Ada orang-orang yang entah kenapa tetapi sering dijadikan obyek oleh penipu dan dijadikan kalahan (jadi sasaran hingga terkena beban atau kerugian).

Sejarah hidup manusia bila dibaca catatan perjalanannya kadang unik. Apalagi ketika seseorang jadi obyek kalahan, segala macam pekerjaan ditimpakan ke dia, tapi giliran ada rizqi belum tentu dia mendapatkan sesuai jatahnya. Bahkan bisa-bisa terlewati. Namanya juga pihak kalahan.

Ketika nasibnya seperti itu, sebenarnya kalau dia memprotes demi mendapatkan haknya, tentu sah-sah saja. Tetapi ada juga seseorang yang mengalami nasib seperti itu, justru dia nikmati nasibnya.

Bagaimana menikmatinya?

Di masa lalu, di negeri ini terutama di desa, masyarakatnya belum tentu kecukupan makan. Seseorang yang dikisahkan ini merupakan anak yang punya banyak adik. Dia yang senantiasa kebagian jatah aneka pekerjaan (bertani, memelihara sapi, kambing, dan aneka pekerjaan lainnya). Sampai tempo-tempo ada urusan keluarga berhubungan dengan kelurahan, kecamatan, bahkan kabupaten pun dia yang harus bertandang.

Sehari-harinya dia dibebani pekerjaan aneka macam seperti itu. Dan pada giliran makan, dia tidak tega kepada adik-adiknya yang masih melirik makanan dia. Maka dia hanya memakan sebagian, dan sebagian lainnya diberikan ke adik-adiknya. Hampir tiap hari begitu. Benar-benar menerima nasib sebagai orang kalahan.

Apakah mereka berterima kasih?

Begini alur ceritanya. Begitu dia menikah, ternyata kemudian pisah dari adik-adiknya, tinggal di rumah lain bersama isterinya. Tetapi soal pekerjaan, dia masih sering membantu orang tuanya tersebut, hanya saja tidak sepenuhnya seperti sebelumnya. Dan giliran makan, tidak usah ikut makan, jadi tidak ada jatah makan khusus untuknya.

Dari situ justru mereka yang tadinya dapat mengharapkan kucuran sebagian dari jatahnya, kemudian tidak mendapatkannya lagi. Mereka berbalik menjadi benci. Kebencian itu secara ramai-ramai, hingga ketika ada sesuatu yang dianggap dia itu salah, maka langsung mereka keroyok ramai-ramai dengan perkataan yang tidak mengenakkan.

Tidak cukup hanya menderita seperti itu. Tahu-tahu dari orang lain-lain juga bergerilya menipu dia. Jurus-jurus tipuan yang tidak ia kenal ditimpakan ke dia, maka tertipulah dia. Entah berapa sapi milik dia yang dibawa kabur orang dengan cara tipuan. Dan itu tidak ada pembelaan sama sekali dari adik-adiknya yang memang membencinya tanpa suatu kesalahan pun itu. Antara penipu dari luar dan pembenci dari dalam seakan sejalan, walau dalam kasus ini tidak ada tanda-tanda bersekongkol.

Ketika hidup dirundung derita seperti itu, tidak satu dua kali, bahkan sering ada yang kumat di antara mereka yang suka ramai-ramai mengeroyok dengan omongan, membikin persoalan untuk bikin mangkelnya dia. Hampir saja dia ingin kabur dari tempat / desa itu. Tetapi ada kendala. Karena dia menempati tempat itu ternyata di tanah pemberian kakeknya, disertai wasiat agar dia tetap tinggal di situ. Kalau sampai pergi dan tidak tinggal di situ lagi, maka diancam dalam wasiat itu, tidak akan selamat. Di samping itu, dia harus mengimami di masjid lingkungan tempat itu.

Hidup ternyata harus sabar. Dan ternyata sudah ada pesan dari Allah Ta’ala:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [آل عمران: 200]

  1. Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. [Al ‘Imran: 200]

Ketika di hari tua, dia itu menjadi orang yang tekun ibadah, tekun bekerja, dan tahan banting. Bahkan ketika mengalami sakit, apabila sakitnya tidak terlalu parah, justru gembira-gembira saja, karena mumpung istirahat kerja, maka lebih banyak waktu untuk membaca Al-Qur’an, hingga lebih cepat khatam. Akhirnya dia menemui ajalnya dalam keadaan telah banyak mengkhatamkan Al-Qur’an.

***

Ketika Agamanya juga jadi sasaran

Nasib orang yang jadi sasaran tipuan dan dikalahkan itu tidak merusak apa-apa baginya, ketika dihadapi dengan sabar, tabah dan teguh. Dan dia masih beruntung, karena agamanya tidak jadi sasaran. Bahkan termasuk mereka yang suka menyakiti hatinya pun jadi makmum dalam shalat berjamaah.

Bandingkan dengan umat Islam kini nasibnya. Penipu dari luar maupun yang menyakiti dari dalam itu (mungkin bahkan bersekongkol?) sasaran utamanya justru agama umat Islam ini. Jadi dua-duanya disasarkan kepada umat Islam.

Anehnya, ayat-ayat dan hadits-hadits yang telah memperingatkan masalah seperti itu sudah lama kita ketahui dan bahkan hafal, namun ketika mengalami keadaan, banyak dari kita yang tidak merasa.

Hadits-hadits tentang fitan, bahkan diibaratkan bagai gelapnya potongan-potongan malam, itu kita kenal bahkan mungkin hafal dan malahan sering disampaikan. Tetapi belum tentu diri kita sendiri merasa bahwa sebenarnya justru kita kini lah yang terkena hadits itu. Hingga ternyata duduk berdampingan dengan JIL liberal dalam suara yang hampir sama di bawah pohon besar di gelapnya malam, yang masalah fitnah bagai potongan-potongan gelap malam itu haditsnya kita hafal, tetapi justru kita lakoni.

Ha? Tahu-tahu kita berdampingan dan sesuara dengan kaum liberal di bawah pohon besar di kegelapan malam, tetapi kita merasa benar?

Astaghfirullahal ‘adhiim. Laa haula walaaquwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhiim. Betapa bahagianya seseorang yang jadi sasaran tipuan dan kalahan dalam kisah di atas, namun agamanya selamat. Dan betapa naifnya diri kita yang sudah kenal peringatan tentang fitnah dalam hadits-hadits itu, namun dalam kenyataan ketika mengalami dunia nyata, kita tidak merasa. Benar-benar gelap bagai potongan-potongan gelapnya malam. Di depan kita itu jurang, dan di samping kita itu ular-ular berbisa yang mematikan iman pun kita tidak tahu dan tidak merasa. Allahul Musta’an.

Semoga ini jadi pelajaran.

Jakarta, 11 Rabi’uts Tsani 1437H/ 21 Januari 2016

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)