.

 

  • Keyakinan batil dipelihara, berumrah pun menggunting Kain Kiswah

Para ulama dan pemuka Agama tertama yang tergabung dalam kelompok  pembela TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat) hedaknya sadar dan bertaubat lalu memberantas keyakinan batil itu. Peristiwa memalukan, jamaah Umrah Indonesia menggunting kain Ka’bah untuk jimat atau aji-aji “penyembuh” dari sakit dan semacamnya itu jelas-jelas batil dan wajib diberantas. Bukan malah dpertahankan.

Selama ini karena masyarakat melihat bahwa banyak orang yang melakukan keyakinan TBC bahkan ada wadah plus para pemuka yang mempertahankannya, maka dianggapnya wajar-wajar saja.

Kalau boleh diqiyaskan dengan kusir dokar dan kudanya, umat Islam awam itu hanya bagai kuda, sedang para pemuka lebih-lebih di wadah pembela TBC itu kusirnya. Ketika orang awam ternyata melakukan hal-hal batil, maka seharusnya yang lebih dimintai tanggung jawab adalah para kusir di negeri ini. Kenapa TBC selalu dipertahankan bahkan terkesan dibela.

Lebih dari itu, para penguasa daerah, terutama sejak berlakunya apa yang disebut otonomi daerah tampak nyata di mana-mana menyuburkan keyakinan-keyakinan batil bahkan kemusyrikan atas nama melestarikan budaya adat. Entah itu namanya larung sesaji, labuh  sesajen, larung laut, sedekah bumi dan sebagainya berupa keyakinan batil bahkan kemusyrikan (dosa paling besar, pelakunya haram masuk surga bila sampai meninggal belum bertaubat) digencarkan di mana-mana hingga merusak iman Umat Islam. Para pemuka Islam tidak mampu berbuat apa-apa karena di antara wadah yang bukan milik pemerintah juga ada yang pro atau oke-oke saja terhadap penyakit aqidah berupa TBC bahkan kemusyrikan itu. Apalagi sekarang apa yang disebut ormas-ormas Islam, yang besar-besar pun di antara petingginya justru para pembela kesesatan dan beraqidah liberal, yaitu aqidah yang telah diharamkan leh MUI. Sehingga Islam makin tergerus, walau umatnya masih Islam namun keyakinanya dirusak. Lihat artikel NU Dipimpin Pasangan Liberal 

Para kusir yang resmi maupun non formal itulah seharusnya yang mesti dituntut atas rusaknya aqidah Umat Islam ini. Dan wadah yang telah terkontaminasi atau memang didirikannya untuk memeprtahankan keyakinan batil hendaknya dihindari oleh Umat Islam. Karena setiap jiwa mesti mempertanggung jawabkan perbuatan masing-masing. Jangan sampai menyesal, dan kemudian hanya bertengkar di neraka kelak antara pemimpin yang menyesatkan dengan orang-orang yang disesatkan. Kalau sampai penyesatannya itu mengeluarkan dari Islam maka telah Allah firmankan :

{ يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (67) رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا } [الأحزاب: 66 – 68]

66. pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”.

67. dan mereka berkata;:”Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).

68. Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (QS Al-Ahzab/33 : 66-68).

Oleh karena itu mari kita hindari siapapun dan wadah apapun yang membawa keyakinan batil atu mempertahankannya.

Adapun tentang jamaah umrah dari Indonesia sampai menggunting kain penutup Ka’bah alias Kiswah, maka berita berikut ini bisa kita simak.

Untuk apa menggunting kain Ka’bah?

Inilah jawaban tentang Heboh tertangkapnya Nur Jannah binti Amiin (56), jamaah umrah asal Sulawesi Selatan menggunting kain kiswah Ka’bah. Untuk apa dia menggunting kain Ka’bah itu ?

Seperti diberitakan Okezone, Kasus pengguntingan kain kiswah Ka’bah suci itu terjadi pada Kamis 27 Februari 2014. Kepolisian Khusus Masjidil Haram (Al Maktab As Surtah Al Masjidil Haram) lalu, melaporkan bahwa jajarannya menangkap jamaah umrah asal Sulawesi Selatan itu.

Setelah menjalani proses penyelidikan, WNI itu pun dibebaskan. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah melakukan pendekatan dengan Kantor Badan Investigasi dan Penuntut Hukum Makkah untuk membebaskan tersangka dari tuntutan dan proses hukum.

Pada Selasa, 4 Maret 2014 Tim KJRI mendampingi Nur Jannah di Kantor Badan Investigasi dan Penuntut Umum Mekkah. Dalam pemeriksaan, Nur Jannah mengungkapkan alasannya menggunting kain Kakbah.

“Nur Jannah mengemukakan bahwa tindakan menggunting kain kiswah dimaksudkan untuk memperoleh berkah dan kesembuhan cucunya di Indonesia yang saat ini berusia empat tahun, namun masih belum bisa berbicara,” begitu keterangan dari KJRI Jeddah. (trk)/ okzn

(nahimunkar.com)

(Dibaca 280 kali, 1 untuk hari ini)