SOLO – Ratusan massa yang tergabung dalam Komunitas Nahi Munkar Solo (Konas) menggelar aksi demonstrasi menuntut pembubaran detasemen khusus (Densus) anti teror 88, karena dinilai melakukan perlakuan yang semena-mena terhadap umat Islam.

“Kami menuntut pemerintah untuk membubarkan Densus, karena sangat merugikan kaum Muslimin di Indonesia” ujar Humas Aksi, Endro Sudarsono.

Endro menilai aksi Densus yang selama ini dielu-elukan pemerintah tak terbukti sebagaimana asliny, dimana selama ini pemerintah menyebut-nyebut Densus sebagai pengayom keamanan. Namun  nyatanya Densus malah sebagai penyebar rasa takut dan melakukan penangkapan terhadap warga, hanya karena dicurigai sebagai teroris.

Sebagai cotohnya sebut Endro,  Siyono 33 tahun, tertuduh teroris yang ditangkap di Klaten, Jawa Tengah, meninggal pada Jumat siang, 11 Maret 2016. Sampai saat polisi dan Densus 88 belum memberikan penjelasan secara pasti mengenai apa penyebab kematian Siyono.

“Tidak hanya Siyono. Ada sekitar 118 orang yang meninggal dunia saat Densus 88 melakukan aksinya,” tambahnya.

By Muhammad Farhan, muslimdaily.net, Published On: Tue, Mar 15th, 2016

***

Ini 11 Pertimbangan Konas Solo Agar Presiden Bubarkan Densus 88

Endro menyebutkan, 11 pertimbangan itu salah satunya, Densus 88 disponsori dan dilatih negara barat untuk kepentingan Amerika dan Australia dalam memerangi aktivis muslim

membubarkan Densus 88

Ratusan umat Islam yang tergabung Dalam Konas saat melakukan aksi damai meminta Presiden Jokowi untuk membubarkan Densus 88 Antiteror di Solo, Jawa Tengah, Selasa (15/3/16). (dok. Jitunews/Labib Zamani) 

SOLO – Ada 11 pertimbangan yang dilayangkan Komunitas Nahi Munkar Solo (Konas) kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membubarkan Densus 88 Antiteror.

“Ada 11 pertimbangan pembubaran Densus 88 Antiteror yang kami sampaikan kepada Presiden Jokowi,” tegas Humas Aksi, Endro Sudarsono dalam aksi damai di kawasan bundaran Gladag Solo, Jawa Tengah, Selasa (15/3).

Endro menyebutkan, 11 pertimbangan itu antara lain, pertama, Densus 88 disponsori dan dilatih negara barat untuk kepentingan Amerika dan Australia dalam memerangi aktivis muslim dan gerakan Islam di Indonesia.

Kedua, target operasi Densus 88 sebagian besar adalah ulama dan aktivis masjid.

Ketiga, Densus 88 mengabaikan asa praduga tak bersalah. Densus 88 sering menembak mati seseorang yang statusnya baru terduga, tanpa adanya putusan pengadilan. Korban yang ditembak mati Densus 88 meninggal dengan luka tembak yang mengenaskan.

Keempat, Densus 88 sering menembak mati seseorang yang sama sekali tidak terkait dengan kasus terorisme.

Kelima, Densus 88 juga sering salah tangkap seseorang yang akhirnya dipulangkan tanpa ada permintaan maaf, rehabilitasi maupun kompensasi.

Keenam, sebagian besar tersangka terorisme tidak diberikan haknya dalam memilih pengacara.

Ketujuh, dalam ukuran waktu 7×24 jam sering terjadi penganiayaan, penyiksaan dan tekanan secara fisik dan psikis terhadap tersangka terorisme oleh Densus 88 yang mengakibatkan luka ringan, berat, permanen dan menyebabkan trauma korban, bahkan kematian.

Kedelapan, Densus 88 sering melakukan aksi arogansi terhadap keluarga terorisme terlebih kepada anak-anak.

Kesembilan, Densus 88 sering memperlambat pemulangan jenazah yang statusnya baru terduga terorisme. Sehingga pemakaman jenazah yang semestinya menurut hukum agama Islam disegerakan menjadi tertunda.

Kesepuluh, Densus 88 diskriminasi, kasus penembakan di Papua yang mengakibatkan meninggalnya anggota TNI/Polri justru tidak ditindak.

Terakhir, Oknum Densus yang merusak, membunuh, menyiksa dan menganiaya terduga teroris belum pernah diadili di pengadilan.

Penulis:Labib Zamani (KR)
Editor:Riana

By: jitunews.com/15 Maret 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 839 kali, 1 untuk hari ini)