ilustrasi/tirto.id


Oleh Dr. Slamet Muliono[1]

Umar bin Khaththab Radhiallahu ‘Anhu dikenal sebagai sosok agung karena ketegasan dan keadilannya. Karena ketegasannya membuat Islam menggetarkan kota Makkah dan memberi spirit kepada kaum muslimin untuk berani menunjukkan keislamannya. Umar dikenal sebagai orang yang secara terang-terangan membela kebenaran dan melawan kesesatan, sehingga keadilan tegak dan tertutup pintu fitnah. Di zaman Umar bisa dikatakan tidak ada pemberontakan dan tertutup segala fitnah. Namun setelah kematiannya, muncul berbagai fitnah, seperti perlawanan dan pemberontakan terhadap penguasa. Fitnah ini terus berlangsung dan silih berganti tanpa bisa dihentikan karena pintu penjaga fitnah itu telah terbunuh. Sang penjaga pintu itu tidak lain adalah Umar bin Khaththab.

Blusukan dan Tegaknya Keadilan

Di era kepemimpinan Umar, keadaan kaum muslimin yang aman dan mapan akidahnya. Kondisi ini tidak lepas dari kontribusi Abu Bakar dalaang berhasil melawan orang-orang murtad, memerangi para pembangkang yang menolak zakat, menumpas nabi-nabi palsu, serta mengalahkan pasukan Romawi dalam perang Yarmuk. Situasi ini sangat membantu Umar dalam memuluskan jalan untuk menegakkan keadilan.

Kepemimpinan Umar yang suka “blusukan” berkontribusi dalam menegakkan keadilan. Blusukan yang dilakukan Umar bukan untuk pamer apalagi untuk pencitraan, tetapi untuk  mendengar dan mengetahui secara langsung keluhan dan kebutuhan rakyatnya. Tidak jarang, Umar berkeliling di tengah malam atau menjelang pagi dengan mendatangi rumah orang-orang miskin dan yang berkekurangan. Dengan cara begini, Umar melihat langsung bagaimana kondisi rakyatnya yang sebenarnya. Hal inilah yang memudahkan Umar untuk melakukan perbaikan kaum muslimin, yang akhirnya bisa menegakkan keadilan di tengah masyarakat.

Salah satu di antara kebijakan Umar adalah orang yang boleh berdagang di pasar harus mengerti fiqih, sehingga mengeliminir tindakan pelanggaran syariat. Tindakan menipu, mencuri timbangan, atau riba lebih banyak terjadi saat transaksi di pasar. Dengan mengenal fiqih dengan baik, maka perilaku penyimpangan dalam jual beli bisa diminimalisir. Mencampurkan air ke dalam susu merupakan hal yang biasa dan berlaku umum di pasar. Umar menemukan hal itu ketika dia berjalan di suatu malam, dan mendengar dialog seorang ibu dan putrinya. Ibu itu  memerintahkan putrinya untuk menambahkan air ke dalam susunya. Anak perempuan itu menolak karena adanya larangan Umar yag tidak memperbolehkan mencampurkan air ke dalam susu. Ibu itu lantas mengatakan bahwa mencampurkan air ke dalam susu itu merupakan hal biasa, dan tidak akan diketahui Umar. Namun anak perempuan itu mengatakan bahwa kalau Umar tidak tahu, tetapi Allah Maha Mengetahui akan hal itu.

Rusaknya Pintu Fitnah dan Akhir Hayat Umar  

Keberhasilan Umar dalam menegakkan keadilan itu cukup menggetarkan dunia hingga Romawi mengutus  seseorang untuk mengetahui dan melihat secara langsung sosok pemimpinnya. Utusan Romawi ini benar-benar datang ke kota Madinah. Begitu datang, dia menanyakan keberadaan istana pemimpin Islam itu. Utusan Romawi ini membayangkan bahwa seseorang yang memiliki kekuasaan yang begitu besar pasti memiliki istana yang dikelilingi benteng yang kokoh dengan penjaga yang sangat kuat dan berlapis.

Kemudian dia merasa takjub ketika ditunjukkan bahwa Umar sedang tidur di bawah pohon. Secara spontan utusan itu merasa heran dan berkata secara langsung kepada Umar dengan perkataan yang sangat masyhur. “Kamu bisa tidur dengan nyenyak karena telah berbuat adil dan jujur dalam memerintah”.

Namun di balik ketokohannya, Umar memiliki kesederhanaan dan ketawadhuan yang luar biasa. Suatu saat Umar pernah meminta penjelasan kepada Hudzaifah ibnul Yaman tentang fitnah yang akan menimpa umat Islam. Fitnah itu digambarkan seperti gelombang dan ombak yang menggulung yang tidak akan terjadi selama pintu itu masih berdiri kokoh. Namun pintu itu akhirnya akan terbuka juga. Umar bertanya apakah pintu itu retak atau jebol. Maka Hudzaifah menyatakan bahwa pintu itu akan jebol dan rusak. Maka Umar paham dan mengetahui bahwa dirinyalah pintu itu, dan apabila pintu itu rusak maka akan terjadi fitnah yang terus menerus. Umar menyadari bahwa dirinya akan terbunuh dan fitnah-fitnah itu akan terus berlangsung.

Kematian Umar itu bermula di saat Islam berhasil menaklukkan Persia, maka ditawanlah Hurmuzan. Dia adalah jenderal Persia yang ditangkap. Meskipun hampir dibunuh Umar, namun hal itu tidak terjadi, dan Hurmuzan akhirnya masuk Islam dan hidup aman di tengah-tengah kaum muslimin. Peristiwa pembunuhan Umar itu tidak lepas dari peran Abu Lu’luah yang terlihat cukup akrab dengan Hurmuzan. Abu Lu’luah dan Hurmuzan ada hubungan persaudaraan, yakni sama-sama berasal dari negeri Persia. Besar kemungkinan bahwa dua orang ini diduga bersekongkol untuk melakukan pembunuhan terhadap Umar. Dengan menggunakan sebuah pisau yang diberi racun, maka Abu Lu’luah berhasil menyelinap dan masuk barisan jamaah kaum muslimin yang melakukan shalat subuh.

Persekongkolan mereka sempat diketahui oleh Abdurrahman bin Abu Bakar tentang pisau yang dipergunakan Abu Lu’luah untuk membunuh Umar. Abdurrahman bin Abu Bakar bercerita, bahwa sebelum pembunuhan Umar, dirinya melihat 3 orang berjalan bersama-sama. Tiga orang itu adalah Hurmuzan, Abu Lu’luah, dan Jufainah (seorang Nasrani). Mendengar cerita Abdurrahman bin Abu Bakar itu, maka Ubaidullah (putera Umar bin Khaththab) langsung pergi mendatangai Hurmudzan dan Jufainah, dan langsung membunuhnya.

Pasca kematian Umar itu, muncul berbagai fitnah seperti pemberontakan terhadap Utsman bin Affan hingga terbunuh, perang Shiffin, perang Jamal, hingga terbunuhnya Ali bin Abi Thalib, serta berbagai peperangan antar umat Islam. Fitnah itu tidak akan terhenti karena pintu penjaga fitnah itu telah gugur di jalan Allah, terbunuh oleh Abu Lu’luah, laknatullah dari Persia.

Surabaya, 5 Pebruari 2019

[1] Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam & Peradaban)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.143 kali, 1 untuk hari ini)