Oleh Muhammad Faisal, S.Pd, M.MPd (Aktivis Anti Pemurtadan & Aliran Sesat)

Banyak yang sangat benci dengan gaya kepemimpinan Ahok yang arogan. Pernyataannya selalu menyakitkan bagi telinga orang Islam. Tak ada yang mengenakkan.

Misalnya, soal lokalisasi pelacuran, bersikeras ingin tetap melakukan lokalisasi pelacuran, dan selalu mengatakan, Indonesia ini bukan negara ‘agama’. Tentu, maksudnya Indonesia bukan negara Islam, itu sikap Ahok.

Front Pembela Islam (FPI) terang-terangan menolak jika Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sampai menggantikan Joko Widodo (Jokowi) sebagai orang nomor satu di Ibu Kota. Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) FPI DKI Jakarta Ustadz Novel Bamu’min menegaskan FPI akan menekan keras Jokowi agar tidak meninggalkan kursi gubernurnya terkait maju dalam pemilihan presiden 2014.

Bagi FPI sosok Ahok harus diperhatikan karena dianggapnya tidak bisa mewakili masyarakat Jakarta. Sangat tidak proporsional. Minoritas Cina di Jakarta harus menjadi gubernur. Bisa dibayangkan bagaimana kebijakan yang akan diambil nanti? Sudah ada preseden, di mana Lenteng Agung, mayoritas Muslim, Ahok mengangkat Lurah, perempuan beragama Kristen. Ini sudah sangat jelas-jelas arogansi Ahok.

Dalam memimpin Jakarta, Ustadz Novel menegaskan, seharusnya ada asas proporsional yang menyesuaikan kondisi mayoritas masyarakat. “Kayak di Bali, Gubernurnya orang Bali dan agamanya sesuai penduduk mayoritas. Begitupun Manokwari yang putra daerah dan sama dengan mayoritas. Ahok enggak bisa wakilin Jakarta,” kata Novel kepada detikcom, Selasa (12/03/2014), ketika dimintai tanggapannya ihwal bila Jokowi mundur.

Menurut Humas Lembaga Dakwah Front Dewan Pimpinan Pusat FPI ini, karakter Ahok harus dilihat secara obyektif. Sikap dan gaya bicara Ahok yang ceplas ceplos di depan orang banyak, dinilai FPI, selama ini tidak mencerminkan sebagai pemimpin daerah setingkat Jakarta.

Akibat ucapannya, sejumlah pihak termasuk FPI beberapa kali tersinggung. Novel pun berharap kalau memang Jokowi mundur demi capres, Ahok tidak mutlak langsung menggantikannya. “Makanya kami ingin ada formula undang-undang baru yang mengatur soal ini. Ahok ini arogan. Kalau Ahok naik, kami bakal perang dan demo itu balai kota,” sebut Ustadz Novel.

Bahkan,saat berlangsung pengajian ‘Politik Islam’ di Masjid Agung al-Azhar, hari Ahad, 16/3/14, kemarin, seorang ibu, bernama Elma, dengan nada yang sangat geram, mengomentari jika nanti Ahok menggantikan Jokowi, menyerukan jihad melawan Ahok, tegasnya.

Ini menampakan kekecewaan sebagian masyarakat Jakarta, terhadap perilaku Ahok, yang akan menjadi ‘majikan’ rakyat Jakarta. Perlu diingat Jakarta ini, dibebaskan dari penjajah Belanda dan Portugis, bukanlah oleh leluhur dan teman-teman Ahok, tetapi sekarang menguasai Jakarta, dan akan menjadikan budak dan kuli kaum pribumi dan Muslim.

Orang-orang Cina kalau berkuasa bakal tidak ada lagi toleransi, walaupun mereka sekarang bicara toleransi. Di negeri Cina, Muslim di Xinjiang dan Uighur dibantai, dan diberangus, tidak boleh puasa, pergi haji, dan melakukan ibadah lainnya. Itulah aslinya kelompok Cina, yang memang ideologinya anti agama alias komunis.

Ahok Biadab

Dalil Haramnya Dipimpin Non Muslim

Diharamkan bagi seorang Muslim dan Muslimah memilih bahkan dipimpin dari non-muslim, atau memberikan jalan untuk jadi pemimpin bagi kaum muslimin.
Ibnu Hazm rahimahulloh berkata, “Syarat pemimpin haruslah seorang muslim, karena Allah ta’ala berfirman,

وَلَن يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلا

“Dan Alloh sekali-kali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.” [QS. An-Nisa: 141]
Dan kepemimpinan adalah sebesar-besarnya jalan untuk menguasai kaum muslimin. Dan karena Alloh ta’ala memerintahkan untuk menghinakan Ahlul Kitab, memerintahkan mereka membayar jizyah dan memerangi orang kafir selain Ahlul Kitab sampai mereka masuk Islam”. [Al-Fishol fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal, 4/128].

An-Nawawi rahimahulloh berkata, “Berkata Al-Qodhi ‘Iyadh, Ulama telah SEPAKAT (ijma’) bahwa kepemimpinan tidak sah bagi seorang kafir, dan jika seorang pemimpin muslim menjadi kafir maka harus dilengserkan”. [Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, 12/229].

(nahimunkar.com)

(Dibaca 833 kali, 1 untuk hari ini)