Jakarta (SI Online) – Arya Wedakarna, anak muda asal Bali kembali membuat sensasi. Pada 7 Agustus 2014 lalu melalui akun facebooknya, mantan model dan cover boy majalah ANEKA itu menulis status yang menyatakan penolakannya terhadap perbankan syariah di Bali.

“Aliansi Hindu Muda Indonesia dan Gerakan Pemuda Marhaen (GPM) hari ini berdemonstrasi di depan Kantor Bank Indonesia Denpasar untuk moratorium/stop izin Bank Syariah di pulau seribu pura. Bersuaralah anak anak muda Hindu. Pertahankan ekonomi Pancasila ! Lanjutkan !!!”, tulis Presiden World Hindu Youth Organisation (WHYO) itu.

Tingkah polah lelaki berusia 34 tahun ini, bagi advokat senior yang kini menjadi salah satu petinggi Front Pembela Islam (FPI) Munarman, SH., bukan hal yang luar biasa. Munarman mengaku punya pengalaman menghadapi ulah Arya Wedakarna ini.

Adalah musisi tenar Indonesia, Iwal Fals, pada 2004 lalu mengeluarkan album berjudul “Manusia Setengah Dewa”. Bukan liriknya, sampul album itu menuai protes dari Forum Intelektual Muda Hindu Dharma (FIMHD) yang diketuai Arya Wedakarna. Saat itu Arya menganggap sampul kaset album terbaru Iwan itu melecehkan simbol agama Hindu, yakni Dewa Wisnu.

Arya pun menunjuk dua pengacara untuk mempersoalkan Iwan Fals, Victor Nababan dan Gusti Randa. Sementara Iwan Fals saat itu meminta bantuan YLBHI yang saat itu masih dipimpin Munarman. “Mereka laporkan Iwan ke polisi,” kata Munarman saat berbincang di kantor SI Online, kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Senin malam lalu (18/8/2014).

Untuk menyelesaikan persoalan ini, lalu terjadilah pertemuan antardua kubu ini di sebuah hotel di Jakarta. Terungkaplah dalam pertemuan itu bila motif utama pelaporan Iwan Fals itu adalah untuk menyasar perusahaan rekamannya, bukan Iwan Fals-nya semata. Bila album itu ditarik, tentu perusahaan rekaman akan merugi. Nah agar tidak ditarik dan merugi, tentu perusahaan rekaman harus meminta maaf dan membayar sejumlah uang kepada Arya.

Munarman mengatakan kepada dua pengacara itu. Bila yang mereka cari adalah ketenaran atas kasus tersebut, pasti tak akan didapatkan. Sebab tokoh sentral dalam kasus ini adalah Iwan Fals dan pengacara yang ditunjuk Iwan adalah Munarman.

“Wartawan akan ngejar Iwan Fals dan Iwan akan menunjuk saya untuk berbicara. Maka yang akan dapat panggung kan saya,” kata Munarman kepada pengacara Arya.

Singkat cerita, kata Munarman, kasus pelaporan Iwan Fals itu berhenti sendiri.

Dari kasus yang pernah ditanganinya, Munarman berkesimpulan bila motif utama Arya membuat ribut dengan menolak kehadiran bank syariah di Bali adalah persoalan uang. Karena itu terlihat bila sasaran tembak Arya adalah perusahaan-perusahaan besar seperti Bank Syariah, Hypermart dan Jasa Marga. Untuk Hypermart dan Jasa Marga disasar melalui isu jilbab.

“Itu motifnya duit. Makanya sasarannya Hypermart, Jasa Marga, Bank Syariah. Supaya (perusahaan-perusahaan itu) bayar ke dia. Ini nggak ideologis, tapi dia pakai agama. Sebutlah pemerasan atas nama agama,” ungkapnya.
suara-islam.com edisi rabu, 20/08/2014 19:46:28

(nahimunkar.com)

(Dibaca 852 kali, 1 untuk hari ini)