Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan 2,000 hadits lebih, yang sebutkan lafal Humairo’ hanya satu riwayat

 

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu anha, meriwayatkan hadits dari Nabi lebih dari 2,000 hadits… Dari riwayat sebanyak itu, hanya ada satu riwayat shohih yg menyebutkan kata “humairo”!

Silakan simak ini.

***

.:: Hormati ibumu dengan selayaknya!

 

Saat ini -mungkin- banyak muslimah di negeri kita jika ditanya, “apa yg terbesit dibenak anda ketika disebut nama istri Nabi, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha?”, mereka akan menjawab, “humairo’ atau wanita cantik berkulit putih kemerah-merahan.”

 

Mari kita simak penjelasan para ulama berikut:

 

Berkata Al-Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah:

 

وكل حديث فيه ” يا حميراء ” أو ذكر الحميراء فهو كذب مختلق

 

“Semua hadits yg menyebutkan kata “wahai Humairo'” atau “humairo”, maka itu adalah hadits palsu!” Al-Manarul Munif, hal. 50.

 

Berkata Imam Al-Mizzi rahimahullah:

 

وكل حديث فيه يا حميراء فهو موضوع إلا حديثا عند النسائي

 

“Setiap hadits yg menyebutkan kata “wahai humairo'” adalah hadits palsu, kecuali satu hadits yg diriwayatkan oleh imam An-Nasa’i” Lihat: Al-Mashnu’ karya Imam Al-Harowi, hal. 212.

 

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah:

 

وفي رواية النسائي من طريق أبي سلمة عنها دخل الحبشة يلعبون فقال لي النبي -صلى الله عليه وسلم- : ( يا حميراء أتحبين أن تنظري إليهم ) فقلت : نعم . إسناده صحيح ولم أر في حديث صحيح ذكر الحميراء إلا في هذا

 

“Disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari jalur Abu Salamah dari ‘Aisyah, “beberapa budak habasyah bermain² di teras masjid… Kemudian Nabi berkata kepadaku, “wahai humairo’, apakah kamu senang menonton mereka?” Aku menjawab, “iya.”

 

Sanad hadits ini shohih dan aku tidak mendapati hadits lain yg shohih yg menyebutkan kata “humairo” selain hadits ini saja.” Fathul Baari.

 

Selain yg saya nukilkan diatas, masih ada perkataan ulama dan ahli hadits lain yg semakna dengannya.

 

Coba direnungkan…

 

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu anha, meriwayatkan hadits dari Nabi lebih dari 2,000 hadits… Dari riwayat sebanyak itu, hanya ada satu riwayat shohih yg menyebutkan kata “humairo”!

 

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu anha, hidup berumah tangga bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selama lebih kurang lebih 10 tahun. Dan hanya satu kali dinukil secara shohih beliau memanggil istrinya dengan sebutan Humairo’!

 

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu anha, dikenal dikalangan kaum muslimin sejak dahulu kala dengan ilmu dan ketakwaannya. Dan tidak ada ulama dari kalangan sahabat hingga sekarang yg dengan lancang menggambarkan kecantikan fisik ‘Aisyah sebagai keutamaannya!

 

Riwayat yg menyebutkan kata humairo’ ternyata ada banyak, namun semuanya hadits palsu kecuali hanya satu hadits saja! Artinya ada banyak para pendusta yg ingin memopulerkan gelar Humairo atas ibunda kita ‘Aisyah!

 

‘Aisyah adalah ibunda kita… Ibunda kaum mu’minin… Istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam… Mari kita hormati beliau dengan selayaknya… Sebagaimana kita tidak rela jika ada orang lain menggambarkan dan membicarakan kecantikan fisik istri kita dihadapan khalayak ramai, maka tidak sepantasnya kita memperlakukan hal itu terhadap istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

 

Meneladani ‘Aisyah adalah dengan meniru semangatnya dalam belajar, beramal dan berdakwah!

 

Barokallah fiekum.

 

Jonggol, 6 April 2020

Akhukum,

 

Aminullah Yasin

Via fb

 

أبو العباس أمين الله

23 jam ·

***

Di antara hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha adalah tentang wabah penyakit tha’un


Ilustrasi/ foto wikipedia

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa beliau pernah bertanya pada Rasulullah mengenai wabah penyakit atau tho’un. Rasulullah saw. memberi isyarat demikian:


أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ» تَابَعَهُ النَّضْرُ، عَنْ دَاوُدَ



Artinya:



(tho’un) itu azab yang Allah timpakan pada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya rahmat bagi mukminin. Tidaklah seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di daerah tersebut dalam keadaan bersabar, meyakini bahwa tidak ada musibah kecuali atas takdir yang Allah tetapkan, kecuali ia mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid. Hadis ini diperkuat riwayat al-Nadhr dari Daud (HR Bukhari). (Tafsir Surah Yasin Ayat 18-19: Mengaitkan Musibah dengan Kesialan Bukan Ajaran Islam)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wabah penyakit yang menyebar di suatu daerah itu pada dasarnya merupakan azab bagi orang-orang yang tak beriman. Selain itu, pelaku dosa besar juga termasuk azab baginya bila terjadi suatu wabah penyakit yang menimpanya. Namun, ini merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pasalnya, orang beriman akan diberikan pahala setara orang yang mati syahid.

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar yang berpesan, “Wabah penyakit itu di antaranya disebabkan kemaksiatan yang merajalela” (HR Ibnu Majah)*. Dalam riwayat lain disebutkan dengan redaksi demikian,

شعب الإيمان (5/ 22)



لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بها إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ

“Kemaksiatan tidak akan tampak di suatu masyarakat sama sekali, sampai mereka sudah terang-terangan melakukan kemaksiatan itu, maka menimpa mereka wabah penyakit dan kelaparan yang tidak pernah terjadi sebelumnya” (HR Baihaqi).

*[tambahan dari redaksi NM: Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallah anhuma menyampaikan sabda Rasulullah,



لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا


“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibn Majah no. 3262), red NM].

Apakah orang yang mukmin atau muslim yang terdampak dari kemaksiatan yang menyebar di suatu daerah itu termasuk yang mendapatkan pahala mati syahid? Jawabannya iya. Ini adalah bentuk rahmat Allah untuk umat Nabi Muhammad yang beriman.


Namun, sebagaimana hadis di atas, orang yang mendapatkan pahala setara orang yang mati syahid itu harus bersabar, tidak mengeluh, dan pasrah pada ketentuan Allah saat wabah penyakit tersebut menimpanya.

Menurut Imam Ibnu Hajar terdapat tiga gambaran mengenai orang yang terkena wabah penyakit ini berkaitan dengan pahala mati syahid. Pertama, orang yang terkena wabah penyakit, kemudian dia meninggal itu otomatis tergolong mati syahid. Kedua, orang yang terkena wabah penyakit, namun tidak sampai meninggal, ia mendapatkan pahala setara orang mati syahid. Ketiga, orang yang di daerahnya tidak terdapat wabah penyakit, namun ia tertular wabah penyakit dari orang lain, ini pun bila meninggal akan mendapatkan pahala mati syahid. Wallahu a’lam bis shawab.

Penulis  Ibnu Kharish dalam judul ‘Pahala Orang Mukmin yang Sabar Menghadapi Wabah Penyakit’ (Kajian Hadis Shahih Bukhari Nomor 5734)


 BincangSyariah.Com – 28 Januari 2020

https://www.nahimunkar.org/astaghfirullah-acara-pernikahan-berakhir-petaka-37-tamu-undangan-positif-corona-bagaimana-kondisi-pengantin-baru/

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 384 kali, 1 untuk hari ini)