• Pengemis Tajir, 15 Hari Raup Rp25 Juta!
  • Dalil-dalil Haramnya Mengemis

Inilah beritanya.

***

Rabu, 27/11/2013 18:29 WIB

Punya Ternak Kambing, Apa Alasan Walang Tetap Mengemis di Jakarta?

Niken Widya Yunita – detikNews

 

Walang mengaku mengemis untuk modal tambahan naik haji. Pria yang terkenal di kampungnya dengan sebutan “Haji Walang” ini sudah mendaftar haji di Subang Jawa Barat.

Namun dia sebenarnya belum pernah naik haji. Saat ini Walang dan Sa’aran ditampung di Panti Sosial Bina Insan, Cipayung, Jakarta Timur. Uang Rp 25 juta yang dikumpulkannya sementara ‘disita’ oleh petugas dan uang itu akan dikembalikan jika dia dipulangkan ke kampung.

Walang bin Kilon (54) punya ternak kambing di kampungnya di Subang, Jawa Barat. Lalu apa alasan Walang tetap mengemis di Jakarta?

“Kan lebih menjanjikan mengemis,” ujar Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan Miftahul Huda kepada detikcom, Rabu (27/11/2013).

Walang dan rekannya, Sa’aran (60), ditangkap petugas Sudin Sosial Jaksel pada Selasa (26/11/2013) dengan uang Rp 25 juta. Menurut Miftahul, saat ditangkap, Walang mengaku uang tersebut berasal dari mengemis, bukan dari ternak kambing.

“Iya (uang Rp 25 juta dari hasil mengemis, bukan ternak kambing),” kata Miftahul.

Modus Walang mengemis dengan mendorong gerobak. Sedangkan Sa’aran berada di gerobak dan mengaku sakit. Keduanya beroperasi di pinggir jalan di Jakarta pada malam hari.

Keduanya kucing-kucingan dengan petugas Dinas Sosial yang rajin merazia gelandangan dan pengemis. (nik/nrl)/detikcom

 *** 

Pengemis Tajir, 15 Hari Raup Rp25 Juta!

Kamis, 28 November 2013 | 02:31 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Usai sudah petualangan Walang bin Kilon (54) dan rekannya Sa’aran (60). Aksi tipu-tipunya sebagai tunawisma, kini harus berakhir. Mereka pun dijebloskan ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya II, Cipayung, Jakarta Timur.

Kedua pria renta yang berdomisili di Subang, Jawa Barat tersebut, diamankan petugas Suku Dinas Sosial Pemerintah Kota Jakarta Selatan pada Selasa (26/11) malam. Ketika itu, keduanya tengah berada di bawah jembatan layang Pancoran, Jaksel.

Sesaat setelah diciduk, Walang pun berbagi cerita dengan Media Indonesia. Dia mengaku nekat mengadu nasib di Jakarta karena terbentur persoalan, kurangnya dana untuk naik haji. Dia lalu memutuskan berangkat ke Ibu Kota untuk berpura-pura sebagai tunawisma.

“Saya sudah daftar haji sama Pak Haji Nanang di kampung. Kemarin 15 hari lalu baru ke Jakarta lagi. Jadi uang itu ya untuk tambahan setor haji,” ucap Walang.

Berbekal sebuah gerobak usang, modus sebagai pengemis sakit pun mulai dilakoni. Walang bertugas mendorong gerobak. Sementara Sa’aran yang berpura-pura sekarat dan butuh pengobatan. Sa’aran mengambil posisi duduk di gerobak ketika sedang ‘berakting’.

Saat gerobak digeledah, petugas tercengang dengan temuan beberapa plastik hitam lusuh berisi uang tunai senilai Rp25.448.600. Keduanya mengaku puluhan juta itu merupakan hasil mengemis selama 15 hari.

Dengan nada memelas, Walang melanjutkan kisahnya. Selama berada di perantauan, dia tidak memiliki tempat tinggal tetap. Gerobak dijadikan rumah berjalan untuk berlindung dari terik matahari maupun hujan. Mereka sengaja beraksi pada malam hari agar tidak diketahui oleh petugas.

“Tidak ada kontrakan, ya tidur di jalan atau pinggir toko. Kalau uang sudah banyak kita pulang kampung dulu,” kata Walang. “Habis mau tinggal dimana lagi?” imbuhnya lirih.

Kandasnya petualangan kedua pria tersebut berawal dari laporan warga. Informasi itu mengabarkan keberadaan dua orang penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang berkeliaran dengan gerobak pada malam hari di Jalan Gatot Subroto dan Jalan MT Haryono.

“Ini berdasarkan laporan warga, kita sudah intai dua hari karena mereka beroperasi hanya malam. Dan kita tangkap dibawah jalan layang Pancoran,” kata Kepala Seksi Rehabilitasi Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda, Rabu (27/11).

Apapun alasannya, mengais rejeki dengan cara mengemis adalah langkah yang salah. Terlebih di Jakarta, sudah ada larangan untuk hal tersebut. Walang dan Sa’aran kini ditempatkan di panti sosial untuk mendapat pembinaan. (Golda Eksa/Arif Hulwan) Editor: Rita Ayuningtyas

***

Dalil-dalil Haramnya Mengemis

Di antara dalil-dalil syar’i yang menunjukkan haramnya mengemis dan meminta-minta sumbangan, dan bahkan ini termasuk dosa besar adalah sebagimana berikut:

  1. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.” [3]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu, ia berkata: Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

Barangsiapa meminta-minta harta kepada manusia untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya dia hanyalah  sedang  meminta  bara  api. Terserah padanya apakah ia mengumpulkan sedikit saja atau akan memperbanyaknya.” [4]

  1. Diriwayatkan dari Hubsyi bin Junaadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ

Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api.” [5]

Demikianlah beberapa dalil dari hadits-hadits Nabi yang mengharamkan mengemis atau meminta-minta sumbangan untuk kepentinagn pribadi atau keluarga.

_____________________

[3] ) Shohih. HR. Bukhari no. 1474, dan Muslim no. 1040.

[4] ) Shohih. HR. Muslim II/720 no.1041, Ibnu Majah I/589 no. 1838, dan Ahmad II/231 no.7163.

[5] ) HR. Ahmad IV/165 no.17543, Ibnu Khuzaimah IV/100 no.2446, dan Ath-Thabrani IV/15 no.3506.

http://abufawaz.wordpress.com/2012/05/26/hukum-mengemis-dan-meminta-sumbangan-dalam-pandangan-islam/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.016 kali, 1 untuk hari ini)