saja, dia dan gerombolannya yang sering begini begitu itu.

***

Apakah masih perlu disampaikan nasehat, peringatan, bahkan semacam ancaman?

Ketika gejalanya sudah seperti itu, apakah masih perlu disampaikan nasehat, peringatan, bahkan semacam ancaman menurut yang diajarkan Islam?

Ya tetap perlu.

Kenapa?

Karena dalam Al-Qur’an dituntunkan begitu. Ini ayatnya mengenai mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka.

{وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (164) فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ} [الأعراف: 164، 165]

164. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa

[Al A’raf164].

165. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik

[Al A’raf165]

***

Kasus Ulil bikin puisi paskah lalu dibaca santri berpeci NU dan santriwati berjilbab jadi heboh menjelang Ramadhan 1441H/ April 2020. https://www.nahimunkar.org/wong-nu-geger-santri-berkopiyah-nu-baca-puisi-jumat-agung-paskah-prof-rochmat-ini-menginjak-injak-islam-dan-nu/

Bagaimana ini?

 

Dalam hal haramnya mengikuti perayaan agama lain (selain Islam) itupun wajib senantiasa disampaikan peringatan. Karena memang diancam akan datangnya murka Allah. Sedang dalam Islam, hari raya Islam itu jelas hanya dua: Idul Fithri dan Idul Adha (Qurban).

Mari kita simak ringkasan tulisan tentang “Hukum Muslim Merayakan Tahun Baru Imlek” berikut ini.

Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk masuk ke dalam Islam secara kaaffah sebagaimana disebutkan dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).

Kata Mujahid, maksud ‘masuklah dalam Islam secara keseluruhan‘ berarti “Lakukanlah seluruh amalan dan berbagai bentuk kebaikan.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir). Artinya di sini, jika suatu kebaikan bukan dari ajaran Islam, maka seorang muslim tidak boleh bercapek-capek melakukan dan memeriahkannya. Karena kita diperintahkan dalam ayat untuk mengikuti seluruh ajaran Islam saja, bukan ajaran di luar Islam.

Dalam Islam, hari raya besar itu cuma dua, tidak ada yang lainnya, yaitu hari raya Idul Fithri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Islam pun telah dikatakan sempurna, sebagaimana dalam ayat,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3).

Karena ajaran Islam sudah sempurna, maka tidak perlu ada perayaan baru lagi.

Perayaan di luar dua perayaan di atas adalah perayaan Jahiliyah karena yang dimaksud ajaran jahiliyah adalah setiap ajaran yang menyelisihi ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sehingga merayakan perayaan selain perayaan Islam termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ثَلاَثَةٌ مُلْحِدٌ فِى الْحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ

Manusia yang dibenci oleh Allah ada tiga: (1) seseorang yang berbuat kerusakan di tanah haram, (2) melakukan ajaran Jahiliyah dalam Islam, dan (3) ingin menumpahkan darah orang lain tanpa jalan yang benar.” (HR. Bukhari no. 6882).

(Diringkas dari artikel Muhammad Abduh Tuasikal
berjudul Hukum Muslim Merayakan Tahun Baru Imlek )

Semoga dengan tulisan yang memberi peringatan ini menjadi nasihat agar mereka bertaqwa, dan berguna bagi kami sebagai bukti telah disampaikannya nasihat berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah mengenai hal itu.

 

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 725 kali, 1 untuk hari ini)