Untuk Muslim yang Telah Meninggal Sebutlah “Rahimahullah”, Bukan Mengucapkan “Almarhum”

 

Bismillahirrahmanirrahim

Al Quran telah mengajarkan kita bahwa tidak ada yang tahu perkara gaib di langit dan di bumi kecuali Allah,dan alam kubur adalah salah satu perkara yang gaib. Tidak ada seorangpun manusia ataupun jin yang tahu tentang nasib seseorang di alam kubur apakah selamat atau celaka kecuali Allah, dan perkara-perkara gaib itu hanya diberitahukan kepada yang dikehendaki Allah,yaitu Nabi atau Rasul.

Oleh karena itu, Islam hanya mensyariatkan umatnya untuk mendoakan atau melakukan amalan yang bisa membantu orang yang telah mati dengan amalan-amalan yang disyariatkan Rasulullah. Tidak seorangpun boleh menebak-nebak atau menetapkan bahwa seseorang yang telah terkubur adalah selamat ataupun celaka. Yang menetapkan itu hanyalah hak Allah,dan kita tidak boleh menyaingi Allah dalam perkara yang gaib.

Karena yang disyariatkan adalah mendoakan orang yang telah mati maka yang boleh diucapkan adalah Rahimahullah (semoga Allah merahmatinya), bukan dengan mengucapkan Almarhum (Orang yang dirahmati Allah). Janganlah ikut-ikutan pada orang banyak mengucapkan Almarhum, tetapi biasakanlah diri berdoa dengan mengucapkan Rahimahullah, semoga dengan doa kita itu Allah berkenan merahmati keluarga atau teman kita yang telah mati. Sungguh berat merubah suatu kebiasaan,apalagi kebiasaan orang banyak, tetapi kalau kita berusaha dan mengingat dosanya menetapkan perkara gaib yang tidak kita ketahui maka lama kelamaan kita pasti bisa.



Via fb

Elsah As Sunnah

14 jam – 29Abu Haekal Sularso dan 28 lainnya

***

Sebut mendiang untuk orang kafir yang telah mati, jangan sebut almarhum ataupun rahimahullah

Untuk orang Muslim yang telah meninggal, agar disebut dengan ucapan rahimahullah (semoga Allah merahmatinya), sekaligus merupakan doa. Untuk orang Muslim yang telah meninggal itu tidak seyogyanya menyebut dengan almarhum atau almarhumah (yang telah dirahmati Allah), karena maknanya berisi menetapkan ‘telah dirahmati Allah’, padahal itu menyangkut hal ghaib. Sedangkan menetapkan hal ghaib itu hanya hak Allah, bukan hak makhluk.

Adapun untuk orang kafir lebih2 lagi jangan disebut almarhum atau almarhumah (yang telah dirahmati Allah), tapi sebut saja mendiang (orang yang sudah mati).

Dan juga jangan mengucapkan rahimahullah pada orang kafir yang telah meninggal, karena berisi doa, sedangkan mendoakan orang kafir yang telah meninggal itu dilarang, walau masih ada hubungan keluarga.

Haram mendoakan agar dosa mereka diampuni, setelah mereka mati dalam keadaan kafir.

Para ulama telah sepakat (Ijma’) bahwa hal ini diharamkan:

قال النووي رحمه الله : وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع

Imam Nawawi -rohimahulloh- mengatakan: “Adapun menyolati orang kafir, dan mendoakan agar diampuni dosanya, maka ini merupakan perbuatan haram, berdasarkan nash Alqur’an dan Ijma’. (al-Majmu’ 5/120).

وقال ابن تيمية رحمه الله: إن الاستغفار للكفار لا يجوز بالكتاب والسنَّة والإجماع

Ibnu Taimiyah -rohimahulloh- juga mengatakan: Sesungguhnya memintakan maghfiroh untuk orang-orang kafir tidak dibolehkan, berdasarkan Alqur’an, Hadits, dan Ijma’. (Majmu’ul Fatawa 12/489)

Dan dalil paling tegas dalam masalah ini adalah firman Allah ta’ala:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim. (at-Taubah: 113)


Read more https://konsultasisyariah.com/20988-hukum-mendoakan-orang-kafir.html

***

Adapun untuk orang yang masa hidupnya mengaku Islam tapi sepak terjang dan kelakuannya memusuhi Islam, membenci Islam, memojokkan Islam dan semacamnya; maka bila orang itu mati, lebih amannya kalau mau menyebutnya ya dengan sebutan mendiang saja. Bila kelakuannya bertentangan dengan Islam atau merusak aqidah Islam, misalnya mempelopori salam oplosan, mengucapkan assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh namun disambung dengan salam-salam agama kemusyrikan atau kekafiran, padahal sudah berkali-kali diingatkan bahwa itu merusak aqidah Islam, namun ngeyel, maka bila mati ya tentunya menjadikan keraguan. Perlu didoakan atau tidak. Ketika tidak mendoakannya, insyaAllah tidak ada pertanyaan (kenapa tidak mendoakannya). Tapi bila mendoakannya justru dikenai pertanyaan: Kenapa kamu mendoakannya.

(nahimunkar.org)



 

(Dibaca 1.989 kali, 2 untuk hari ini)