Umat Islam yang Istiqomah Tidak Usah Gusar Bila Dituduh sebagai Pemecah Belah Bahkan Dituduh Mengkafir-kafirkan Orang

 


Ilustrasi foto/ nasihatsahabat

 

Ketuhanan Hindu menganggap Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Tuhan pemecah belah, jadi mukmin versus kafir.

 

Silakan baca ini baik2 ya:

 

Buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010) menyatakan: “Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).


Dengan adanya keyakinan monotheisme (dalam Islam Tuhannya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala) dianggap sebagai Tuhan pemecah belah jadi mukmin versus kafir, maka Umat Islam yang istiqomah jangan sampai gusar apabila dituduh sebagai kelompok pemecah belah. Karena Allah Ta’ala yang jelas Maha Benar pun dibegitukan. Hingga bila tuduhan pemecah belah itu dilontarkan oleh pihak2 yang mengaku Islam sendiri juga, apalagi pihak orang di luar Islam alias kafir dan musyrik yang melontarkan tuduhan-tuduhan yang tidak mengenakkan itu, maka Umat islam yang istiqomah tidak usah gusar.

 

Misalnya Umat Islam yang tegas memberantas kemusyrikan, bid’ah takhayyul, khurofat dan aneka kesesatan; lalu dituduh sebagai kelompok pemecah belah umat. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala pun telah dituduh sebagai Tuhan Pemecah belah menjadi mukmin versus kafir. Maka Umat Islam yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan istiqomah ketika dituduh sebagai kelompok yang memecah belah, ya tetap saja harus takut kepada Allah Ta’ala, tidak usah takut kepada manusia2 atau makhluk2 yang menuduhnya seperti itu.

 

Dari sisi lain, dengan adanya kejelasan bahwa ketuhanan Hindu itu muatannya demikian, maka orang Islam yang mengucapkan salam Islam Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh, lalu disambung dengan salam Hindu, Om Swastiastu (yang itu kental dengan ketuhanan Hindu) maka dapat mengeluarkannya dari Islam alias bisa murtad dan musyrik. Karena sama dengan mengiyakan (mengamini) ‘kutukan’ bahwa Allah Ta’ala itu Tuhan pemecah belah jadi mukmin versus kafir. Na’udzubillahi min dzalik! Bila meninggal dalam keadaan tetap belum bertaubat, bila terhitung musyrik, maka haram masuk surga, dan kekal di neraka. Na’udzubillahi min dzalik!

 

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

 

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72). Lihat selengkapnya di sini:

https://www.nahimunkar.org/arsip-bisa-murtad-dan-musyrik-mengucapkan-salam-islam-disertai-salam-agama-lain/

 

Memberikan wawasan seperti ini pun bisa dituduh sebagai pemecah belah umat. Bahkan bisa juga dituduh sebagai mengkafir-kafirkan dan memusyrik-musyrikkan orang.

Padahal perlu dibedakan. Memberi peringatan bahwa perbuatan begini itu bisa mengakibatkan kafir atau musyrik, bisa mengeluarkan dari Islam, bila memang uraian itu dalilnya kuat/ shahih, maka justru penting untuk disampaikan. Berbeda dengan misalnya mengatakan kepada sesama Muslim ucapan: ‘kafir kamu’. Terhadap ucapan ‘kafir kamu’ di situ ada peringatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالفُسُوقِ، وَلاَ يَرْمِيهِ بِالكُفْرِ، إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

“Janganlah seseorang menuduh orang lain dengan tuduhan fasik dan jangan pula menuduhnya dengan tuduhan kafir, karena tuduhan itu akan kembali kepada dirinya sendiri jika orang lain tersebut tidak sebagaimana yang dia tuduhkan.” (HR. Bukhari no. 6045)

Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya, “Wahai kafir!” maka bisa jadi akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” (HR. Bukhari no. 6104)

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ، وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa pun orang yang berkata kepada saudaranya, ‘Wahai kafir’ maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan kekufuran tersebut, apabila sebagaimana yang dia ucapkan. Namun apabila tidak maka ucapan tersebut akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.”

(HR. Muslim no. 60) (silakan simak di:
https://muslim.or.id/50837-bahaya-mengkafirkan-sesama-kaum-muslimin.html ). ]

Adapun menyampaikan peringatan kepada sesama Muslim, bahwa salam oplosan (salam Islam Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh dilanjutkan dengan salam agama Hindu dan agama2 selain Islam) itu bisa mengakibatkan pelakunya jadi murtad, kafir atau musyrik; disertai dalil-dalil yang shahih, maka justru penting untuk disampaikan. Contohnya sebagaimana dilakukan oleh MUI Jawa Timur, menjelaskan masalah bahayanya salam oplosan itu. Silkan simak ini: https://www.nahimunkar.org/mui-jawa-timur-imbau-pejabat-muslim-tidak-ucapkan-salam-lintas-agama/

 

Ketika sebenarnya hanya menjelaskan bahaya-bahaya kemusyrikan, kekafiran, kemurtadan, bid’ah, kesesatan dan aneka penyelewengan aqidah; namun kemudian dituduh sebagai pemecah belah umat dan mengkafir-kafirkan orang, ya silakan. Itu namanya adalah tuduhan yang bisa menjurus ke fitnah.

 

Sebagaimana pembeberan wawasan ini kan bukan mengkafir-kafirkan orang. Ini hanya mengingatkan sesama muslim, agar tahu duduk soal masalah yang sangat harus diperhatikan, agar aqidah keimanan kita selamat, hingga akhir hayat. Jangan sampai terjerumus, apalagi sampai kecemplung ke kemusyrikan yang bisa mengeluarkan dari Islam. Itu sangat celaka, maka harus dihindari. Maka harus diberi tahu. Walaupun yang memberitahu justru dituduh memecah belah umat, dituduh mengkafir-kafirkan orang dan sebagainya; itu sekadar resiko belaka. Tidak apa-apa.

 

Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu!

 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 625 kali, 1 untuk hari ini)