Umat Islam Berhari Raya dan Ibadah Itu Dijamin Konstitusi UUD 1945

Dalam konteks agama, Indonesia juga memiliki konstitusi yang menjadi jaminan bahwa warga negara Indonesia memiliki hak untuk memeluk agama dan beribadah menurut kepercayaannya.

Jaminan ini tegas termuat dalam berbagai pasal yang membahas mengenai kebebasan beragama. Pasal-pasal ini merupakan wacana kebebasan beragama yang sudah ada sejak kemerdekaan Indonesia di tahun 1945 dan terus mengalami perkembangan.

Salah satunya pada Pasal 29 Ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi:

“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.

Kandungan kebebasan beragama dan berkeyakinan ini adalah pasal hak asasi manusia (HAM) yang tegas dan diatur dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-3 berbunyi “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Alinea ini memiliki arti keyakinan bangsa Indonesia, bahwa kemerdekaan yang diraih bukan hasil perjuangan rakyat semata, tetapi juga berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa.

(lihat Faqihah M Itsnaini – detikNews, Pasal 29 Ayat 2 UUD 1945 : Bunyi dan Implementasinya

Jakarta -Sabtu, 13 Mar 2021 13:01 WIB).

Di samping itu ada fatwa MUI di antaranya ini.

 Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa mengenai masalah strategis kebangsaan. Fatwa itu mengharamkan pemimpin yang mengingkari janji, dan tidak boleh mentaati pemimpin yang memerintahkan sesuatu yang dilarang agama.

 Pemimpin publik yang melakukan kebijakan untuk melegalkan sesuatu yang dilarang agama dan atau melarang sesuatu yang diperintahkan agama maka kebijakannya itu tidak boleh ditaati.

Pemimpin publik yang melakukan kebijakan untuk melegalkan sesuatu yang dilarang agama dan atau melarang sesuatu yang diperintahkan agama maka kebijakannya itu tidak boleh ditaati (point ke 7 dari Fatwa MUI dari Keputusan Komisi A tentang Masalah Strategis Kebangsaan (Masail Asasiyah Wathaniyah) dalam Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia V tahun 2015). https://www.nahimunkar.org/9-janji-jokowi-maruf-amin-dan-fatwa-mui-soal-pemimpin-yang-ingkar-janji/

Perintah agama Allah Ta’ala dalam hal hari Raya Idul Adha (hari Raya Qurban), di antaranya ini:

Al- Quran Surat al-Kautsar

إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ

innā a’ṭainākal-kauṡar

1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ

fa ṣhalli lirabbika wan-ḥar

2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلْأَبْتَرُ

inna syāni`aka huwal-abtar

3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

(QS Al-Kautsar: 1-3)

Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI

Wahai nabi Muhammad, sungguh kami telah memberimu nikmat yang banyak dan langgeng, meliputi kenikmatan duniawi maupun ukhrawi, seperti kenabian, Al-Qur’an, syafaat, telaga di surga, dan sebagainya.

2. Karena itu, sebagai rasa syukurmu kepada tuhanmu, maka laksanakanlah shalat dengan ikhlas semata-mata karena tuhanmu, bukan dengan tujuan ria; dan berkurbanlah demi Allah dengan menyembelih hewan sebagai ibadah dan sarana mendekatkan diri kepada Allah./ Tafsirweb.com.

Nah, dengan demikian, Umat Islam melaksanakan berhari raya qurban (Idul Adha) dengan melaksanakan ibadah shalat dan menyembelih qurban berupa binatang ternak setelah shalat Idul Adha 10 Dzulhijjah hingga akhir hari Tasyriq 13 Dzulhijjah itu adalah perintah dari Allah Subhnahu wa Ta’ala.

Itu merupakan hari raya resmi dari perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk diyakini dan dilaksanakan oleh Umat Islam. Pelaksanaannya itu jelas dilindungi dan dijamin oleh Konstitusi UUD 1945, bahkan ada fatwa MUI yang telah dicantumkan itu segala.

Di samping itu, setiap Umat Islam wajib mengimani ayat ini>

{ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ } [البقرة: 147]

147. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS Al-Baqarah: 147)

(nahimunkar.org)


(Dibaca 116 kali, 1 untuk hari ini)