Oleh Dr. Slamet Muliono[1]

Jasa dan kontribusi terbesar Umar bin Khaththab ketika mewariskan model pemilihan pemimpin. Kalau Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi isyarat terhadap Abu Bakar untuk menggantikan beliau. Sementara Abu Bakar menunjuk langsung Umar sebagai penggantinya. Sementara Umar membentuk dewan yang terdiri dari beberapa orang yang dianggap memenuhi kriteria untuk menjadi pemimpin. Umar bin Khaththab di saat sakit, setelah ditusuk oleh Abu Lu’luah, menunjuk 6 orang bermusyawarah untuk bermusyawarah guna menggantikan posisinya sebagai khalifah. Umar menunjuk 6 orang tanpa memasukkan nama Said bin Zaid. Hal ini bukan tanpa alasan. Setelah ditelusuri ternyata Sa’id bin Zaid masih tergolong keluarga Umar. Umar benar-benar menjaga agar keluarganya tidak ikut campur dalam urusan kenegaraan. Disinilah keagungan Umar dalam membentengi keluarganya untuk tidak masuk dalam pemerintahan. Ini sebagai upaya untuk menghindarkan diiri dari, apa yang saat ini disebut Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

Sejumlah Keagungan Umar

Sudah banyak dikenal bahwa Umar memiliki sejumlah keagungan. Pertama, beberapa dari wahyu yang turun disebabkan oleh pikiran dan kegelisahan Umar sehingga dia disebut Muhaddatsun (oang yang  ucapannya cocok dengan Al-Qur’an). Terhadap tawanan perang Badar, Abu Bakar berpandangan agar diminta tebusan karena terkait dengan hubungan kerabat. Sementara Umar menyarankan untuk dibunuh, sehingga turun ayat yang menjelaskan keharusan membunuh tawanan perang. Banyak sahabat yang hilir mudik bercengkerama dengan istri-istri Nabi, sehingga Umar usul agar para istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk mengenakan hijab. Sementara banyak model orang yang baik dan kurang baik agamanya.

Kedua, setan menjauhi Umar. Umar dikatakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai sosok yang dijauhi oleh setan, hingga Umar ketika melewati suatu jalan, maka setan memilih jalan lain. Ini menunjukkan keagngan dan kemuliaan, hingga setan takut dan tidak mendekat Umar untuk menggodanya. Kalau umumnya manusia didekatai untuk dijerumuskan setan, maka setan memilih tidak mendekati Umar untuk menggodanya/

Ketiga, perhatian Umar terhadap Sunnah Nabi. Ada pemuda yang datang kepada Umar sesaat setelah tertusuk pisau Abu Lu’luah. Pemuda itu memberi harapan kepada Umar dan menyatakan bahwa yang menusuk perutnya ada orang Majusi. Setelah pemuda itu keluar, maka Umar meminta untuk memanggilnya. Umar menasehati pemuda itu agar menaikkan pakaiannya hingga di atas mata kaki. Hal ini menunjukkan pentingnya mengenakan celana di atas maka kaki, padahal Umar saat itu sedang sakit berat.

Umar dan Upaya Membentengi Penyimpangan Kekuasaan

Perkara nepotisme telah dipandang Umar sebagai hal yang akan merusak dan menggerogoti negara. Awal mula terjadinya penyimpangan kekuasaan disebbkan masuknya unsur kerabat ddi dalam kekuasaan. Pada saat akan meninggal, Umar menunjuk enam sahabat masih hidup dan telah terjamin masuk surga, yakni Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam. Umar sengaja tidak memasukkan nama Said bin Zaid. Saat itu Said bin Zaid masih hidup, dan dia disebut Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai orang kesepuluh yang dijamin masih surga

Setelah ditelusuri, ternyata Said bin Zaid termasuk kerabat Umar. Dia adalah putra paman Umar. Said bin Zaid bin Amr bin Naufal hidup sebelum Islam datang dan sebelum diutusnya Rasulullah. Dengan fitrah dan tabiatnya yang lurus dia mendapat petunjuk. Dia tidak pernah menyembah berhala atau menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada berhala sebagai umumnya. Said bin Zaid pernah menyeru kepada kaum Quraisy bahwa Allah  telah menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, tetapi mengapa kalian  menyembelih binatang-binatang itu. Said memiliki umur yang panjang, dan meninggal ketika pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan.

Umar sengaja tidak memasukkan sosok Said bin Zaid dalam musyawarah untuk memilih pemimpin pengganti dirinya. Padahal Said bin Zaid sangat layak untuk masuk beberapa keutamaannya. Stempel jaminan masuk surga sudah cukup kuat bagi Said bin Zaid untuk masuk kriteria khalifah pengganti Umar. Namun Umar berketetapan hati untuk tidak memasukkannya. Disinilah keadilan Umar dalam menjaga fitnah yang akan muncul.

Abdullah Ibnu Umar juga pernah diusulkan untuk menggantikan posisi Umar, namun Umar menolak dan menyatakan bahwa cukup dirinya sajalah yang masuk dalam kekuasaan. Cukup satu Umar saja yang berkuasa dan tidak boleh ada keluarga Umar.

Betapa banyak penyimpangan kekuasaan diawali dengan adanya kerabat atau anggota keluarga yang masuk dalam kekuasaan ketika ada salah satu anggota keluarganya yang menjadi pemimpin. Runtuhnya kekuasaan Orde Baru disebabkan oleh adanya keluarga Cendana yang terlibat dalam kekuasaan. Bahkan saat ini dinasti kekuasaan terus dipraktekkan oleh para penguasa. Ketika bapaknya selesai berkuasa, maka anaknya diorbitkan untuk masuk kekuasaan untuk menggantikannya. Bahkan seorang ibu yang berhenti dari kekuasaan dan kemudian memasukkan anak perempuannya untuk melanjutkan kekuasaannya. Bahkan ada seorang suami yang berhenti dari kekuasaannya dan mendorong istrinya untuk menggantikan dirinya.

Surabaya, 31 Januari 2019

[1] Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam & Peradaban)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 549 kali, 1 untuk hari ini)