Umat Islam Jangan Tertipu Lagi, Masa’ Pembenci Islam Malah Dipuji

 


photodivision/ huffingtonpost.in

Mahatma Gandhi tokoh Hindu India– pembenci Islam menurut Buya Hamka.

Ada tulisan berjudul ‘Cerita Buya HAMKA tentang Gandhi dan Ghirah Hindunya Benci Islam‘ diambil dari bukunya berjudul Ghirah, Cemburu Karena Allah (GIP, 2016) . Tulisan ini banyak diperhatikan orang karena tampil saat gerombolan Hindu India membakar Masjid di New Delhi dan membunuh puluhan Umat Islam. Masjid Dibakar, 20 Orang Tewas dalam Kekerasan Menolak UU Anti-Muslim di India
https://www.nahimunkar.org/masjid-dibakar-20-orang-tewas-dalam-kekerasan-menolak-uu-anti-muslim-di-india/

Buya Hamka dalam bukunya Ghirah, Cemburu Karena Allah (GIP, 2016) itu banyak bercerita bahwa Mahatma Gandhi yang sering dielu-elukan sebagai bapak humanisme dan pluralisme dunia dari India adalah sosok yang paling benci kepada Islam dan punya ghirah terhadap agamanya-Hindu yang luar biasa totalitasnya. Dia lah sebenarnya yang amat tak suka Islam berkembang di India meski cara mencegahnya terlihat “halus”.

Kutipannya pun beredar di medsos di antaranya ditulis ulang oleh akun fb Reni Trisilawati kemudian ditampilkan oleh nahimunkar.org https://www.nahimunkar.org/cerita-buya-hamka-tentang-gandhi-dan-ghirah-hindunya-benci-islam/.

Ketika tulisan itu beredar kembali di medsos, maka ada yang komen di antaranya ini:

 

Anggolo Yudo Berbanding terbalik dengan pelajaran sejarah dunia yang ” cekok kan “…waktu saya SMP zaman old….Gandhi di puji sejarah….

 

***

Demikianlah yang terjadi, Umat Islam sudah dibenci, dizalimi, dihalangi, bahkan mungkin dibunuhi; namun tokoh yang sangat benci Islam pun bisa2 dipuji oleh Umat Islam karena adanya tangan2 pengkhianat yang mengarahkan ke sana dengan cara menipu Umat Islam.

Sudah tertipu dari Pendidikan di sekolah secara resmi, di kehidupan umum pun ditipu oleh media-media yang kemungkinan anti Islam. Dalam kasus ini, pujian terhadap Gandhi pun sampai sebegitunya, contohnya tulisan di Kompas ini:

Biografi Tokoh Dunia: Mahatma Gandhi, Sang “Jiwa Agung” Pecinta Damai /Kompas.com – 02/10/2018, 17:52 WIB

***

Seringkali Umat Islam tertipu, dikira orang yang perlu dihormati karena simpati kepada Islam, padahal sejatinya memusuhi Islam, membenci Islam, bahkan membantai ribuan Ulama, gurunya Umat Islam. Sampai-sampai pembantai ribuan ulama/ umat Islam di Jogja  (1647), Amangkurat 1, raja Mataram, tidak disebutkan sebagai pembantai Umat Islam, namun sebaliknya namanya disebut sebagai Sunan Tegal Arum, dalam sejarah di sekolah2 maupun buku2 umum. Rupanya banyak bangsat2 pengkhianat dan pembenci Islam di negeri ini, hingga Umat Islam seingkali tertipu, bahkan dari Pendidikan resmi sekalipun.


Dr Taufik Abdullah sejarahwan asal Minang/ foto lipi

 

Dr Taufik Abdullah sejarahwan asal Minang pun tampaknya menyembunyikan sejarah tentang ‘Amangkurat 1 yang membantai ribuan Umat Islam demi menjilat penjajah kafir Belanda’ itu ketika Dr Taufik Abdullah dipercaya untuk memimpin penulisan buku ‘Sejarah Umat Islam Indonesia’ oleh MUI Pusat pimpinan Kyai Hasan Basri tahun 1987-an.

Padahal Buya Hamka yang juga asal Minang sudah memberi contoh menuliskan sejarah tentang tokoh pembenci Islam ya dinyatakan sebagai pembenci Islam dengan bukti2nya walau banyak penipu menyanjung sang tokoh seperti Ghandi itu.


Buya hamka 1839- 24 Juli 1981 / foto wkpdia

Hendaknya Dr Taufik Abdullah bertobat dan membeberkan sejarah sebenarnya, kalau memang masih ada ghirah Islamiyahnya. Atau kalau memang sebenarnya ditulis secara lengkap, namun ketika buku itu diterbitkan sudah dihapus oleh tangan2 tertentu materi tersebut, maka hendaknya dijelaskan kepada Umat Islam. Agar tidak menimbulkan prasangka yang mengakibatkan Pak Taufik Abdullah dianggap sebagai sejarahwan yang menyembunyikan sejarah pembantaian terhadap ribuan Umat Islam oleh raja antek penjajah Belanda.

 

Mari kita lihat link berikut ini, tentang Amangkurat 1 membantai ribun ulama yang dikumpulkan di Jogja 1647. https://www.nahimunkar.org/amangkurat-membantai-ribuan-ulama/ 

Amangkurat I Membantai Ribuan Ulama

Posted on 17 November 2015

by Nahimunkar.com


ilustrasi gambar Raja Amangkurat I
Sumber foto : lokalgenius.blogspot.com

Pembantaian terhadap umat Islam kadang bukan hanya menimpa umat secara umum, namun justru inti umat yang dibantai, yaitu para ulama. Pembantaian yang diarahkan kepada ulama itu di antaranya oleh Amangkurat I, penerus Sultan Agung, raja Mataram Islam di Jawa, tahun 1646.

Peristiwa itu bisa kita simak sebagai berikut:

‘Penyebaran Islam menjadi benar-benar terhambat dan sekaligus merupakan sejarah paling hitam tatkala Amangkurat I mengumpulkan 5000 sampai 6000 orang ulama seluruh Jawa dan membunuhnya seluruhnya secara serentak.’[1]

Masalah ini ditegaskan lagi oleh Sjamsudduha pada halaman lain: ‘Penyebaran Islam pernah mengalami hambatan yang bersifat politis, yaitu adanya pergolakan intern dalam kerajaan-kerajaan Islam. Hambatan yang paling hebat dalam proses penyebaran Islam terjadi ketika Amangkurat I melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap lima sampai enam ribu ulama dan keluarganya. Penyebaran Islam di Jawa mengalami stagnasi untuk beberapa lama karena kehabisan muballigh, dan perasaan takut.’[2]

Dibantainya lima ribu sampai enam ribu ulama itu adalah masalah yang sangat besar. Sumber yang lain menyebutkan:

‘Amangkurat I, juga terkenal dengan nama Amangkurat Tegal Arum atau Tegal Wangi (karena mangkat di tempat tersebut) ialah putera Sultan Agung; naik tahta Mataram (1645) sebagai pengganti ayahnya. Berlainan dengan Sultan Agung yang bijaksana, Amangkurat I pada waktu hidupnya membuat beberapa kesalahan dan sebagai tanda kelemahan ia mengadakan perjanjian perdamaian dengan Kompeni Belanda  (1646). Tindakannnya ini ditentang oleh beberapa golongan, di antaranya para alim ulama, sehingga mereka ini disuruh bunuh.’[3]

Peristiwa besar berupa pembantaian terhadap ribuan ulama  itu tidak terjadi kecuali di belakangnya ada penjajah Belanda yang menyetir Amangkurat I.

Penjajah Belanda itu jumlahnya sedikit, minoritas, tetapi memegang kendali kepemimpinan, terbukti memainkan peran jahatnya terhadap inti umat Islam yaitu membantai ribuan ulama. Kelompok minoritas itu sampai membantai yang mayoritas saja tidak takut, apalagi kejahatan-kejahatan lainnya.

Amangkurat I membuat daftar para ulama beserta keluarga mereka untuk dikumpulkan, lalu dibantai di alun-alun Plered (+12 km ke arah tenggara dari kota Yogyakarta, red). Pembantaian ini terjadi tahun 1647. “Dan dalam waktu setengah jam, tidak kurang dari lima sampai enam ribu orang dibantai. Van Goens (utusan VOC untuk Mataram) yang waktu itu berada di Plered, melihat dengan mata sendiri mayat-mayat yang bergeletakan di jalanan,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid II./ http://banggasejarah.blogspot.co.id

Di Zaman penjajahan menyusu penjajah, zaman merdeka bertingkah

Berikut ini sebagian data kejahatan minoritas kafir penjajah Belanda terhadap umat Islam dalam hal memberi dana sangat besar kepada Kristen dan Katolik, sebaliknya sangat kecil terhadap Islam.

Semenjak masa pemerintah kolonial Belanda, Katolik terutama  Protestan memperoleh dana bantuan yang besar sekali, tidak demikian dengan Islam. Sebagai contoh pada tahun 1927 alokasi bantuan  untuk modal dalam rangka pengembangan agama, adalah sebagai  berikut:

Protestan memperoleh      € 31.000.000

Katolik memperoleh          € 10.080.000

Islam memperoleh             €         80.000.[4]

Dana besar dari penjajah Belanda itu digunakan oleh orang  Kristen dan Katolik untuk membangun gedung-gedung, sekolah, rumah  sakit dan sebagainya. Sedang ummat Islam tidak punya uang. Pada  gilirannya, anak-anak orang kafirin itu telah makan sekolahan  sedang anak-anak Muslimin belum, kecuali sedikit, maka ketika  merdeka, orang-orang kafirin Nasrani itu masuk ke pos-pos pemerintahan di mana-mana. Padahal mereka itu ogah-ogahan untuk merdeka, lebih enak menyusu pada penjajah sesama kafir. Jadi, yang  berjuang mengorbankan nyawa dan harta untuk melawan penjajah  kafir itu orang Islam, namun ketika merdeka, penyusu Belanda itu justru yang leha-leha duduk di kursi-kursi pemerintahan.

———-


[1] Sjamsudduha, Penyebaran dan Perkembangan Islam- Katolik- Protestan di Indonesia, Usaha Nasional,Surabaya, 1987, halaman 119.

[2] Ibid, halaman 167.

[3] Prof. Mr, AG. Pringgodigdo –Hassan Shadily MA, Ensiklopedi Umum, Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1977, halaman 45.

[4] Sjamsudduha, Penyebaran dan Perkembangan Islam – Katolik- Protestan di Indonesia,_Usaha  Nasional Indonesia, cet II, 1987, hal 129.

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 4.430 kali, 1 untuk hari ini)