Umar bin Khatthab Memanggil Pendeta/ Pastur di Gereja Lalu Memandangnya dan Menangis

{هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ (1) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ (2) عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (4) تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ (5) [الغاشية: 1 – 5]

1. Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? [Al Ghashiyah:1]

2. Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, [Al Ghashiyah:2]

3. bekerja keras lagi kepayahan, [Al Ghashiyah:3]

4. memasuki api yang sangat panas (neraka), [Al Ghashiyah:4]

5. diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. [Al Ghashiyah:5]

 

Petikan dari Tafsir Ibnu Katsir:

… dari Amr ibnu Maimun, bahwa Nabi Saw. melewati seorang wanita yang sedang membaca firman-Nya: Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? (Al-Ghasyiyah: 1) Maka beliau bangkit dan mendengarkannya serta menjawab: Benar, telah datang kepadaku (beritanya).

Adapun firman Allah Swt.:

{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ}

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina. (Al-Ghasyiyah: 2)

Yang dimaksud dengan khusuk di sini adalah terhina, menurut Qatadah. Juga dikatakan oleh Ibnu Abbas, bahwa wajah-wajah tersebut tunduk terhina karena amal perbuatannya tidak bermanfaat bagi dirinya.

Firman Allah Swt.:

{عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ}

bekerja keras lagi kepayahan. (Al-Ghasyiyah: 3)

Yakni mereka telah banyak melakukan kerja keras yang memayahkan diri mereka, tetapi pada akhirnya di hari kiamat mereka dimasukkan ke dalam neraka yang amat panas.


{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ}

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina. (Al-Ghasyiyah: 2)

Yang dimaksud dengan khusuk di sini adalah terhina, menurut Qatadah. Juga dikatakan oleh Ibnu Abbas, bahwa wajah-wajah tersebut tunduk terhina karena amal perbuatannya tidak bermanfaat bagi dirinya.

Firman Allah Swt.:

{عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ}

bekerja keras lagi kepayahan. (Al-Ghasyiyah: 3)

Yakni mereka telah banyak melakukan kerja keras yang memayahkan diri mereka, tetapi pada akhirnya di hari kiamat mereka dimasukkan ke dalam neraka yang amat panas.

 


 

Ilustrasi. Rahib Coptic menuju ke gereja/ foto st-taklaorg

 

… Abu Imran Al-Juni mengatakan bahwa Umar ibnul Khattab r.a. melewati sebuah gereja yang dihuni oleh seorang rahib, maka Umar memanggilnya, “Hai rahib!” Lalu si rahib muncul; maka Umar memandangnya dan menangis. Kemudian ditanyakan kepada Umar, “Mengapa engkau menangis, hai Amirul Mu’minin?” Umar menjawab, bahwa ia teringat akan firman Allah Swt. yang mengatakan: 

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas. (Al-Ghasyiyah: 3-4) Itulah yang menyebabkan aku menangis.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: bekerja keras lagi kepayahan. (Al-Ghasyiyah: 3) Bahwa mereka adalah orang-orang Nasrani. Telah diriwayatkan dari Ikrimah dan As-Suddi, bahwa makna yang dimaksud ialah bekerja keras di dunia melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, dan kepayahan di dalam neraka karena azab dan siksaan yang membinasakan.

Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: memasuki api yang sangat panas (neraka). (Al-Ghasyiyah: 4) Artinya, yang panasnya tak terperikan.

{تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً}

diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. (Al-Ghasyiyah: 5)

yang panasnya tak terkira dan titik didihnya melebihi puncaknya sampai tingkatan yang tak terbatas; demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, dan As-Suddi./ ibnukatsironline.com

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 899 kali, 1 untuk hari ini)