oleh Salim A. Fillah dalam Rajutan Makna. 02/04/2017

Konon kalau kita menegur orang Solo, akan muncul jawaban yang menarik.

“Kenapa kemarin tidak datang? Lupa?”, begitu misalnya. Dia boleh jadi akan menanggapi dengan, “Wah, ya ndak lupa no… Cuma kemarin itu kok ketepatan Jaguar saya itu bannya ketusuk paku emas yang jatuh dari kotak perhiasannya istri saya. Bocor alus. Wah, ha ya saya jadi ndak bisa berangkat no…”

“Kok tidak ngabari?”

“Ceritanya, kemarin itu pesanan baju-baju Zara, Armani, tas Louis Vuitton, sama sepatu Dolce & Gabbana-nya istri saya itu baru datang dari Paris sama Milan, terus numpuk di ruang tamu. Sudah saya abul-abul, lha kok iPhone baru saya itu ndak ketemu. Ya jangankan ngabari sampeyan no Dik, lha wong mau nelpon taksi saja ndak bisa.”

“Elok tenan Mas. Terus kemarin di rumah saja?”

“Iya Dik. Lha wong Harley-nya dipakai pembantu saya ngantar Sup Sarang Walet ke Bandara, soalnya mau dibawa pakai Jet Pribadi buat Ibu saya yang lagi dirawat di Singapur. Jadi saya ndak bisa ke mana-mana no.”

Ya. Gaya bicara ini namanya ‘Umuk Solo’. Lalu coba perhatikan yang berikut ini, biasanya dari orang Jogja.

“Waduh Mas, kalau mobil saya itu ya hakikatnya cuma gerobak elek je… Pajero tenan itu, panas njobo njero, hehe… Kalau dipakai untuk jemput pejabat tinggi selevel Gubernur DKI ya kurang pantes to? Nanti rasa bersalah saya juga bakalan jadi sesal seumur hidup kalau sampai mogok. Misalnya lho njih, hehe… Dospundi, demi amannya saja lho ini, kalau pakai titihan Nandalem saja Mas? Wah lha itu jian mantep tenan je. Lha wong saya pernah coba tarikannya mak juessss je. Kursinya juga nyusss mendut-mendut. Cocok sekali itu kalau untuk jemput pejabat bahkan selevel Sekjen PBB, gumebyar seperti kereta kencana je. Jian tenan.”

Nah, yang ini namanya glembuk Jogja. Merendahkan diri dan milik sendiri agar terhindar dari resiko, dan memuji-muji orang agar dia atau miliknya yang ‘terkorbankan’. Atau ringkasnya; terlihat mengalah padahal sebenarnya hendak meraih yang lebih besar.

Banyak yang terlanjur menerjemahkan secara negatif kedua istilah ini, seakan umuk adalah semata-mata sombong, dan glembuk adalah semata-mata tipu daya. Sesungguhnya asalnya bukan demikian.

Sesuai hubungan ‘saling menjaga eksistensi’ dengan VOC yang dikembangkan Susuhunan Pakubuwana II di Surakarta, maka “Umuk” awalnya adalah gaya komunikasi untuk mempertahankan kehormatan orang Jawa di tengah pergaulannya dengan bangsa Eropa.

Senyampang itu, di Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwana I meneruskan ‘perlawanan halus’ kepada Belanda. Maka “Glembuk” adalah segala upaya untuk mendayagunakan apapun yang terjangkau demi kelangsungan perjuangan.

Nah, kehebatan Glembuk pernah dipertunjukkan Sultan Hamengkubuwana I kepada keponakannya, Susuhunan Pakubuwana III. Kisahnya adalah tentang pembagian tata busana dan perangkat-perangkat tradisi Mataram seusai berpisahnya kedua Keraton. Adalah Hamengkubuwana I yang memang pandai merancang berbagai hal, telah membuat sebuah tata adi busana yang cantik. Maka bertanyalah dia, “Ananda Susuhunan, tentang busana khas, apakah Surakarta telah memiliki rencana?”

“Belum, Pamanda. Sungguh adi busana yang Pamanda bawa itu bagus sekali.”

“Apakah Ananda menghendakinya? Ah, saya tentu bangga sekali jika Ananda berkenan menjadikan rancangan tak berharga saya ini sebagai busana Keraton Surakarta”, senyum Sang Sultan manis sekali.

“Ah ya! Saya suka sekali! Tapi bagaimana dengan Yogyakarta, Pamanda?”

“Ah, tidak mengapa Ananda. Tidak mengapa. Jika Ananda tidak keberatan, biarlah Yogyakarta memakai busana Mataraman yang lama saja.”

“Tentu Pamanda. Terimakasih sekali Pamanda.”

Bisa kita baca ya? Sebenarnya Sultan Hamengkubuwana I sejak awal memang menginginkan busana Mataraman gaya lama diambil Yogyakarta demi legitimasinya sebagai pewaris sah Kesultanan Mataram. Untuk maksud itu, beliau mencipta lebih dahulu busana alternatif yang membuat Surakarta terpikat. Glembuk!

Sumber : salimafillah.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 546 kali, 4 untuk hari ini)