Cah Angon_84327623842

Ilustrasi: penggembala/ almimbar.org

Gaya cah angon (penggembala) kadang dibawa-bawa sampai menjadi orang terkemuka sekalipun. Biasanya cah angon suka umuk-umukan, bicara saling menimpali, main tinggi-tinggian. Kadang hanya gedebus belaka alias bualan. Misalnya:

Yang satu bilang: tadi malam saya melihat hantu, tingginya 3 meter. Serem sekali.

Yang lain bilang, kemarin malam saya malah melihat yang lerbih tinggi lagi, 3,5 meter, dan sangat serem sekali.

Begitulah seterusnya, kadang yang satu belum selesai cerita, yang lain sudah menyahut dengan lebih hebat lagi ceritanya.

***

Umuk-umukan gaya cah angon itu kadang disalah gunakan. Entah anecdote atau kejadian sungguhan, wallahu a’lam. Seperti berikut ini.

Dialog pedagang dan pembeli mangga.

Mangganya manis, Pak?

Manis, Dik.

Dijamin?

Dijamin.

Kalau ga’ manis boleh dikembalikan?

Boleh.

Kemudian pembeli pun membelinya. Sesampai di rumah, ternyata mangga itu asem, kecut. Maka pembeli kembali untuk mengembalikan mangga yang tidak manis itu.

Bapak bohong. Ini mangga ga’ manis. Sekarang saya kembalikan!

Ya, payah kamu, Dik! Situ baru beli satu kilo saja mau dikembalikan. Lha ini saya beli dua keranjang, tidak saya kembalikan!

Itulah gaya umuk-umukan yang diplesetkan.

Para pembaca yang kami hormati, kalau ada yang jeli, pasti dapat menyimak, mungkin di negeri  ini juga banyak orang-orang yang umuk-umukan seperti cah angon itu. Untuk mengetes kejelian Anda, berita berikut ini akan disamarkan pelakunya.

Coba, Anda dapat menebaknya atau tidak? Silakan membaca.

***

Dihujat delapan tahun

Setelah mendengar keluhan dari sang bupati dan gubernur, DIA kemudian bertanya balik kepada kedua kepala daerah tersebut.? “Nah, waktu itu saya bertanya, Pak bupati, sudah berapa lama jadi bupati? ” tanya DIA.

Kemudian si bupati itu menjawab. “Empat tahun pak. Pak gubernur? Tiga tahun pak,” kata DIA saat menceritakan jawaban sang bupati dan gubernur.

“Nah begini. Pak bupati dikritik, dihujat, disalahkan oleh masyarakat di kabupaten ini dalam waktu tiga tahun. Pak gubernur, bapak dikritik, disalahkan, dihujat oleh provinsi itu selama tiga tahun. Nah saya : yang nyalahkan, yang menghujat seluruh rakyat Indonesia, dan sudah lebih dari 8 tahun,” ujar DIA.

Karena itu, DIA berharap kepala daerah kuat menerima kritikan dan hujatan. “Kalau saya kuat, bapak-bapak harus kuat. Yang penting di sininya berikhtiar,” kata DIA. (sumber asalnya, sebelum disamarkan, berita dari mrdkcom).

***

Kalau Anda mengerti siapa Dia itu, berarti Anda jeli.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 359 kali, 1 untuk hari ini)